Kerajaan Larantuka: Sejarah, Wilayah, dan Warisannya di Flores Timur
Kerajaan Larantuka bukan kerajaan berdaulat lagi. Sejarahnya berpusat di Flores Timur, terkait Portugis dan Belanda, serta masih dikenali melalui adat dan Semana Santa di Larantuka.
Oleh Asyinta Sastra
· 2 menit baca
Kerajaan Larantuka adalah kerajaan historis di Larantuka, Flores Timur, yang wilayah pengaruhnya mencakup Flores dan pulau-pulau sekitar. Kerajaan ini dikenal karena hubungan panjang dengan Portugis, tradisi Katolik, serta kesinambungan adatnya. Pemerintah Republik Indonesia mengubahnya menjadi kecamatan pada 1962, sehingga kini bukan kerajaan berdaulat.
Apa yang dimaksud dengan Kerajaan Larantuka?
Kerajaan Larantuka berpusat di Larantuka, wilayah yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Flores Timur. Wikipedia bahasa Indonesia mencatat kerajaan ini berada di Nusa Nipa—nama lokal yang dikaitkan dengan Pulau Flores—dan wilayah kekuasaannya mencapai Adonara.
Catatan sejarah yang dirangkum dalam kajian tentang kewatek Adonara menunjukkan bahwa Kerajaan Larantuka berhubungan dengan jaringan politik Flores Timur, Solor, Adonara, dan wilayah sekitarnya. Karena itu, penyebutan kerajaan ini tidak merujuk hanya pada kota Larantuka masa kini.
Kapan Kerajaan Larantuka berdiri dan berakhir?
Wikipedia bahasa Indonesia menempatkan rentang kerajaan pada 1600–1962. Sumber yang sama mencatat perubahan status menjadi daerah swapraja pada 1946, penyerahan kontrol kepada Republik Indonesia pada 1950, dan perubahan menjadi kecamatan pada 1962.
Perubahan itu berarti lembaga kerajaan tidak lagi memegang kedaulatan pemerintahan. Namun, garis keturunan raja dan keluarga bangsawan tetap muncul dalam kehidupan adat serta perayaan keagamaan Larantuka.
Bagaimana hubungan kerajaan ini dengan Portugis dan Belanda?
Kajian tentang kewatek Adonara menyebut Kerajaan Larantuka bersekutu dengan Portugis pada abad ke-17 hingga abad ke-18 ketika menghadapi VOC dan kekuatan lokal di Solor. Hubungan tersebut ikut menjelaskan kuatnya pengaruh Portugis dan Katolik dalam sejarah Larantuka.
Menurut kajian yang sama, perjanjian Portugal-Belanda yang disetujui pada 20 April 1859 menyerahkan Flores dan Kepulauan Solor-Alor kepada Belanda. Kerajaan Larantuka kemudian menandatangani kontrak dengan pemerintah Hindia Belanda pada 28 Juni 1861, dengan ruang pemerintahan otonom yang masih tersisa.
Mengapa Kerajaan Larantuka masih dibicarakan?
Warisan kerajaan terlihat dalam Semana Santa atau Hari Bae di Larantuka. TribunFlores melaporkan pada 2026 bahwa tradisi mengaji semana dijalankan oleh suku-suku yang tergabung dalam Serikat Confreria Reinha Rosari selama masa Prapaskah untuk menyambut Hari Bae.
Laporan itu mengutip Don Andreas Martinus DVG yang menyebut terdapat 13 suku dalam serikat tersebut. Dengan demikian, Kerajaan Larantuka penting dipahami sebagai sejarah politik sekaligus latar adat dan keagamaan yang masih hidup di Flores Timur.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Hukum
Dua Orang Meninggal dalam Kecelakaan Tunggal di Larantuka
Tiga korban masih dirawat di RSUD Larantuka setelah kecelakaan di Bukit Fatimah, Sandominggo, pada 29 September 2026 sekitar pukul 18.30 WITA. Dua ora…
Paling ramai di Flores

Baca juga





