Lembata Catat Lebih dari 130 Hari Tanpa Hujan
Pemantauan hingga 30 September 2026 mencatat wilayah sekitar Wairiang, Hadakewa, dan Wulandoni di Lembata mengalami lebih dari 130 hari tanpa hujan. Curah hujan awal Oktober diprediksi tetap rendah.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· 2 menit baca
Wairiang — Pemantauan Hari Tanpa Hujan pada Dasarian III September 2026 mencatat wilayah sekitar Wairiang, Hadakewa, dan Wulandoni, Kabupaten Lembata, mengalami lebih dari 130 hari tanpa hujan hingga 30 September 2026.
Mengapa ini penting: Sejumlah titik di Lembata telah mengalami lebih dari 130 hari tanpa hujan dan diprediksi tetap menerima curah hujan rendah pada awal Oktober 2026.
Informasi itu dimuat Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur berdasarkan Informasi Iklim Dasarian NTT yang diperbarui pada 30 September 2026. Dinas tersebut menyebut sebagian besar wilayah NTT mengalami Hari Tanpa Hujan kategori ekstrem panjang, yakni lebih dari 60 hari.
Kondisi kering berlanjut pada awal Oktober
RRI Kupang melaporkan, pemantauan BMKG menunjukkan sejumlah wilayah NTT mengalami Hari Tanpa Hujan ekstrem panjang lebih dari 130 hari. Selain Lembata, kondisi itu tercatat di sejumlah titik Kota Kupang, Ngada, Ende, Sumba Timur, Sikka, Alor, Kabupaten Kupang, dan Belu.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT mencatat curah hujan di NTT secara umum berada pada kategori rendah, 0–50 milimeter per dasarian. Untuk Dasarian I Oktober 2026, sebagian besar wilayah NTT diprediksi tetap mengalami curah hujan 0–50 milimeter per dasarian, dengan peluang 91–100 persen.
Menurut Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT, kondisi tanpa hujan lebih dari 130 hari juga tercatat di sekitar Bakunase dan Oepoi, Kota Kupang, serta Waepana, Kabupaten Ngada, dan Detusoko, Kabupaten Ende.
Prakiraan cuaca
BMKG menyatakan kondisi kering masih mendominasi NTT pada akhir September hingga awal Oktober 2026. Dalam prakiraan cuaca 3–5 Oktober, sejumlah wilayah termasuk Lembata diperkirakan mengalami cuaca cerah berawan hingga berawan.
Data tersebut menggambarkan kekeringan meteorologis, yaitu kondisi yang diukur dari panjangnya periode tanpa hujan dan rendahnya curah hujan. Laporan yang tersedia tidak menyebutkan dampak khusus terhadap pasokan air atau sektor pertanian di titik-titik Lembata tersebut.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Ekonomi
Realisasi APBN NTT Capai Rp22,17 Triliun hingga Agustus
Realisasi APBN regional Nusa Tenggara Timur hingga Agustus 2026 mencakup pendapatan negara dan hibah Rp2,6 triliun serta belanja Rp22,17 triliun. Tran…
Terbaru di Bencana

Baca juga





