NTT Hari Ini

Minggu, 11 Oktober 2026

Mengapa Pertumbuhan Ekonomi NTT 4,88 Persen Belum Cukup

Ekonomi Nusa Tenggara Timur tumbuh 4,88 persen secara tahunan pada triwulan III 2025, tetapi berkontraksi 1,79 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.

Oleh

· Peristiwa: · 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Sebuah keranjang anyaman berisi jagung kering diletakkan di lantai paving samping struktur kayu.
Ilustrasi: Sebuah keranjang anyaman berisi jagung kering diletakkan di lantai paving samping struktur kayu. · Foto: Gundula Vogel / Pexels

Kupang — Ekonomi Nusa Tenggara Timur pada triwulan III 2025 tumbuh 4,88 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama pada 2024, berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur pada 5 November 2025.

Angka tersebut menunjukkan adanya ekspansi ekonomi, tetapi belum cukup untuk membaca perubahan kesejahteraan warga secara menyeluruh. Pertumbuhan tahunan perlu dilihat bersama perubahan antartriwulan, struktur lapangan usaha, serta perkembangan pendapatan dan pekerjaan. Data yang tersedia juga menunjukkan ekonomi Nusa Tenggara Timur mengalami kontraksi 1,79 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.

Secara kumulatif, ekonomi pada triwulan I–III 2025 tumbuh 5,01 persen. Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku tercatat Rp36,97 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp20,45 triliun. Pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi sektor dengan kontribusi terbesar, yakni 27,58 persen.

Mengapa pertumbuhan 4,88 persen penting bagi warga

Pertumbuhan ekonomi tidak otomatis berarti seluruh rumah tangga mengalami perbaikan yang sama. Angka tahunan membandingkan satu triwulan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, sementara kontraksi antartriwulan menunjukkan bahwa laju kegiatan ekonomi dapat melemah dalam jangka lebih pendek.

Bagi warga di Timor, Flores dan Lembata, Sumba, Sabu, Rote, serta Alor, arti pertumbuhan bergantung pada sektor yang berkembang dan dampaknya terhadap pekerjaan, harga, serta pendapatan. Karena itu, angka 4,88 persen sebaiknya dibaca sebagai indikator kinerja ekonomi regional, bukan ukuran tunggal kesejahteraan setiap kabupaten atau pulau.

Data tersebut memberi konteks bahwa ekonomi tumbuh, tetapi momentumnya tidak seragam. Pembacaan berikutnya perlu memperhatikan apakah pertumbuhan berlanjut dan apakah sektor utama mampu memperluas kesempatan kerja serta meningkatkan daya beli rumah tangga.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Ekonomi

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.