NTT Hari Ini

Senin, 28 September 2026

Mengapa Sorgum Dikembangkan sebagai Pangan Lokal NTT?

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT bersama pelaku usaha meninjau sorgum pada September 2026. Pengembangan diarahkan ke pengolahan dan pemasaran.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Suasana lorong pasar ikan tradisional dengan pedagang dan berbagai wadah ikan.
Ilustrasi: Suasana lorong pasar ikan tradisional dengan pedagang dan berbagai wadah ikan. · Foto: Fahry Samalewa / Pexels

Kupang — Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur bersama pelaku usaha meninjau pertanaman sorgum pada September 2026. Peninjauan itu melihat peluang pengembangan komoditas pangan lokal di lahan kering sekaligus memperkuat hubungan antara produksi petani, pengolahan, dan pemasaran hasil.

Sorgum disebut mampu beradaptasi pada kondisi relatif kering. Tanaman ini dapat dimanfaatkan sebagai pangan dan pakan. Bijinya juga berpeluang diolah menjadi beras sorgum, tepung, dan produk pangan bernilai tambah lainnya.

Data Satu Data Nusa Tenggara Timur yang diperbarui pada Maret 2026 mencatat luas panen sorgum pada 2025 sebesar 691,80 hektare. Produksinya mencapai 934,20 ton. Produktivitas tercatat 13,50 kuintal per hektare.

Mengapa pengembangan sorgum penting bagi pembaca NTT

Pengembangan sorgum berkaitan langsung dengan wilayah Nusa Tenggara Timur yang menghadapi kondisi lahan kering. Komoditas yang toleran terhadap kekeringan dapat menjadi salah satu pilihan untuk memperkuat keragaman pangan, terutama ketika ketersediaan air terbatas.

Manfaat ekonomi tidak berhenti pada kegiatan budidaya. Produksi petani perlu terhubung dengan penanganan pascapanen, pengolahan, pengembangan produk, dan akses pasar. Hubungan tersebut menentukan apakah sorgum dapat memberi nilai tambah bagi petani dan pelaku usaha.

Wilayah yang disebut dalam konteks pengembangan sorgum lokal meliputi Sabu, Rote, Sumba, dan sebagian Pulau Timor. Sorgum juga relevan untuk kawasan lain yang memiliki karakter lahan kering, tetapi laporan yang tersedia tidak merinci data produksi per pulau atau per kabupaten.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur bersama pelaku usaha melakukan peninjauan pertanaman pada awal September 2026. Kegiatan tersebut diarahkan untuk menghubungkan petani sebagai produsen bahan baku dengan kebutuhan pengolahan dan pasar.

Penguatan berikutnya mencakup bahan tanam, budidaya, penanganan pascapanen, teknologi pengolahan, serta keterhubungan dengan pelaku usaha. Laporan juga menyebut produk seperti beras sorgum, tepung sorgum, dan cookies berbahan sorgum sebagai contoh hasil pengolahan.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Ekonomi

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.