Mengapa Sorgum Dikembangkan sebagai Pangan Lokal NTT?
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT bersama pelaku usaha meninjau sorgum pada September 2026. Pengembangan diarahkan ke pengolahan dan pemasaran.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· 2 menit baca
Kupang — Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur bersama pelaku usaha meninjau pertanaman sorgum pada September 2026. Peninjauan itu melihat peluang pengembangan komoditas pangan lokal di lahan kering sekaligus memperkuat hubungan antara produksi petani, pengolahan, dan pemasaran hasil.
Sorgum disebut mampu beradaptasi pada kondisi relatif kering. Tanaman ini dapat dimanfaatkan sebagai pangan dan pakan. Bijinya juga berpeluang diolah menjadi beras sorgum, tepung, dan produk pangan bernilai tambah lainnya.
Data Satu Data Nusa Tenggara Timur yang diperbarui pada Maret 2026 mencatat luas panen sorgum pada 2025 sebesar 691,80 hektare. Produksinya mencapai 934,20 ton. Produktivitas tercatat 13,50 kuintal per hektare.
Mengapa pengembangan sorgum penting bagi pembaca NTT
Pengembangan sorgum berkaitan langsung dengan wilayah Nusa Tenggara Timur yang menghadapi kondisi lahan kering. Komoditas yang toleran terhadap kekeringan dapat menjadi salah satu pilihan untuk memperkuat keragaman pangan, terutama ketika ketersediaan air terbatas.
Manfaat ekonomi tidak berhenti pada kegiatan budidaya. Produksi petani perlu terhubung dengan penanganan pascapanen, pengolahan, pengembangan produk, dan akses pasar. Hubungan tersebut menentukan apakah sorgum dapat memberi nilai tambah bagi petani dan pelaku usaha.
Wilayah yang disebut dalam konteks pengembangan sorgum lokal meliputi Sabu, Rote, Sumba, dan sebagian Pulau Timor. Sorgum juga relevan untuk kawasan lain yang memiliki karakter lahan kering, tetapi laporan yang tersedia tidak merinci data produksi per pulau atau per kabupaten.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur bersama pelaku usaha melakukan peninjauan pertanaman pada awal September 2026. Kegiatan tersebut diarahkan untuk menghubungkan petani sebagai produsen bahan baku dengan kebutuhan pengolahan dan pasar.
Penguatan berikutnya mencakup bahan tanam, budidaya, penanganan pascapanen, teknologi pengolahan, serta keterhubungan dengan pelaku usaha. Laporan juga menyebut produk seperti beras sorgum, tepung sorgum, dan cookies berbahan sorgum sebagai contoh hasil pengolahan.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Kepulauan
Pertamina Perpanjang Registrasi Pertamuda hingga 27 September
PT Pertamina memperpanjang pendaftaran Pertamuda Seed and Scale 2026 sampai 27 September 2026. Mahasiswa dapat mendaftarkan ide inovasinya melalui lam…
Terbaru di Ekonomi

Berita utama hari ini

Baca juga





