Rumah Adat Flores: Mengenal Mbaru Niang di Wae Rebo
Mbaru Niang di Wae Rebo, Manggarai, menjadi contoh rumah adat Flores yang paling dikenal. Bentuk kerucut dan lima tingkatnya menyimpan fungsi hunian, pangan, benih, serta ritual leluhur.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Rumah adat Flores yang paling dikenal ialah Mbaru Niang di Wae Rebo, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Rumah ini berbentuk kerucut, beratap alang-alang atau lontar hingga mendekati tanah, dan memiliki lima tingkat dengan fungsi berbeda, dari ruang tinggal sampai tempat persembahan leluhur.
Di mana rumah adat Flores yang paling dikenal?
Mbaru Niang berada di Kampung Adat Wae Rebo, Desa Satar Lenda, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, di Flores bagian barat. Informasi pemerintah melalui Indonesia Travel menyebut Wae Rebo memiliki tujuh rumah utama dan berada sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut (Indonesia Travel, 2026).
RRI menempatkan Wae Rebo di sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut dan menyebut setiap rumah dapat dihuni tujuh sampai delapan keluarga (RRI, 2026). Perbedaan angka ketinggian itu berasal dari dua sumber yang menggunakan keterangan berbeda; keduanya mengidentifikasi lokasi yang sama.
Seperti apa bentuk dan susunan Mbaru Niang?
Mbaru Niang merupakan bangunan tinggi berbentuk kerucut. Atapnya menutup hampir seluruh badan rumah dan menggunakan bahan tradisional seperti daun lontar atau alang-alang, sedangkan konstruksinya mempertahankan pengetahuan bangunan masyarakat setempat.
Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Mbaru Niang memiliki lima tingkat dan tinggi sekitar 15 meter (Kemdikbud, 2024). Indonesia Travel menjelaskan pembagian ruangnya: tingkat pertama untuk tempat tinggal, tingkat kedua untuk menyimpan makanan dan barang, tingkat ketiga untuk benih, tingkat keempat untuk cadangan pangan, dan tingkat kelima untuk persembahan leluhur (Indonesia Travel, 2026).
Apa fungsi tiap tingkat rumah?
- Lutur atau tenda: ruang hidup keluarga.
- Lobo: tempat menyimpan makanan dan barang.
- Lentar: tempat menyimpan benih.
- Lempa rae: ruang persediaan makanan ketika hasil panen kurang.
- Hekang kode: ruang paling sakral untuk persembahan kepada leluhur.
Pembagian itu menunjukkan bahwa Mbaru Niang bukan hanya tempat tinggal. Bentuk rumah menyatukan kebutuhan keluarga, penyimpanan pangan dan benih, serta praktik kepercayaan masyarakat Wae Rebo.
Mengapa Mbaru Niang mendapat pengakuan UNESCO?
UNESCO memberikan Award of Excellence dalam UNESCO Asia-Pacific Heritage Awards 2012 untuk proyek pembangunan kembali Mbaru Niang di Wae Rebo. Dokumen UNESCO menyebut proyek itu menghidupkan kembali tujuh struktur rumah dengan metode bangunan tradisional melalui kerja sama warga dan arsitek (UNESCO, 2023).
Pengakuan tersebut berkaitan dengan pelestarian nilai bendawi dan takbenda, bukan penetapan seluruh Flores sebagai satu kawasan warisan dunia. Karena itu, istilah rumah adat Flores merujuk pada beragam tradisi di pulau ini, sedangkan Mbaru Niang adalah contoh khas dari Manggarai.
Apakah Mbaru Niang sama dengan rumah gendang?
Tidak. Mbaru Niang adalah rumah kerucut khas Wae Rebo dengan lima tingkat, sementara mbaru gendang merupakan bangunan adat Manggarai dengan bentuk dan fungsi komunal yang berbeda. Sumber Kemdikbud secara khusus mengidentifikasi Mbaru Niang sebagai rumah adat di Kabupaten Manggarai, Flores (Kemdikbud, 2024).
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Ekonomi
Expo Flobamorata Dorong Pemulihan Ekonomi Flores
Flobamorata Creative Expo 2026 berlangsung di Lippo Plaza Kota Kupang pada 2–4 Oktober. Gubernur NTT mengarahkannya untuk membantu pemulihan ekonomi F…
Paling ramai di Flores

Berita utama hari ini

Baca juga


