NTT Hari Ini

Jumat, 2 Oktober 2026

Sebagian Wilayah NTT Masih Mengalami Hari Tanpa Hujan Ekstrem

BMKG melaporkan sebagian besar wilayah NTT masih mengalami hari tanpa hujan ekstrem hingga akhir September 2026. Sebanyak 27 dari 28 zona musim diprakirakan baru memasuki musim hujan pada Desember.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Permukaan tanah yang kering dan retak-retak akibat kekeringan.
Ilustrasi: Permukaan tanah yang kering dan retak-retak akibat kekeringan. · Foto: Davide Negro / Pexels

Kupang — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika melaporkan sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Timur masih mengalami hari tanpa hujan kategori ekstrem panjang hingga Rabu, 30 September 2026. Sejumlah lokasi mencatat lebih dari 130 hari berturut-turut tanpa hujan signifikan.

Mengapa ini penting: Warga di sejumlah wilayah NTT menghadapi periode kering yang lebih panjang karena 27 dari 28 zona musim diprakirakan baru memasuki musim hujan pada Desember 2026.

Menurut Kepala Stasiun Klimatologi Kupang Rahmattulloh Adji, kondisi itu terpantau dalam pemantauan Hari Tanpa Hujan dasarian ketiga September 2026. Wilayah dengan durasi lebih dari 130 hari tanpa hujan meliputi Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Belu, Lembata, Ngada, Ende, Sumba Timur, Sikka, dan Alor.

Hari Tanpa Hujan lebih dari 60 hari masuk kategori ekstrem panjang. Data tersebut menunjukkan kemarau masih berlangsung di banyak wilayah NTT pada akhir September.

Awal musim hujan

BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah NTT baru memasuki awal musim hujan pada Desember 2026. Dari 28 zona musim, sebanyak 27 zona diprakirakan mulai memasuki musim hujan pada bulan tersebut.

Menurut Pos Kupang, Manggarai diprakirakan menjadi wilayah yang lebih dahulu memasuki musim hujan, yakni pada November 2026. Pada dasarian pertama Desember, hujan diprakirakan mulai terjadi di bagian tengah Timor Tengah Selatan.

BMKG menentukan awal musim hujan berdasarkan curah hujan lebih dari 50 milimeter dalam satu dasarian dan berlanjut selama dua dasarian berikutnya, atau mencapai 150 milimeter dalam satu bulan.

Pergeseran awal musim hujan memperpanjang periode kering di sejumlah wilayah. Kondisi ini meningkatkan risiko berkurangnya ketersediaan air untuk kebutuhan masyarakat, pertanian, dan peternakan.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Bencana

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.