Rumah adat Alor: Lopo, Takpala, dan perbedaan rumah adat di kabupaten ini
Rumah adat Alor paling sering merujuk ke Lopo milik Suku Abui, tetapi di Alor ada beberapa kampung adat dengan nama, bentuk, dan fungsi rumah yang berbeda.
Oleh Kevin Mikael Januar
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Rumah adat Alor — paling sering merujuk pada Lopo milik Suku Abui di Kabupaten Alor, rumah panggung tanpa dinding dengan atap kerucut dari alang-alang atau ilalang. Di Takpala, bentuk yang lebih dikenal juga mencakup rumah gudang dan rumah khusus seperti Kolwat dan Kanuarwat, yang masing-masing punya fungsi adat berbeda.
Apa bentuk rumah adat Alor yang paling dikenal?
Lopo digambarkan sebagai rumah tanpa dinding, ditopang tiang kayu, dan memakai bambu pada lantai serta alang-alang sebagai atap. Dalam uraian Budaya Indonesia, rumah ini dibagi menjadi tiga tingkat ruang, sedangkan laman CNN Indonesia menyebut di Takpala ada 13 rumah adat Fala Foka yang berbentuk limas dan beratap alang-alang.
Beberapa sumber juga menyebut sebutan lain untuk rumah adat Alor, seperti rumah gudang atau Fala Foka, tergantung kampung adat yang dibahas. Ini menunjukkan bahwa “rumah adat Alor” bukan satu bentuk tunggal, melainkan kumpulan rumah tradisional di beberapa kampung adat di kabupaten yang sama.
Di mana rumah adat Alor yang paling sering dicari berada?
Takpala adalah kampung adat yang paling kerap dikaitkan dengan rumah adat Alor dan berada di Desa Lembur Barat, Kecamatan Alor Tengah Utara, Kabupaten Alor. RRI juga mencatat Kampung Adat Matalafang berada di Desa Lembur Barat, Kecamatan Alor Tengah Utara, dengan lima rumah adat di area seluas 86 m².
Selain Takpala dan Matalafang, ada pula Kampung Adat Bampalola di Kecamatan Alor Barat Laut. Omah Library menyebut Bampalola memiliki lima unit rumah adat dengan nama Lakatuil, Sinafet, Butafae, Baloebang, dan Ding Hafe.
Apa fungsi tiap bagian rumah adat Alor?
Pada penjelasan tentang Lopo, tingkat dasar dipakai untuk ruang istirahat sekaligus dapur, tingkat dua untuk menyimpan bahan makanan, dan tingkat paling atas sebagai gudang ketika persediaan makanan berlebih. CNN Indonesia menyebut pada rumah adat Takpala, tingkat pertama atau Liktaha dipakai menerima tamu, tingkat kedua atau Fala Homi untuk tidur dan masak, tingkat ketiga atau Akui Foka untuk cadangan makanan, dan tingkat paling atas atau Akui Kiding untuk mahar serta barang berharga seperti Moko.
Detik juga menulis bahwa rumah Kolwat dan Kanuarwat di Takpala punya aturan akses berbeda, karena tidak semua orang boleh memasukinya. Ini menegaskan bahwa fungsi rumah adat di Alor tidak hanya tempat tinggal, tetapi juga ruang sosial dan adat.
Mengapa rumah adat Alor dianggap khas?
Kekhasannya terletak pada bentuk panggung, atap yang meruncing, bahan alami, dan pembagian ruang yang mengikuti fungsi sosial adat. Pada Takpala, CNN Indonesia menyebut rumah-rumah itu kokoh ditopang empat kayu merah, sedangkan Budaya Indonesia menekankan susunan tingkat yang berlapis dari fungsi publik ke privat.
Di Alor, setiap kampung adat dapat memiliki istilah, bentuk, dan motif rumah yang berbeda. RRI menyebut di pulau Alor ada lima kerajaan besar dan masing-masing memiliki rumah adat serta istilahnya sendiri.
Kenapa orang yang mencari “rumah adat Alor” perlu tahu perbedaannya?
Karena pencarian itu bisa merujuk ke lebih dari satu rumah tradisional, terutama Lopo di lingkungan Suku Abui dan rumah adat di kampung-kampung seperti Takpala, Matalafang, atau Bampalola. Memahami perbedaannya membantu pembaca tidak menyamakan satu bangunan adat dengan keseluruhan tradisi arsitektur Alor.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Pariwisata
Pantai Alor: daftar pantai, lokasi, dan akses di Kabupaten Alor
Pantai Alor bukan satu pantai tunggal, melainkan sebutan untuk sejumlah pantai wisata di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Lokasinya tersebar dari…
Terbaru di Kepulauan

Berita utama hari ini

Baca juga




