Baju adat suku Rote: ciri, makna, dan pemakaiannya di Rote Ndao
Baju adat suku Rote paling dikenal lewat Ti’i Langga pada pria dan kain tenun ikat pada pria maupun perempuan, dengan fungsi adat yang kuat dalam pernikahan, upacara resmi, dan ritus keluarga di Rote Ndao.
Oleh Kevin Mikael Januar
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Baju adat suku Rote — adalah busana tradisional masyarakat Rote di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, yang paling mudah dikenali lewat topi Ti’i Langga pada pria dan kain tenun ikat pada pria maupun perempuan. Busana ini dipakai dalam upacara adat, pernikahan, dan acara resmi, dengan unsur pelengkap yang berbeda untuk laki-laki dan perempuan.
Apa ciri utama baju adat suku Rote?
Ciri yang paling menonjol adalah Ti’i Langga, penutup kepala pria yang dibuat dari anyaman daun lontar kering dan berbentuk lebar. Menurut Indonesia Travel, pakaian adat Rote juga memakai kain tenun sebagai unsur utama, dengan motif geometris yang menjadi penanda visualnya.
Untuk pria, kelengkapannya umumnya kemeja putih berlengan panjang, sarung tenun ikat gelap di pinggang, selendang di bahu, dan Habas di leher. Untuk perempuan, unsur yang disebut antara lain atasan dan bawahan kain tenun ikat, Bula Molik di kepala, Pendi sebagai ikat pinggang, dan Habas sebagai aksesori leher.
Bagaimana bentuk busana pria dan perempuan?
Busana pria Rote menonjolkan Ti’i Langga sebagai ciri kepala, lalu kain tenun sebagai bawahan dan selendang yang diselempangkan. Indonesia Travel menjelaskan bahwa bagian bawah busana pria disebut lafa, sedangkan busana perempuan disebut pau sebagai kain bawahan.
Bobobox dan Gramedia juga sama-sama menggambarkan busana pria Rote sebagai kombinasi kemeja, sarung tenun, selendang, dan topi anyaman lontar, sedangkan busana perempuan dilengkapi perhiasan kepala dan pinggang. Kesamaan ini menunjukkan bahwa kain tenun dan aksesori tradisional adalah inti dari pakaian adat Rote.
Dipakai pada acara apa?
Pakaian adat Rote digunakan pada upacara adat, pernikahan, dan acara resmi menurut Indonesia Travel. VOI juga menuliskan bahwa kain tenun Rote dipakai dalam upacara perkawinan sebagai kelengkapan busana pengantin, barang antaran, dan penutup tempat sirih saat meminang.
Dalam upacara kematian, VOI menyebut kain tenun juga digunakan untuk menutup jenazah dan dibentangkan di bagian bawah plafon rumah untuk menaungi tempat tidur jenazah. Ini memperlihatkan bahwa fungsi pakaian adat Rote tidak terbatas pada perayaan, tetapi juga hadir dalam ritus sosial dan keluarga.
Apa makna Ti’i Langga dan kain tenun Rote?
Indonesia Travel menyebut Ti’i Langga melambangkan kearifan lokal dan status sosial pria Rote, sekaligus berfungsi melindungi kepala dari panas. Bobobox menambahkan bahwa motif baju adat Rote dipahami sebagai lambang kehidupan yang seimbang dan keterikatan dengan tanah leluhur.
VOI mencatat bahwa pada masa lampau penggunaan kain tenun Rote mencerminkan status sosial seseorang, meski kini pemakaiannya tidak lagi mengacu pada status sosial. Artinya, makna sosial dan identitas budaya tetap melekat, walau fungsi pemakaiannya sudah lebih luas.
Apa yang perlu diingat jika mencari baju adat suku Rote?
Kalau orang menyebut baju adat suku Rote, yang dimaksud biasanya bukan satu potong busana tunggal, melainkan satu set pakaian tradisional dengan unsur berbeda untuk pria dan perempuan. Unsur paling khasnya tetap Ti’i Langga, kain tenun ikat, dan aksesori tradisional seperti Habas, Pendi, dan Bula Molik.
Karena itu, pencarian tentang baju adat Rote biasanya mengarah pada ciri visual, fungsi adat, dan makna budayanya di Rote Ndao. Semua unsur itu membuat pakaian ini menjadi salah satu identitas budaya yang paling dikenal dari wilayah kepulauan Nusa Tenggara Timur.
,
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Olahraga
Grasstrack Rote Ndao Menjaring Atlet Menuju PON 2028
Kejuaraan berlangsung selama tiga hari di Sirkuit Mandala dan mempertemukan pembalap dari enam daerah di Nusa Tenggara Timur. Panitia menyiapkan lima…
Paling ramai di Kepulauan

Baca juga





