Mengapa gempa laut timur laut Ruteng tidak berpotensi tsunami?
Gempa tektonik di laut sekitar timur laut Ruteng, Manggarai, Pulau Flores, terjadi pada Selasa 8 September 2026 siang dengan magnitudo awal 5,2 dan kedalaman 10 kilometer.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Ruteng — Gempa bumi tektonik bermagnitudo 5,2 terjadi di laut sekitar timur laut Ruteng, Kabupaten Manggarai, Pulau Flores, pada Selasa 8 September 2026 siang. Pusat gempa berada di laut dengan jarak sekitar 60 kilometer timur laut Ruteng dan kedalaman 10 kilometer, sebelum pemutakhiran analisis menempatkan episenter di laut 57 kilometer arah timur laut Ruteng dengan magnitudo M5,1 pada kedalaman 10 kilometer.
Gempa ini dirasakan di wilayah Manggarai dan sekitarnya, namun hingga saat pemberitaan tidak ada kerusakan berarti maupun korban jiwa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa hasil pemodelan menunjukkan gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami sehingga tidak diterbitkan peringatan dini tsunami.
BMKG tegaskan gempa tidak berpotensi tsunami
BMKG menyatakan bahwa gempa pada 8 September 2026 tersebut tidak berpotensi tsunami berdasarkan hasil pemodelan tsunami. Episenter gempa berada di laut pada koordinat sekitar 8,11 derajat Lintang Selatan dan 120,59 derajat Bujur Timur, atau 57 kilometer timur laut Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, dengan magnitudo terkini M5,1 dan kedalaman 10 kilometer.
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,2 mengguncang wilayah sekitar 60 kilometer timur laut Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pada pukul 11.40.29 Waktu Indonesia Barat dengan kedalaman 10 kilometer dan koordinat sekitar 8,08 derajat Lintang Selatan serta 120,56 derajat Bujur Timur. Gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.
Konteks pulau dan kabupaten terdampak
Peristiwa ini terjadi di Pulau Flores, tepatnya di wilayah laut timur laut Ruteng yang secara administratif berada di Kabupaten Manggarai. Manggarai Timur disebut sebagai wilayah yang diguncang, namun titik episenter berada di laut dengan referensi jarak dari Ruteng sebagai kota di Manggarai. Tidak ada kabupaten lain di Flores, seperti Lembata atau Ende, yang dilaporkan mengalami kerusakan akibat gempa ini, meskipun guncangan dapat saja dirasakan lebih luas.
Untuk pulau lain di Nusa Tenggara Timur seperti Timor, Sumba, Sabu, Rote, dan Alor, tidak ada data yang menyebut adanya kerusakan atau pengungsian terkait gempa ini. Informasi yang tersedia berfokus pada parameter teknis gempa di Flores dan ketiadaan potensi tsunami.
Apa arti tidak berpotensi tsunami bagi warga
Pernyataan BMKG bahwa gempa di laut timur laut Ruteng tidak berpotensi tsunami berarti bahwa berdasarkan parameter magnitudo, kedalaman, dan mekanisme sumber, pemodelan menunjukkan tidak akan terbentuk gelombang tsunami yang membahayakan pesisir. Dengan demikian, warga pesisir Flores, termasuk Manggarai dan Manggarai Timur, tidak perlu melakukan evakuasi khusus terkait ancaman tsunami dari gempa ini. Namun demikian, warga tetap diimbau untuk waspada terhadap guncangan susulan dan mengikuti arahan otoritas setempat.
Bagi pembaca di seluruh kepulauan Nusa Tenggara Timur, informasi ini penting untuk memahami bahwa tidak setiap gempa di laut otomatis memicu tsunami. Parameter resmi dari BMKG menjadi rujukan utama untuk menilai risiko, sementara pemantauan berkelanjutan terhadap gempa susulan di Flores juga dilakukan oleh BMKG.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Bencana
Gempa Susulan Masih Terjadi di Manggarai Timur
Gempa susulan masih terjadi di Kabupaten Manggarai Timur pada 24 September 2026. Status tanggap darurat diperpanjang 7 hari karena penanganan kerusaka…
Terbaru di Bencana

Baca juga




