Warga Wae Sano Rawat Mata Air Lewat Ritual Barong Wae
Belasan warga Desa Wae Sano menggelar Barong Wae di Wae Kuta pada 6 Oktober 2026. Mereka membersihkan aliran mata air dan menyampaikan doa adat.
Oleh Kevin Mikael Januar
· Peristiwa: · 2 menit baca
Labuan Bajo — Belasan warga Desa Wae Sano menggelar ritual Barong Wae di mata air Wae Kuta, Kabupaten Manggarai Barat, pada 6 Oktober 2026. Ritual itu menjadi bagian dari Festival Bumi Sano Nggoang yang berlangsung pada 3-7 Oktober.
Warga berangkat dari Pastoran Paroki St. Mikael Nunang. Herman Hemat, tetua adat Kampung Nunang, memimpin rangkaian ritual setelah warga melakukan persiapan perjalanan. Rombongan kemudian menyusuri jalan sekitar 400 meter menuju Wae Kuta di sisi selatan pastoran.
Barong Wae merupakan ritus masyarakat Manggarai di bagian barat Pulau Flores untuk menghormati air, leluhur, dan penjaga mata air. Warga membersihkan guguran daun yang menghambat aliran air menuju bak penampung. Mereka juga menyiapkan persembahan dan menyampaikan doa untuk langit, bumi, leluhur, serta penjaga mata air.
Mata air Wae Kuta menopang kehidupan warga Wae Sano
Ritual ini penting bagi pembaca di Flores karena menghubungkan pelestarian sumber air dengan tata adat masyarakat. Warga menggunakan air Wae Kuta untuk dimasak dan dikonsumsi. Setelah pembersihan dilakukan, air yang sempat tertahan oleh guguran daun kembali mengalir menuju bak penampung dan rumah warga.
Di berbagai kampung Manggarai Raya, yang mencakup Manggarai Barat, Manggarai, dan Manggarai Timur, bentuk Barong Wae dapat berbeda sesuai sejarah, tata adat, dan kesepakatan setempat. Namun, rangkaiannya memiliki kesamaan: warga berkumpul, tetua adat memimpin tuturan ritual, rombongan mendatangi mata air, dan persembahan disiapkan agar sumber air tetap lestari.
Barong Wae juga berkaitan dengan perdebatan tentang ruang hidup masyarakat Wae Sano. Mongabay melaporkan bahwa Wae Sano merupakan desa berisi 285 rumah tangga di tepi Danau vulkanik Sano Nggoang. Tiga dari enam kampungnya berada langsung di atas lokasi pengeboran panas bumi yang direncanakan.
Penolakan warga terhadap proyek panas bumi berkaitan dengan kekhawatiran atas risiko kesehatan, lahan pertanian, mata pencaharian, dan proses pengambilan keputusan. Bank Dunia menarik pendanaan pengeboran eksplorasi di Wae Sano pada Desember 2023 karena kegagalan memperoleh persetujuan bebas, didahulukan, dan diinformasikan. Operasi panas bumi di Wae Sano dan Poco Leok dilaporkan masih tertunda dan belum dibatalkan.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Bencana
BMKG Perbarui Gempa M5,1 di Laut Barat Laut Ruteng
BMKG memperbarui gempa di laut barat laut Ruteng menjadi M5,1 dengan kedalaman 10 kilometer. Hingga 18 Oktober pukul 05.00 WIB, tercatat 22097 gempa s…
Terbaru di Kepulauan
Berita utama hari ini

Baca juga





