NTT Hari Ini

Selasa, 20 Oktober 2026

Pemprov NTT Perkuat Wisata Aman Bencana Setelah Gempa

Artikel Pemprov NTT yang diperbarui 19 Oktober 2026 menempatkan gempa Flores dan Sumba Barat Daya sebagai dasar penguatan pengelolaan risiko bencana di destinasi wisata.

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Pemandangan persawahan hijau dengan jalan semen dan latar belakang perbukitan tropis di pagi hari.
Ilustrasi: Pemandangan persawahan hijau dengan jalan semen dan latar belakang perbukitan tropis di pagi hari. · Foto: murod lens / Pexels

Kupang — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur memperbarui artikel tentang pengembangan wisata aman bencana pada 19 Oktober 2026. Artikel itu menyoroti gempa bumi bermagnitudo 7,7 di wilayah Flores pada 15 Agustus 2026 dan gempa terbaru di Kabupaten Sumba Barat Daya pada 4 Oktober 2026 sebagai dasar penguatan pengelolaan risiko bencana dalam destinasi wisata.

Gempa Flores memicu kepanikan, evakuasi massal, penutupan sementara sejumlah destinasi wisata, serta penyesuaian jadwal penerbangan di sejumlah bandara di Flores. Kerusakan rumah dan infrastruktur serta risiko gempa susulan menjadi bagian dari dampak yang perlu diperhitungkan dalam pemulihan pariwisata.

Di Pulau Flores, koordinasi pada 15 Agustus 2026 melibatkan Kementerian Pariwisata, Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur, tujuh kabupaten di Flores, Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat. Langkah awalnya mencakup pendataan destinasi terdampak, kepastian keselamatan wisatawan, serta penutupan sementara lokasi yang terdampak.

Wae Rebo di Kabupaten Manggarai dan Taman Nasional Kelimutu di Kabupaten Ende ditutup sementara untuk pemulihan dan asesmen lanjutan. Tidak ada langkah terpisah untuk Pulau Lembata, Sumba selain Kabupaten Sumba Barat Daya, Sabu, Rote, dan Alor.

Risiko bencana menentukan keamanan destinasi wisata

Bagi pembaca di Nusa Tenggara Timur, penguatan wisata aman bencana berarti kondisi destinasi, jalur perjalanan, fasilitas, dan keselamatan wisatawan harus menjadi bagian dari perencanaan. Pengalaman gempa Flores menunjukkan bahwa gangguan pariwisata dapat meluas dari lokasi terdampak ke penerbangan dan akses menuju destinasi.

Pengelolaan risiko bencana menjadi unsur penting dalam pembangunan destinasi. Kebutuhannya bukan hanya memulihkan tempat wisata, tetapi juga menilai keamanan infrastruktur dan kesiapan menghadapi bencana susulan sebelum destinasi kembali beroperasi.

Gempa di Kabupaten Sumba Barat Daya pada 4 Oktober 2026 memperluas perhatian kebencanaan ke Pulau Sumba. Status pembukaan kembali destinasi atau jadwal tindak lanjut tertentu belum disebutkan.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Pariwisata

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.