BNPB: 95.567 Rumah di NTT Terdampak Gempa 15 Agustus 2026
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· 4 menit baca
Labuan Bajo — Sebanyak 95.567 rumah di tujuh kabupaten di Nusa Tenggara Timur terdampak gempa bermagnitudo 7,7 pada Sabtu, 15 Agustus 2026, menurut data Direktorat Pengendalian Operasi BNPB per 30 Agustus 2026. Kerusakan dan pengungsian dalam skala besar mendorong agar rekonstruksi tidak sekadar mengganti bangunan, tetapi memperbaiki cara membangun rumah dan fasilitas publik di wilayah rawan gempa.
BNPB mencatat 27.414 rumah rusak berat, 21.992 rusak sedang, dan 46.161 rusak ringan. Gempa juga menyebabkan 111 orang meninggal, 1.631 orang luka-luka, serta 188.161 orang mengungsi. Angka-angka ini masih dalam proses verifikasi lebih lanjut oleh BNPB.
- Rumah terdampak: 95.567 unit
- Kabupaten terdampak: tujuh kabupaten di NTT
- Korban meninggal: 111 orang
- Pengungsi: 188.161 orang
Mengapa kerusakan berbeda-beda
Kerusakan bangunan tidak hanya ditentukan oleh besar guncangan. Kajian BMKG yang dikutip dalam laporan mengenai gempa NTT menyebut efek sumber gempa, jalur rambatan energi, kondisi tapak lokal, jenis struktur, material, mutu konstruksi, dan usia bangunan turut memengaruhi dampak. Karena itu, dua bangunan di wilayah dengan tingkat guncangan serupa dapat mengalami kerusakan berbeda.
Kondisi tanah dan kualitas bangunan menjadi bagian penting dalam menilai risiko, bukan hanya lokasi administratif atau kekuatan magnitudo gempa. Para ahli menekankan pentingnya tata ruang, bangunan tahan gempa, mikrozonasi, dan edukasi sebagai kunci pengurangan risiko bencana.
Norman Riwu Kaho, Ketua Forum Penanggulangan Risiko Bencana NTT, menilai tingginya kerusakan menunjukkan kelemahan sistemik dalam pembangunan. Menurut dia, standar bangunan tahan gempa sudah tersedia, tetapi penerapannya melalui perizinan, pengawasan, dan pendampingan teknis, terutama untuk rumah swadaya, masih lemah.
Masalah serupa juga terlihat pada bangunan publik. Laporan Mongabay mencatat ribuan satuan pendidikan, kantor pemerintahan, fasilitas kesehatan, dan rumah ibadah mengalami kerusakan akibat gempa, yang menunjukkan banyak bangunan belum dirancang dengan standar ketahanan gempa yang memadai.
Pelajaran dari kayu, bambu, dan rumah adat
Rumah adat di NTT yang menggunakan kayu, bambu, serta atap ringan dinilai memiliki karakter yang berpotensi lebih sesuai untuk menghadapi guncangan. Material yang lebih ringan memiliki massa lebih kecil sehingga berpotensi menerima gaya gempa yang lebih rendah dibandingkan bangunan bermassa besar.
Namun, bahan ringan bukan jaminan keselamatan. Ketahanan rumah tetap bergantung pada kualitas material, sambungan antarkomponen, pondasi, dan keterikatan seluruh sistem struktur. Bangunan tembok tidak otomatis berbahaya, tetapi konstruksi tanpa detail struktur yang benar dapat meningkatkan risiko keruntuhan saat gempa.
Aleksius Boer, dosen arsitektur Universitas Nusa Nipa, mengatakan bangunan yang bertahan maupun yang rusak sama-sama dapat menjadi bahan pembelajaran. Ia menyarankan rumah yang tetap berdiri perlu didokumentasikan dan dibandingkan dengan rumah yang rusak untuk mengetahui faktor desain dan konstruksi yang membuatnya lebih mampu menghadapi guncangan.
Pengetahuan lokal tentang konstruksi kayu dan material ringan dapat menjadi dasar desain, tetapi tetap perlu diperiksa dan diperkuat melalui perencanaan teknis, pemilihan material, serta pengawasan mutu.
Rekonstruksi harus diawasi
Norman Riwu Kaho mendorong pemerintah menyediakan purwarupa rumah tahan gempa di kantor desa dan memperkuat mitigasi melalui pemetaan mikrozonasi, sehingga wilayah yang labil dan berpotensi mengalami kerusakan tinggi dapat diidentifikasi lebih jelas. Ia mengusulkan hasil mikrozonasi BMKG menjadi lampiran wajib rencana tata ruang wilayah dan dasar penerbitan izin bangunan.
Usulan tersebut menempatkan rekonstruksi dalam dua tahap: menentukan kondisi tapak dan risiko, lalu memastikan desain serta pelaksanaan memenuhi kebutuhan teknis. Pendampingan penting bagi warga yang membangun secara swadaya karena banyak keputusan konstruksi dibuat di luar proses pembangunan formal.
Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) mendorong prinsip build back better dalam pemulihan Flores. Dalam Rakernas IAI 2026 di Labuan Bajo pada 12–18 September 2026, Ketua IAI NTT Luiz Wilson menekankan bahwa arsitek perlu bekerja bersama masyarakat untuk merancang kembali rumah dan fasilitas publik yang lebih aman dan tangguh, dengan tetap mempertimbangkan kondisi lingkungan dan kearifan lokal.
Menurut Tribun Flores dan RRI, Rakernas IAI menjadi momentum bagi arsitek, pemerintah, akademisi, dan komunitas untuk terlibat langsung dalam pemulihan pascagempa Flores. Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti menegaskan bahwa risiko bencana harus diperhitungkan sejak tahap perencanaan, desain, pembangunan hingga pemeliharaan infrastruktur, dan bahwa proses pemulihan pascabencana harus didukung data kerusakan yang akurat serta penerapan standar konstruksi secara konsisten.
Pemulihan tidak berhenti pada penyediaan hunian darurat. Laporan Mongabay mendorong pemerintah menandai tingkat kelayakan hunian terdampak, mempercepat kajian kebutuhan pascabencana sebagai dasar rehabilitasi dan rekonstruksi, serta menghubungkan hasil kajian itu dengan desain, perizinan, dan pengawasan pembangunan. Dengan demikian, rekonstruksi pascagempa di Flores diharapkan menghasilkan bangunan yang lebih aman dan mengurangi risiko korban pada kejadian gempa berikutnya.
Sumber
- Metrotvnews.com - BNPB: Masa Tanggap Darurat Pascagempa NTT Diperpanjang hingga 11 September
- Owrite.id - BMKG Catat 10.232 Gempa Susulan di Flores NTT, 188.161 Warga Mengungsi
- Mongabay.co.id - Belajar dari Gempa NTT, Ancaman Geologi Minim Mitigasi
- RRI.co.id - Rakernas IAI di Labuan Bajo Dorong Pembangunan Flores yang Tangguh Pascagempa
- TribunFlores.com - Dari Labuan Bajo, Arisitek Indonesia Dorong Flores Bangkit dengan Bangunan Lebih Aman dan Tangguh
Berita berikutnya
2.447 Sekolah di Flores Terdampak Gempa, Mayoritas Masih Belajar Darurat
Kemendikdasmen dan BPMP NTT mencatat 2.447 satuan pendidikan di Flores terdampak gempa magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026.
Baca juga


