Undana, UB, dan UMM Kembangkan Beras Granul Lokal NTT
Universitas Nusa Cendana berkolaborasi dengan Universitas Brawijaya dan Universitas Muhammadiyah Malang mengembangkan beras granul berbasis komoditas lokal NTT sebagai pangan fungsional untuk keluarga berisiko stunting.
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· 4 menit baca
Kupang — — Universitas Nusa Cendana (Undana) menggandeng Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengembangkan inovasi pangan fungsional berbentuk beras granul atau beras analog berbasis komoditas lokal Nusa Tenggara Timur untuk mendukung upaya penurunan stunting di wilayah lahan kering kepulauan NTT.
Kolaborasi riset ini diperkenalkan Undana sebagai bagian dari konsorsium riset strategis bersama UB dan UMM yang berfokus pada pengembangan pangan lokal padat gizi bagi kelompok berisiko tinggi, seperti balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan remaja putri.
Dalam rilis resmi Undana, beras granul digambarkan sebagai meal replacement atau pengganti menu makan yang dikemas sebagai “paket lengkap gizi dalam satu butiran”, bukan sekadar alternatif nasi putih biasa.
Bahan lokal dalam beras granul
Menurut penjelasan Undana, beras granul disusun dari beberapa komoditas yang sebelumnya telah diteliti dalam riset pangan lokal, seperti tepung kelor, jagung, ikan teri, gula lontar, dan sorgum.
Sinergi tepung ikan teri dan sorgum disebut dirancang untuk menyediakan protein dan asam amino esensial yang diperlukan untuk pemeliharaan dan perbaikan jaringan tubuh, sementara kelor dan komoditas lain menambah kandungan mikronutrien.
Dalam keterangan yang sama, Undana menyebut beras granul memiliki kandungan vitamin A dan C, kalsium, fosfor, serta omega-3 yang diposisikan untuk menjawab kebutuhan gizi pada periode 1.000 hari pertama kehidupan.
Jagung dan sorgum berperan sebagai sumber karbohidrat kompleks dengan indeks glikemik rendah, sehingga energi yang dihasilkan lebih bertahan lama dan diklaim lebih aman bagi kesehatan metabolik. Produk ini juga disebut bebas gluten, sehingga dipromosikan sebagai pilihan bagi individu dengan intoleransi gluten.
Kolaborasi Undana, UB, dan UMM
Pengembangan beras granul berlangsung dalam konsorsium riset yang melibatkan fakultas dan pusat studi di tiga kampus. Menurut pemberitaan mengenai riset pangan fungsional UMM, beras granul atau beras analog sehat tersebut merupakan hasil kolaborasi dalam Konsorsium RIKUB 3 yang beranggotakan UB, UMM, dan Undana.
Di dalam konsorsium itu, peneliti dari UB dan UMM berkontribusi pada pengembangan teknologi formulasi pangan fungsional, terutama teknik granulasi, dan penguatan aspek hilirisasi. Undana berperan sebagai mitra lapangan di NTT dengan basis riset sebelumnya tentang pangan lokal dan penanganan stunting.
Peneliti gizi Undana, Prof. Intje Picauly, disebut terlibat sebagai mitra riset untuk bahan lokal NTT. Riset-riset sebelumnya yang ia pimpin memanfaatkan komoditas seperti kelor, ikan, biji-bijian, dan umbi-umbian untuk produk pangan siap saji dan beras analog bagi keluarga berisiko stunting.
Sasaran penerima dan rencana uji
Dalam keterangan Undana, beras granul dikembangkan khusus untuk kelompok berisiko stunting dan kekurangan gizi, terutama balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan remaja putri. Produk ini diposisikan sebagai bagian dari paket intervensi gizi presisi bagi rumah tangga miskin di wilayah lahan kering.
Undana menyebut riset beras granul memasuki tahun kedua dan direncanakan dilaksanakan di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) sebagai lokasi mitra. Di sana, tim berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan setempat untuk menguji daya terima dan efikasi beras granul terhadap peningkatan status gizi anak.
Selain pengujian di laboratorium, tim Undana menyatakan akan menerapkan uji lapangan dan penilaian penerimaan masyarakat terhadap rasa, bentuk, dan cara konsumsi beras granul, agar inovasi tersebut dapat diterima sebagai variasi makanan sehari-hari berbasis bahan lokal.
Konteks penanganan stunting di NTT
Undana selama beberapa tahun terakhir mengembangkan berbagai model intervensi stunting berbasis pangan lokal, termasuk pelatihan produksi beras analog, pengembangan produk olahan berbahan ikan dan sayuran, serta pendekatan bio-integratif seperti model kebun dan kolam pekarangan untuk memperkuat pasokan pangan bergizi.
Pengembangan beras granul melalui konsorsium dengan UB dan UMM ditempatkan sebagai kelanjutan dari upaya tersebut, yaitu mengintegrasikan pangan lokal seperti kelor, jagung, ikan teri, gula lontar, sorgum, dan umbi-umbian ke dalam produk siap saji yang lebih praktis dikonsumsi keluarga berisiko stunting.
Meski Undana mengaitkan inovasi beras granul dengan strategi percepatan penurunan stunting dan menyebutnya sebagai intervensi gizi presisi, hingga saat ini kampus tersebut baru mempublikasikan profil produk, bahan baku, dan rencana uji efikasi di TTS.
Belum dipublikasikan data lengkap mengenai hasil uji intervensi pada balita atau ibu hamil, perubahan indikator pertumbuhan, maupun temuan statistik yang menunjukkan penurunan stunting langsung terkait konsumsi beras granul.

