NTT Hari Ini

Senin, 21 September 2026

YSPN Kembangkan Program Swasembada Pangan Berbasis Sekolah di Ende

Yayasan Swatantra Pangan Nusantara mengembangkan program swasembada pangan berbasis sekolah di Detusoko Barat, Ende.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 4 menit baca

Labuan Bajo — Yayasan Swatantra Pangan Nusantara (YSPN) mendorong program ketahanan dan swasembada pangan berbasis sekolah di Desa Detusoko Barat, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende. Program yang diperkenalkan pada Jumat, 18 September 2026 itu menyasar tiga sekolah dan menghubungkan pembelajaran siswa dengan praktik produksi pangan, menurut laporan Ekorantt.com.

Tiga sekolah yang menjadi sasaran ialah SDK Marsudirini Detusoko, SMP Marsudirini Detusoko, dan SMA Negeri Detusoko. Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mencatat SMP Swasta Katolik Marsudirini beralamat di Detusoko Barat, Kecamatan Detusoko, Ende. Melalui kegiatan ini, siswa diajak mengenal proses budidaya secara langsung, bukan hanya mempelajari pangan sebagai materi teori.

Ketua YSPN Daryatmo menjelaskan, pendekatan tersebut dirancang agar siswa memahami asal-usul makanan dan proses produksinya. Ia mengatakan YSPN ingin anak-anak mengalami sendiri bagaimana makanan diproduksi, bukan sekadar mengetahui dari mana pangan berasal, seperti disampaikan dalam kegiatan di Ende yang dilaporkan Ekorantt.com.

Bentuk awal kegiatan mencakup penanaman cabai, terung, serta padi. YSPN juga memperkenalkan penggunaan polybag, demplot, dan kegiatan budidaya lain sebagai sarana praktik di lingkungan sekolah atau area yang disiapkan untuk program. Bantuan awal yang disalurkan YSPN kepada sekolah berupa benih cabai, bibit terung, dan benih padi unggul Bripantra 8.

Pendidikan pangan dan regenerasi petani

Dalam program ini, YSPN menempatkan sekolah sebagai ruang belajar sekaligus laboratorium praktik. Tujuan kegiatan tidak semata menghasilkan tanaman, tetapi membangun kesadaran pangan, keterampilan pertanian, dan kebiasaan mandiri sejak usia sekolah. Pendekatan serupa sebelumnya diterapkan YSPN dalam inisiatif “laboratorium hidup ketahanan pangan berbasis sekolah” di Buleleng, Bali, yang mengonversi ruang sekolah menjadi ruang produksi dan pembelajaran pangan skala mikro.

Menurut Daryatmo, siswa diharapkan memahami arti ketahanan pangan dan mengembangkan kemampuan mengelola kegiatan budidaya. Program ini diarahkan untuk membentuk generasi yang mandiri dan produktif serta memiliki perhatian terhadap sektor pertanian. Analisis terhadap model ketahanan pangan berbasis sekolah yang dikembangkan YSPN menyebutkan bahwa program seperti ini juga ditujukan untuk menjawab persoalan regenerasi petani melalui edukasi sejak dini.

Perintis YSPN Yuni Asri Srinarjo menambahkan, siswa yang berhasil membudidayakan bibit bantuan akan memperoleh penghargaan berupa laptop. Yuni sebelumnya dikenal terlibat dalam pengembangan program ketahanan pangan berbasis sekolah di daerah lain, termasuk sebagai narasumber dalam kajian tentang strategi pembentukan generasi “pahlawan pangan” yang mendorong anak muda terlibat dalam produksi dan pemanfaatan lahan secara terencana.

Program di Detusoko Barat memberi pengalaman praktis kepada siswa mengenai tahapan produksi pangan, mulai dari penanaman hingga pemeliharaan. Model yang dikembangkan YSPN di berbagai daerah mencakup penanaman bibit, perawatan rutin hingga masa panen, dan pengelolaan hasil untuk kebutuhan keluarga atau sekolah. Detail teknis penyusunan jadwal belajar, pembagian tugas antara siswa dan guru, serta indikator keberhasilan di Detusoko Barat akan ditentukan bersama pihak sekolah dan pemerintah daerah seiring pelaksanaan program.

Dukungan Pemerintah Kabupaten Ende

Wakil Bupati Ende Dominikus Minggu Mere menyambut baik inisiatif YSPN di Detusoko Barat. Ia menilai program tersebut sejalan dengan agenda nasional di bidang ketahanan pangan dan menyatakan komitmen Pemerintah Kabupaten Ende untuk mendukung pelaksanaannya, sebagaimana diberitakan Ekorantt.com.

Dukungan yang disampaikan antara lain pelibatan Dinas Pertanian Kabupaten Ende. Wakil bupati mendorong penyuluh pertanian lapangan memberikan pendampingan berkelanjutan kepada para siswa, termasuk membantu memastikan benih digunakan sesuai petunjuk. Di sejumlah kegiatan lain, Dominikus menekankan pentingnya pengelolaan program pangan secara profesional dan terukur untuk menjaga kualitas dan keberlanjutan layanan bagi masyarakat.

Dalam kegiatan di Detusoko Barat, Dominikus membandingkan potensi hasil padi di Detusoko dengan wilayah lain. Ia merujuk pengalaman Yuni Asri di Bantul yang mampu mencapai produksi lebih dari 10 ton per hektare, serta mengharapkan Detusoko dapat menyamai capaian daerah seperti Buleleng, yang menurutnya memiliki kemiripan kondisi dengan Detusoko. Perbandingan ini disampaikan sebagai target dan motivasi, sementara data hasil panen aktual di Detusoko, luas lahan yang dikelola sekolah, dan target produksi program masih menunggu pemantauan lebih lanjut.

Selain bantuan benih untuk sekolah, YSPN menyalurkan 500 sak semen untuk tiga paroki di Kevikepan Ende yang mengalami kerusakan akibat gempa bumi. Bantuan tersebut diberikan kepada Paroki Ndona, Paroki Wolotopo, dan Paroki Roworeke, seperti dicatat Ekorantt.com. Penyaluran bantuan itu berlangsung terpisah dari kegiatan swasembada pangan berbasis sekolah, namun tetap berada dalam kerangka dukungan YSPN terhadap pemulihan fasilitas masyarakat dan gereja di wilayah Ende.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.