BMKG Catat 13.156 Gempa Susulan di Flores
BMKG mencatat 13.156 gempa susulan di Flores sejak gempa utama 15 Agustus 2026. Dari jumlah itu, 177 gempa dirasakan warga, dengan magnitudo tertinggi 6,2 dan 36 kejadian di atas magnitudo 5.
Oleh Kevin Mikael Januar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 2 menit baca
Labuan Bajo — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat 13.156 gempa susulan di Flores, Nusa Tenggara Timur, sejak gempa utama pada 15 Agustus 2026. Pembaruan yang dikutip sejumlah media pada Senin, 7 September 2026, menyebut data itu dihitung hingga pukul 05.00 WIB.
Dari total gempa susulan itu, 177 kejadian dirasakan warga. BMKG juga mencatat magnitudo terbesar mencapai 6,2 dan yang terkecil 0,9.
Data yang sama menyebut ada 36 gempa susulan dengan magnitudo di atas 5. Angka itu menunjukkan rangkaian aktivitas kegempaan masih berlangsung setelah gempa utama di Flores.
Angka yang tercatat BMKG
Rangkaian data tersebut memperlihatkan selisih besar antara jumlah gempa yang terekam alat dan yang benar-benar dirasakan masyarakat. Sebagian besar gempa susulan berintensitas rendah atau terjadi pada kondisi yang tidak menimbulkan guncangan terasa di permukaan.
- Total gempa susulan: 13.156 kejadian.
- Gempa yang dirasakan warga: 177 kejadian.
- Magnitudo tertinggi: 6,2.
- Magnitudo terendah: 0,9.
- Gempa bermagnitudo di atas 5: 36 kejadian.
BNPB pada 7 September 2026 juga menyebut rangkaian gempa susulan di Flores masih berlangsung sejak 15 Agustus 2026. Dalam laporan hari itu, Kepala BNPB Suharyanto mengatakan jumlah gempa yang tercatat sejak awal rangkaian mencapai 13.156 kejadian.
Di sisi dampak, laporan yang dikutip dari Pemerintah Kabupaten Sikka menyebut verifikasi tahap kedua mencatat 4.937 rumah terdampak. Data itu muncul dalam pembaruan kerusakan rumah pascagempa di Sikka dan dipakai untuk proses pendataan lanjutan.
Dampak di Sikka
Keterangan tentang 4.937 rumah terdampak memperlihatkan bahwa gempa 15 Agustus tidak hanya memicu rangkaian susulan, tetapi juga kerusakan bangunan di wilayah terdampak. Pada tahap pendataan yang lebih luas, jumlah rumah rusak di Sikka dilaporkan lebih besar, sehingga proses verifikasi masih berjalan.
Angka gempa susulan yang besar tidak otomatis berarti seluruh kejadian menimbulkan kerusakan baru. Namun, catatan BMKG dan BNPB menunjukkan masyarakat di Flores masih perlu mewaspadai guncangan lanjutan, terutama pada bangunan yang sudah retak atau belum diperbaiki.
BMKG sebelumnya juga menjelaskan bahwa pola aktivitas gempa susulan mulai menurun, meski rangkaian masih berlanjut. Informasi itu sejalan dengan pembaruan yang menunjukkan ribuan susulan tetap tercatat dalam periode tiga pekan setelah gempa utama.
Hingga pembaruan 7 September 2026, BMKG dan BNPB sama-sama menempatkan Flores dalam fase pascagempa yang masih aktif. Dengan jumlah susulan yang masih tinggi, pemantauan kondisi bangunan dan kesiapsiagaan warga tetap menjadi perhatian utama di sejumlah kabupaten di Nusa Tenggara Timur.
Sumber
Berita berikutnya

Wabup Nasir Buka Liga Persebata 2026 di Kolipadan Lembata
Liga Persebata 2026 resmi dimulai di Lapangan Sepak Bola Desa Kolipadan, Lembata, pada Minggu, 6 September 2026. Wakil Bupati H.
Baca juga



