Dinas Pendidikan NTT Dorong Sekolah Rutin Simulasi Bencana
Dinas Pendidikan dan Olahraga NTT meminta sekolah mengenali ancaman lokal, menyusun mitigasi, dan rutin menggelar simulasi bencana. Dorongan ini disampaikan seusai gempa Flores yang berdampak pada ribuan satuan pendidikan di provinsi itu.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 2 menit baca
Kupang — Dinas Pendidikan dan Olahraga Nusa Tenggara Timur mendorong sekolah memperkuat kesiapsiagaan bencana dengan mengenali ancaman di sekitar lingkungan belajar, menyusun langkah mitigasi, dan menggelar simulasi secara rutin. Dorongan itu disampaikan Kepala Dinas Ambrosius Kodo seusai gempa Flores yang berdampak pada ribuan satuan pendidikan di NTT.
Menurut Ambrosius, sekolah tidak cukup hanya memberi pengetahuan tentang bencana. Ia meminta warga sekolah mengetahui jenis ancaman yang mungkin muncul di wilayah masing-masing agar tindakan saat darurat lebih jelas dan terarah.
Ia juga menekankan pentingnya latihan berkala. Simulasi, kata dia, membantu siswa, guru, dan tenaga kependidikan memahami langkah penyelamatan ketika bencana benar-benar terjadi.
Mengenali ancaman lokal
Ambrosius mengingatkan bahwa gempa tidak hanya mengancam Flores. Menurut dia, ancaman serupa bisa muncul di berbagai wilayah NTT dan daerah lain, sehingga kesiapsiagaan tidak bisa dibatasi pada sekolah yang baru terdampak bencana.
Karena itu, sekolah diminta memetakan risiko di lingkungan masing-masing, lalu menyusun prosedur mitigasi yang mudah dipahami seluruh warga sekolah. Arahan ini menempatkan pendidikan kebencanaan sebagai bagian dari keterampilan praktis, bukan sekadar materi pengetahuan.
RRI melaporkan, Ambrosius menyampaikan dorongan itu pada 2 September 2026 dan memuatnya dalam berita yang terbit pada 15 September 2026. Di saat yang sama, data yang dihimpun Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menunjukkan 2.447 satuan pendidikan di Flores terdampak gempa hingga 10 September 2026, dengan 730 di antaranya mengalami kerusakan berat.
Data kementerian itu juga menyebut 1.960 satuan pendidikan masih menjalankan pembelajaran dalam moda darurat, sementara 487 satuan pendidikan telah kembali belajar normal setelah bangunannya dinyatakan aman. Informasi ini memperlihatkan bahwa pemulihan pendidikan di Flores masih berlangsung saat dorongan simulasi bencana disampaikan.
Langkah yang diminta sekolah
- mengenali potensi ancaman bencana di sekitar sekolah;
- menyusun langkah mitigasi yang dipahami siswa dan guru;
- melakukan latihan serta simulasi bencana secara berkala.
Ambrosius menempatkan simulasi sebagai bagian dari upaya pencegahan. Dengan latihan rutin, warga sekolah diharapkan lebih siap mengambil tindakan saat keadaan darurat, termasuk mengetahui jalur evakuasi dan cara menyelamatkan diri.
Hingga kini, arahan tersebut masih berupa dorongan kebijakan dari dinas pendidikan. Pemerintah daerah belum menjelaskan jadwal serentak, pedoman teknis, atau daftar sekolah yang sudah menjalankan simulasi sebagai tindak lanjut.
Dalam konteks pascagempa Flores, dorongan itu menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan sekolah tidak berhenti pada perbaikan bangunan. Sekolah juga perlu memastikan prosedur darurat dipahami dan dapat dijalankan oleh semua warga satuan pendidikan.
Sumber
Berita berikutnya
Keuskupan Agung Ende Dampingi 1.133 Warga Terdampak Gempa di Flores
Keuskupan Agung Ende bersama Caritas Indonesia memberikan pendampingan psikososial kepada 1.133 warga terdampak gempa di Flores.
Baca juga



