Keuskupan Agung Ende Dampingi 1.133 Warga Terdampak Gempa di Flores
Keuskupan Agung Ende bersama Caritas Indonesia memberikan pendampingan psikososial kepada 1.133 warga terdampak gempa di Flores.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Ende — Sebanyak 1.133 warga di 22 lokasi di wilayah Flores menerima pendampingan psikososial dari Keuskupan Agung Ende bersama Caritas Indonesia selama 21 Agustus hingga 2 September 2026, menyasar masyarakat terdampak gempa, terutama anak dan remaja.
Pendampingan ditujukan untuk membantu warga menghadapi trauma, kecemasan, kegelisahan, serta ketakutan terhadap gempa dan kondisi keluarga, agar tekanan emosional tidak menghambat aktivitas sehari-hari dan proses pemulihan.
Ketua Posko Tanggap Darurat Bencana Gempa Flores Keuskupan Agung Ende, RD Reginaldus Piperno, menyampaikan informasi tersebut dalam wawancara dengan RRI Ende pada Jumat, 4 September 2026, di Posko Keuskupan Agung Ende.
Menurut laporan RRI, kegiatan pendampingan menjangkau tiga kabupaten. Di Kabupaten Nagekeo, lokasi yang disebut meliputi Aeramo, Penginanga, Danga, Wewoloe, dan Waekokak di Kecamatan Aesesa. Di Kabupaten Ngada, pendampingan dilaksanakan di Sarasedu, Wolomeza, Sagalaka di Kecamatan Golewa, SMKN Aimere di Kecamatan Aimere, serta Hikon dan Ndeterua.
Sementara di Kabupaten Ende, kegiatan berlangsung di Aegana dan Tanali, Wologai 2 di Kecamatan Ende, Orakeri, Marokoja, Odja, dan Otorajo di Kecamatan Nangapanda, serta Ngalupolo di Kecamatan Ndona, Tiwusora di Kecamatan Lepembusu Kelisoke, Watukamba di Kecamatan Maurole, dan Kelurahan Rewaranga di Kecamatan Ende Timur.
Kegiatan dan kondisi peserta
Rangkaian kegiatan pendampingan disesuaikan dengan usia dan kondisi peserta. Anak dan remaja diajak bermain, melakukan gerak dan lagu, mengikuti storytelling, bertepuk tangan, bernyanyi, serta berbagi cerita dalam ruang yang dirancang agar mereka dapat mengekspresikan perasaan.
Menurut penjelasan RD Reginaldus Piperno yang dikutip RRI, pendamping menemukan sejumlah peserta mengalami trauma, kecemasan, kegelisahan, dan rasa takut terhadap kemungkinan gempa maupun keadaan keluarganya. Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk membantu pemulihan psikologis, membangun kembali rasa percaya diri, dan mendorong peserta kembali menjalani aktivitas secara positif.
Selain dukungan psikososial, tim memberikan motivasi agar anak dan remaja tetap belajar serta menjalani pola hidup sehat bersama keluarga. Pendampingan spiritual turut diberikan untuk memperkuat iman, harapan, dan hubungan sosial selama masa pemulihan.
Data utama program yang dilaporkan RD Reginaldus Piperno adalah:
- Penerima manfaat: 1.133 warga.
- Cakupan: 22 lokasi di Nagekeo, Ngada, dan Ende.
- Periode pelaksanaan: 21 Agustus–2 September 2026.
- Sasaran utama: anak dan remaja terdampak gempa.
- Bentuk layanan: kegiatan psikososial dan dukungan spiritual.
RRI melaporkan peserta menunjukkan respons positif, antara lain lebih aktif, bersemangat, dan gembira mengikuti kegiatan. Menurut jaringan Caritas Indonesia, dukungan psikososial bagi anak dan keluarga menjadi salah satu prioritas respons kemanusiaan Gereja Katolik pascagempa 7,7 magnitudo yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.
Konteks respons kemanusiaan
Pendampingan psikososial ini merupakan bagian dari respons kemanusiaan Posko Tanggap Darurat Bencana Gempa Flores Keuskupan Agung Ende dan Caritas Indonesia di Nagekeo, Ngada, dan Ende. Jaringan Caritas Indonesia mencatat bahwa Keuskupan Agung Ende menjadi salah satu wilayah dengan guncangan amat kuat, dengan kerusakan gereja dan pengungsian warga di sejumlah paroki.
Selain layanan psikososial, jaringan Caritas Indonesia bersama Keuskupan Agung Ende menyalurkan bantuan kebutuhan dasar, layanan kesehatan, dan logistik bagi pengungsi di berbagai pos pelayanan kemanusiaan di Flores. Menurut Vatican News, kerja sama Keuskupan Agung Ende dan Caritas Indonesia sejak awal masa darurat juga menempatkan dukungan pemulihan trauma sebagai prioritas, khususnya bagi anak-anak dan keluarga yang masih mengalami ketakutan akibat gempa susulan.
Sumber
Berita berikutnya
BNPB dan Ombudsman Perkuat Pengawasan Layanan Bencana di NTT
BNPB dan Ombudsman RI berkoordinasi memperkuat pengawasan pelayanan publik bagi warga terdampak gempa NTT dan banjir di Sumatra.

