NTT Hari Ini

Senin, 21 September 2026

Dua Unit Biogas Buka Akses Energi bagi Perempuan Desa Nenas

Perempuan Desa Nenas di Timor Tengah Selatan mendorong pembangunan biogas melalui forum perencanaan desa sejak 2023.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 4 menit baca

Soe — Perempuan di Desa Nenas, Kecamatan Fatumnasi, Kabupaten Timor Tengah Selatan, mulai menyuarakan kebutuhan energi bersih berupa biogas dalam forum perencanaan desa sejak November 2023. Hingga awal 2026, baru tersedia dua unit biogas yang dimanfaatkan warga, masing-masing di kantor desa dan di lokasi usaha kelompok UMKM Lintas Mutis menurut laporan RRI Kupang.

Laporan mendalam RRI Kupang yang terbit pada 7 Maret 2026 menggambarkan bagaimana kelompok perempuan mengusulkan pembangunan digester dan kompor biogas untuk mengurangi beban kerja di rumah dan mendukung kegiatan usaha kecil. Mereka menyampaikan usulan dalam musyawarah dusun, musyawarah desa, hingga musyawarah perencanaan pembangunan, sehingga suara perempuan mulai hadir dalam pengambilan keputusan di tingkat desa.

Frederika Kalepau, anggota kelompok UMKM Lintas Mutis, menjelaskan bahwa sebelumnya keputusan desa identik dengan kepala keluarga yang mayoritas laki-laki. Melalui undangan resmi ke musyawarah, perempuan mulai menyampaikan kebutuhan energi rumah tangga dan usaha. Kesempatan bersuara ini menjadi bagian dari perjuangan mereka untuk kesetaraan peran dalam pembangunan desa.

Beban memasak dan mencari kayu

Sebelum ada kompor biogas, perempuan Desa Nenas mengandalkan tungku kayu bakar untuk memasak. Mereka harus membagi waktu antara memasak, mengurus anak, bekerja di kebun, dan mencari kayu ketika persediaan di rumah habis. Kondisi itu membuat pekerjaan domestik dan produktif berlangsung hampir tanpa jeda sepanjang hari.

Dalam wawancara dengan RRI Kupang, Frederika mengenang bagaimana perempuan sering beraktivitas sejak pagi hingga malam karena turut membantu suami atau orang tua di kebun dan tetap memikul tanggung jawab memasak. Keberadaan kompor biogas di lokasi UMKM membantu proses pengolahan produk sehingga waktu kerja dapat diatur lebih efisien.

UMKM Lintas Mutis menjadi ruang perempuan untuk memperoleh pelatihan dan mengembangkan usaha. Menurut laporan RRI, kelompok ini mendapat pelatihan membuat aneka produk olahan, seperti pangan lokal, yang kemudian dijual ke pasar yang lebih luas. Sebagian pendapatan disimpan sebagai kas kelompok, sementara sisanya dibagikan kepada anggota.

Pemerintah desa siapkan penambahan

Kepala Desa Nenas, Simon Sasi, mengatakan pemerintah desa menerima usulan kelompok perempuan pada 2025 dan akan mengalokasikan dana desa untuk menambah unit biogas. Ia menyebut saat ini baru ada dua biogas, satu di kantor desa dan satu di lokasi UMKM, dan pemerintah desa telah menganggarkan pembangunan tambahan agar lebih banyak warga mendapat akses energi.

Simon menilai keterlibatan perempuan penting untuk mengidentifikasi kebutuhan kelompok rentan dan membuat perencanaan desa lebih inklusif. Di Desa Nenas, digester biogas memanfaatkan kotoran sapi yang dipelihara masyarakat, dengan tugas pengumpulan limbah ternak kini lebih banyak dilakukan laki-laki.

Pendamping desa dari CIS Timor yang terlibat dalam program transisi energi berkeadilan menjelaskan bahwa kelompok perempuan Desa Nenas tidak hanya mendorong pemanfaatan biogas, tetapi juga membahas kesetaraan gender dan akses energi bagi penyandang disabilitas. Dalam laporan yang dikutip Gereja Bersaudara, CIS Timor melalui program WE for JET menekankan bahwa kebijakan energi perlu memperhatikan kebutuhan perempuan, penyandang disabilitas, dan lansia.

Potensi energi terbarukan NTT

Perjuangan perempuan Desa Nenas berlangsung di tengah potensi energi terbarukan Nusa Tenggara Timur yang cukup besar. Tulisan analitis tentang transisi energi berkeadilan di NTT yang mengutip data Kementerian ESDM menyebut potensi teknis energi surya di provinsi ini mencapai sekitar 7,27 gigawatt. Potensi energi angin diperkirakan sekitar 10,188 gigawatt, dengan konsentrasi di Pulau Sumba, Timor, dan Sabu.

Potensi panas bumi di NTT mencapai sekitar 1,223 gigawatt yang tersebar di 24 lokasi, terutama di Flores, Lembata, dan Alor. Selain itu terdapat potensi tenaga air skala besar dan mikrohidro yang dinilai cocok untuk desa pegunungan. Namun, tulisan tersebut menyoroti bahwa krisis listrik dan akses bahan bakar masih dirasakan banyak rumah tangga di wilayah pedesaan, sehingga inisiatif lokal seperti biogas di Desa Nenas menjadi bagian penting dari upaya transisi energi.

Dalam laporan RRI, akademisi dari Politeknik Negeri Kupang, Alexius L. Johanis, menyatakan biogas berpeluang dikembangkan di NTT karena banyaknya ternak sapi yang dipelihara masyarakat. Tantangannya adalah kedisiplinan peternak dalam mengelola limbah ternak dan ketersediaan pakan yang memadai. Pengalaman Desa Nenas menunjukkan bagaimana dukungan kebijakan desa, pendampingan lembaga lokal, dan keberanian perempuan bersuara dapat membuka akses energi baru bagi masyarakat pedesaan.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.