Babinsa Kabuna Ajak Warga Wesesoit Lestarikan Tenun Ikat Suku Kemak
Babinsa Desa Kabuna Koramil 1605-02/Atapupu, Sertu Ferdinandus Banu, mengajak warga Dusun Wesesoit mempertahankan tradisi tenun ikat Suku Kemak.
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Atambua — Babinsa Desa Kabuna Koramil 1605-02/Atapupu, Sertu Ferdinandus Banu, mengajak warga mempertahankan tradisi tenun ikat Suku Kemak dan mewariskan keterampilan tersebut kepada generasi muda di Dusun Wesesoit, Desa Kabuna, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu.
Imbauan itu disampaikan saat ia melaksanakan komunikasi sosial bersama warga binaan pada Jumat, 18 September 2026, ketika menyambangi Mama Maria dos Santos yang sedang menenun kain tradisional di rumahnya di Dusun Wesesoit, menurut laporan RRI Atambua.
Dalam percakapan itu, Ferdinandus dan Maria membahas pentingnya menjaga keterampilan menenun serta keberadaan kain khas Suku Kemak agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya.
Babinsa tersebut mengajak Maria dan keluarganya untuk terus mengembangkan kemampuan menenun sekaligus mewariskannya kepada anak-anak dan kaum muda di lingkungan sekitar.
Tenun ikat sebagai identitas budaya
Dalam kegiatan komunikasi sosial itu, Ferdinandus menegaskan bahwa kain tenun ikat Suku Kemak bukan sekadar produk kerajinan, melainkan identitas budaya dan warisan leluhur yang memiliki nilai seni dan sejarah.
Ia menyatakan, sebagaimana dikutip RRI, bahwa masyarakat patut berbangga atas kain tenun ikat Suku Kemak dan berkewajiban menjaga kelestariannya dengan terus memproduksi kain tersebut.
Penelitian dan laporan mengenai komunitas Suku Kemak di Belu menggambarkan tenun ikat sebagai bagian penting dari kehidupan sosial dan ritual masyarakat, termasuk dalam upacara adat dan tradisi keluarga, sehingga pelestarian tenun berkaitan langsung dengan keberlanjutan budaya setempat.
Berbagai kajian akademis juga mencatat motif dan teknik tenun ikat Suku Kemak sebagai bagian dari kekayaan budaya di kawasan perbatasan Timor, dengan sejumlah perajin yang mengembangkan kain untuk kebutuhan adat maupun pasar lokal.
Menghubungkan pelestarian budaya dan ekonomi keluarga
Dalam dialog di Dusun Wesesoit, Ferdinandus mengaitkan pelestarian tenun ikat dengan penguatan ekonomi keluarga.
Ia mendorong agar kegiatan menenun dimanfaatkan sebagai salah satu sumber penghasilan, sehingga mutu dan kreativitas produk dapat ditingkatkan agar lebih menarik dan mampu bersaing.
Menurut pemberitaan RRI, melalui komunikasi sosial Babinsa membangun hubungan langsung dengan masyarakat sekaligus memberikan motivasi di berbagai bidang, mulai dari pelestarian budaya hingga pemberdayaan ekonomi dan usaha mikro kecil menengah.
Upaya penguatan perajin tenun ikat Suku Kemak juga muncul dalam kajian perlindungan kekayaan intelektual komunal terhadap motif tenun ikat di Atambua, yang menyoroti potensi peningkatan kesejahteraan perajin melalui pengakuan dan pengembangan motif khas.
Mendorong regenerasi penenun muda
Ferdinandus mengingatkan agar tradisi menenun tidak berhenti pada generasi yang saat ini menguasai keterampilan tersebut.
Ia mendorong anak-anak dan generasi muda di Dusun Wesesoit mulai mengenal dan mempelajari proses pembuatan kain tenun ikat sejak dini, agar keterampilan itu tidak hilang.
Komunikasi sosial seperti yang dilakukan Babinsa Desa Kabuna menjadi salah satu cara aparat kewilayahan menyampaikan pesan pelestarian budaya dan penguatan ekonomi kepada warga, sekaligus memperkuat hubungan antara perajin tenun, keluarga, dan struktur desa.
Dalam konteks yang lebih luas, pelestarian tenun ikat Suku Kemak di Kabupaten Belu memerlukan dukungan berkelanjutan, baik dalam bentuk pendampingan teknis, akses pasar, maupun perlindungan terhadap motif dan identitas budaya yang terkandung dalam setiap lembar kain.
Sumber
Berita berikutnya
RSHP Undana Sediakan 50 Vaksin Gratis untuk Hewan Peliharaan
RSHP Undana menggelar vaksinasi gratis untuk hewan peliharaan pada 18 September 2026 sebagai bagian dari Dies Natalis Undana ke-64 dan World Rabies Da…
Baca juga


