Huntap Lewotobi: 244 Rumah di Kuhe Ditargetkan Rampung Bertahap
Pemerintah NTT menargetkan 244 unit hunian tetap tahap pertama di Huntap Kuhe, Flores Timur, bagi warga terdampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 4 menit baca
Maumere — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur bersama Pemerintah Kabupaten Flores Timur mempercepat pembangunan hunian tetap bagi warga terdampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki di lokasi relokasi Kuhe, Kecamatan Titehena, Flores Timur.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena dalam rapat koordinasi di Maumere pada 8 September 2026 menyatakan pemerintah menargetkan pembangunan 244 unit rumah di Huntap Kuhe dapat dimulai dan diselesaikan pada tahun 2026, dengan dukungan anggaran sekitar Rp80 miliar dari Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman.
Menurut penjelasan gubernur yang dikutip lembaga penyiaran publik dan situs resmi pemerintah provinsi, penetapan kawasan Kuhe di Desa Konga sebagai lokasi hunian tetap dilakukan berdasarkan kajian teknis yang menilai area tersebut aman dari ancaman erupsi susulan dan memadai untuk penataan kawasan permukiman baru.
Rapat koordinasi di Maumere diikuti jajaran Pemerintah Kabupaten Flores Timur, termasuk Wakil Bupati Ignasius Boli Uran, yang diminta memperkuat koordinasi dengan pemerintah provinsi dan kementerian terkait agar proses relokasi dapat berjalan sesuai sasaran.
Target 244 Unit dan Rencana Tahap Pembangunan
Dalam penjelasan pemerintah provinsi, pembangunan hunian tetap relokasi terpadu direncanakan di tiga lokasi, yakni Kuhe di Desa Konga serta Todo dan Walang di Desa Lewolaga, dengan total luas sekitar 52,98 hektare.
Di Kuhe, tahap pertama pembangunan ditetapkan untuk 244 unit rumah bagi keluarga yang terdampak langsung erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki di Flores Timur.
Informasi susulan dari lembaga penyiaran publik menyebut pembangunan fisik Huntap tahap pertama di Kuhe akan menggunakan skema kontrak tahun jamak, dengan masa kontrak pembangunan hingga Juli 2027 dan sasaran seluruh warga yang masih menghuni hunian sementara dapat menempati rumah tetap pada 2028.
Kesiapan Lahan dan Administrasi Pertanahan
Meski anggaran telah dialokasikan, pelaksanaan pembangunan masih bergantung pada penyelesaian urusan pertanahan dan administrasi lahan di tingkat daerah.
Dalam forum rapat lintas kementerian di Jakarta, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait menjelaskan bahwa anggaran sekitar Rp80 miliar telah disiapkan untuk pembangunan hunian tetap pascaerupsi Lewotobi Laki-Laki, namun masih terdapat pekerjaan administrasi yang harus dirampungkan sebelum pengadaan lahan dapat dilanjutkan.
Wakil Bupati Flores Timur Ignasius Boli Uran dalam wawancara dengan lembaga penyiaran publik menyatakan bahwa pemerintah kabupaten menyiapkan akses jalan menuju lokasi Kuhe, termasuk pembukaan ruas jalan Kuhe–Konga sekitar tiga kilometer yang melanjutkan pekerjaan sebelumnya hingga total sekitar sepuluh kilometer untuk menunjang mobilitas warga dan distribusi material pembangunan.
Pemerintah daerah dan kementerian terkait menyepakati bahwa percepatan relokasi membutuhkan sinkronisasi data pemilik tanah, pengukuran bidang, dan penetapan hak atas tanah, termasuk pengaturan lahan adat di lokasi relokasi.
Konteks Erupsi dan Pengungsi Lewotobi
Pembangunan hunian tetap di Kuhe merupakan bagian dari penanganan jangka panjang bagi warga yang terdampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki sejak akhir 2023 hingga 2024.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana melaporkan, erupsi besar pada 3–4 November 2024 menyebabkan sedikitnya sembilan orang meninggal dan puluhan lainnya terluka, dengan jumlah pengungsi meningkat dari 2.472 jiwa menjadi 4.436 jiwa dalam beberapa hari pertama masa tanggap darurat.
Data resmi BNPB yang dikutip media nasional menyebut total warga terdampak mencapai lebih dari sepuluh ribu jiwa, dengan ribuan orang mengungsi di tenda-tenda evakuasi dan fasilitas umum di Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Sikka.
Dalam rekomendasi Badan Geologi, masyarakat di sekitar Gunung Lewotobi Laki-Laki diminta dievakuasi ke luar radius tujuh kilometer dari kawah aktif, sehingga kebutuhan lokasi relokasi permanen menjadi salah satu agenda utama pemerintah daerah dan pusat.
Langkah Lanjut Pemerintah Daerah dan Pusat
Pemerintah Kabupaten Flores Timur menargetkan seluruh warga terdampak yang masih tinggal di hunian sementara dapat menempati Huntap Kuhe dan lokasi relokasi lain secara bertahap mulai 2027 hingga 2028.
Pemerintah provinsi mendorong penyelesaian urusan pertanahan, pembangunan akses jalan, serta pemantapan desain kawasan permukiman agar relokasi tidak hanya menyediakan rumah, tetapi juga menjamin layanan dasar dan dukungan sosial ekonomi bagi warga yang pindah.
Koordinasi antara pemerintah daerah, pemerintah provinsi, dan kementerian teknis di Jakarta diharapkan memastikan bahwa pembangunan 244 unit Huntap Kuhe berjalan sesuai target dan menjadi model penanganan bencana gunung api di Nusa Tenggara Timur.
Sumber
- RRI Ende - "Huntap Lewotobi Tahap 1 di Kuhe Ditargetkan Rampung Juli 2027"
- Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT - "Gubernur Melki Percepat Huntap Lewotobi, 244 Rumah Ditargetkan Dibangun Tahun Ini"
- Investortrust.id - "Menteri Ara Telepon Nusron di Tengah Rapat, Bongkar Masalah Huntap Pascaaerupsi Lewotobi Laki-Laki"
- Tempo.co - "Jumlah Pengungsi Meningkat, Status Tanggap Darurat Gunung Lewotobi hingga Akhir Tahun"
- Metrotvnews.com - "BNPB Pastikan Kebutuhan Pengungsi Erupsi Gunung Lewotobi Terpenuhi"
- Kementerian ESDM - "G. Lewotobi Erupsi, Badan Geologi Rekomendasi Evakuasi Masyarakat dalam Radius 7 Km dari Kawah"
Berita berikutnya

Badan Geologi Turunkan Status Lewotobi Laki-Laki ke Level II Waspada
Badan Geologi menurunkan status Gunung Lewotobi Laki-Laki dari Level III Siaga menjadi Level II Waspada pada 16 September 2026 setelah aktivitas vulka…
Baca juga


