Likurai Belu-Malaka, Tari Perempuan Penjaga Warisan Timor
Likurai adalah tari tradisional masyarakat Tetun di Belu dan Malaka, Pulau Timor, yang berakar pada tradisi perang dan penyambutan pahlawan.
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· 4 menit baca
Belu — — Likurai adalah tari tradisional masyarakat Tetun di Belu dan Malaka, Pulau Timor, yang kini menjadi simbol kebanggaan dan identitas budaya di perbatasan Nusa Tenggara Timur dan Timor Leste.
Tari ini dikenal sebagai tari perang yang dulu dipentaskan untuk menyambut para pejuang yang pulang dari medan perang, serta pada masa panen sebagai ungkapan syukur masyarakat desa.
Dalam perkembangan terbaru, Likurai lebih sering ditampilkan untuk menyambut tamu kehormatan, dalam upacara adat, festival budaya, dan pertunjukan seni lintas daerah.
Asal-usul dan fungsi sosial
Sejumlah kajian akademik menyebut Likurai berakar dari Desa Kereana di Kecamatan Botin Leobele, Kabupaten Malaka, dan kemudian menyebar ke wilayah Belu serta komunitas Tetun di kawasan perbatasan.
Tari ini awalnya berkaitan erat dengan tradisi perang dan penghormatan terhadap pahlawan yang kembali dengan selamat, sebelum maknanya bergeser menjadi ekspresi syukur dan penghormatan kepada tamu maupun pejabat yang datang ke kampung.
Penelitian tentang fungsi Likurai mencatat sedikitnya lima peran utama: religius, seremonial, ungkapan syukur, hiburan, dan pendidikan, yang menjadikannya ruang belajar nilai keberanian, kebersamaan, dan penghormatan dalam komunitas.
Peran perempuan dan bentuk pertunjukan
Likurai umumnya ditarikan oleh kelompok perempuan yang membawa tihar, kendang kecil tradisional, sekaligus memainkan alat musik sambil bergerak dalam formasi melingkar atau berbaris.
Di tengah kelompok perempuan itu biasanya hadir satu atau dua penari laki-laki, dikenal sebagai peronggong, yang membawa pedang sebagai lambang kepahlawanan orang Belu dan Malaka.
Keunikan Likurai terletak pada perpaduan gerak dan bunyi yang dihasilkan oleh para penari sendiri: hentakan kaki, ayunan tubuh, dan pukulan tihar menciptakan ritme yang mengiringi tarian tanpa perlu tambahan musik luar.
Dalam pementasan tradisional, jumlah penari berkisar sekitar sepuluh orang laki-laki dan perempuan, dengan perempuan mendominasi barisan pembawa tihar dan laki-laki mengisi peran simbolik sebagai pejuang.
Busana dan alat musik
Penari Likurai mengenakan kain tenun ikat khas Belu dan Malaka yang dibalut sebagai sarung dan selendang, menjadi penanda kuat identitas masyarakat Tetun di kedua kabupaten.
Penari perempuan memakai busana adat perempuan lengkap dengan tenun dan hiasan kepala, sementara penari laki-laki menggunakan busana adat laki-laki dengan pedang sebagai atribut utama.
Alat musik utama adalah tihar, kendang kecil yang disampirkan di bawah ketiak dan dipukul cepat oleh penari perempuan, dengan bunyi yang diperkuat oleh giring-giring atau lonceng kecil yang dipasang di kaki penari.
Pukulan tihar dan bunyi giring-giring ini menjadi satu-satunya iringan utama dalam banyak pertunjukan Likurai, sehingga penari sekaligus berperan sebagai penabuh dan penjaga ritme.
Pewarisan dan festival
Likurai telah diwariskan turun-temurun di desa-desa Belu dan Malaka, dan tetap ditampilkan dalam ritual adat serta berbagai kegiatan budaya di tingkat kabupaten.
Pada 2017, pemerintah daerah dan komunitas budaya menggelar tarian Likurai massal dengan ribuan penari dari Belu, Malaka, dan Timor Leste, yang kemudian menjadi dasar penyelenggaraan Festival Likurai di kawasan perbukitan Fulan Fehan.
Festival ini menempatkan Likurai sebagai pertunjukan kolosal di ruang terbuka, sekaligus ajang pertemuan generasi muda dari kampung-kampung Tetun di dua kabupaten dan negara tetangga.
Sejumlah penelitian mencatat bahwa proses latihan dan pementasan Likurai melibatkan anak muda, terutama perempuan, yang belajar langsung dari tetua adat dan pengajar tari di komunitas.
Status warisan budaya
Tarian Likurai telah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dalam kategori tarian daerah dari Provinsi Nusa Tenggara Timur, dengan elemen budaya yang melekat pada masyarakat Belu dan Malaka.
Pencatatan ini memperkuat posisi Likurai sebagai bagian dari warisan budaya nasional, sekaligus memberi dasar bagi pemerintah daerah untuk menjadikannya bahan pengembangan pariwisata budaya dan pendidikan lokal.
Bagi masyarakat di perbatasan Timor, Likurai tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga cara menjaga ingatan kolektif mengenai sejarah kampung, relasi antarwarga, dan batas-batas budaya yang melampaui garis negara.
Sumber
Berita berikutnya
Asal-Usul Kota Soe dan Jejak Tiga Kerajaan di TTS
Asal-usul nama Soe di Timor Tengah Selatan masih memiliki beberapa versi, sementara perkembangan kota ini erat berkaitan dengan penaklukan dan penggab…
Baca juga


