Asal-Usul Kota Soe dan Jejak Tiga Kerajaan di TTS
Asal-usul nama Soe di Timor Tengah Selatan masih memiliki beberapa versi, sementara perkembangan kota ini erat berkaitan dengan penaklukan dan penggabungan wilayah Amanuban, Amanatun, dan Molo pada masa Hindia Belanda.
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· 4 menit baca
Soe — Kota Soe, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan di Nusa Tenggara Timur, memiliki sejarah yang bertaut dengan tiga kerajaan besar di wilayah ini: Amanuban, Amanatun, dan Molo.
Penjelasan mengenai asal-usul nama Soe masih beragam dan belum dirumuskan secara tunggal.
Dalam siaran budaya sebuah radio publik pada pertengahan September 2026, budayawan Timor, Pina Ope Nope, mengingatkan bahwa cerita-cerita populer tentang nama Soe perlu diperlakukan sebagai bahan kajian, bukan langsung sebagai fakta sejarah.
Asal-usul nama Soe
Salah satu kisah yang banyak dikutip mengaitkan nama Soe dengan pertemuan serdadu Hindia Belanda dan seorang perempuan lokal yang sedang menimba air di sebuah mata air.
Dalam kisah itu, serdadu menanyakan nama tempat, sementara sang perempuan menjawab bahwa ia sedang menimba air, menggunakan ungkapan bahasa Dawan yang berbunyi kira-kira “au soe oe”.
Menurut tulisan sejarah lokal yang dimuat sebuah media di Kupang, kata yang ditangkap serdadu adalah “Soe”, lalu dilaporkan sebagai nama lokasi yang kemudian berkembang menjadi pusat pemerintahan baru.
Pina Ope Nope menilai kisah tersebut lebih tepat dipahami sebagai legenda yang hidup dalam ingatan masyarakat, karena belum ditopang kajian antropologis dan sejarah yang memadai.
Ia juga menyebut adanya versi lain yang mengaitkan nama Soe dengan sebuah wadah air yang digunakan seorang raja kecil dari Kerajaan Amanuban untuk menelaah atau meramal.
Dalam tuturan adat, istilah Soe dihubungkan dengan wadah air itu sebagai titik awal penamaan kawasan yang kelak menjadi kota.
Pina mendorong penelitian yang lebih sistematis agar penelusuran nama Soe tidak hanya bersandar pada satu cerita yang beredar luas, terutama di media sosial, melainkan juga pada dokumen kolonial, arsip lokal, dan kajian etnografis.
Keberadaan tiga kerajaan di TTS
Sejarah kota ini terkait erat dengan tiga kerajaan di wilayah yang sekarang menjadi Kabupaten Timor Tengah Selatan, yaitu Amanuban, Amanatun, dan Molo.
Menurut penjelasan Pina yang dikutip radio publik, ketiga kerajaan itu pada masa lalu berdiri terpisah dan memiliki adat istiadat, struktur sosial, serta sistem pemerintahan masing-masing.
Catatan sejarah yang ia paparkan menyebut bahwa pemerintah Hindia Belanda mulai menaklukkan wilayah kerajaan-kerajaan tersebut pada awal abad ke-20: Kerajaan Molo sekitar 1906, Amanatun sekitar 1908, dan Amanuban sekitar 1910.
Setelah penaklukan, ketiga swapraja itu digabung ke dalam satu wilayah pemerintahan lokal bernama Onderafdeling Zuid Midden Timor.
Penjelasan seorang camat di TTS dalam kegiatan napak tilas sejarah menjelang peringatan hari ulang tahun kota tahun 2025 menyebut bahwa Onderafdeling Zuid Midden Timor meliputi Amanuban, Amanatun, dan Molo sebagai kerajaan otonom.
Pemerintahan kolonial menempatkan seorang kontroler sebagai pimpinan administratif di wilayah tersebut.
Pemindahan pusat pemerintahan ke Soe
Pada awal pembentukan Onderafdeling Zuid Midden Timor, pusat pemerintahan disebut berada di O’Besi, yang kini dikenal sebagai kawasan Embun Mollo.
Menurut penjelasan pejabat setempat, Belanda kemudian memindahkan pusat pemerintahan ke Soe karena lokasi O’Besi dianggap jauh dari wilayah Amanuban dan Amanatun.
Sejumlah tulisan sejarah yang menggunakan arsip kolonial menyebut bahwa nama Soe mulai digunakan sekitar 1905–1906, ketika aparat Hindia Belanda melakukan survei di kampung tradisional Huemneo.
Dalam bahan kajian kebudayaan yang merangkum sejarah lokal Timor, penetapan Soe sebagai ibu kota Zuid Midden Timor disebut terjadi sekitar 1920 atas kesepakatan tiga raja: Lay Akun Oematan dari Molo, Pae Nope dari Amanuban, dan Kolo Banunaek dari Amanatun.
Di tingkat pemerintah daerah, narasi yang berkembang menempatkan tanggal 1 September 1922 sebagai momen peresmian Kota Soe sebagai pusat pemerintahan Onderafdeling Zuid Midden Timor yang baru.
Penjelasan itu menyebut adanya penanaman pohon beringin sebagai penanda di lokasi yang sekarang menjadi kawasan pendidikan di Soe.
Hari jadi dan penanda sejarah kota
Pemerintah kabupaten memperingati hari ulang tahun Kota Soe setiap 1 September.
Dalam laporan sebuah pengadilan agama di Soe, peringatan Hari Ulang Tahun ke-104 Kota Soe berlangsung pada 1 September 2026 di halaman kantor bupati.
Perhitungan usia yang digunakan pada peringatan itu selaras dengan narasi lokal yang menempatkan awal 1920-an sebagai tonggak resmi Soe sebagai pusat pemerintahan Zuid Midden Timor.
Bagi Pina Ope Nope, penetapan tanggal kelahiran kota membantu masyarakat menyusun ingatan kolektif tentang hubungan antara identitas lokal, warisan kerajaan, dan pembentukan pusat pemerintahan modern.
Ia menilai penting adanya kajian sejarah yang lebih kuat, agar generasi muda di TTS mengenal Kota Soe bukan hanya melalui cerita lisan, melainkan juga melalui dokumentasi yang memadai.

