Mengapa Inflasi NTT Naik dan Apa Dampaknya bagi Ekonomi Daerah?
Inflasi NTT pada triwulan II 2026 naik menjadi 3,56 persen. Tekanan utama datang dari pangan, sementara ekonomi tetap tumbuh 5,01 persen dan harga yang diterima petani bergerak berbeda antar-subsektor.
Oleh Pandi Muktar
· 2 menit baca
Inflasi NTT pada triwulan II 2026 mencapai 3,56 persen secara tahunan, lebih tinggi daripada sasaran 2,5±1 persen dan terutama didorong kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Bank Indonesia memperkirakan inflasi 2026 tetap berada dalam sasaran, tetapi cenderung meningkat dibandingkan 2025.
Mengapa inflasi NTT meningkat?
Menurut Bank Indonesia dalam Laporan Perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Timur Agustus 2026, inflasi triwulan II 2026 naik dari 2,40 persen pada triwulan I 2026. Kenaikan terutama bersumber dari kelompok makanan, minuman dan tembakau, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya.
Tekanan harga pangan menjadi isu penting bagi NTT karena distribusi antarwilayah dipengaruhi biaya logistik dan pasokan komoditas. Bank Indonesia menyebut risiko pasokan pangan serta biaya distribusi dan logistik antarwilayah sebagai faktor yang dapat menekan inflasi.
Berapa pertumbuhan ekonomi NTT?
Perekonomian NTT tumbuh 5,01 persen secara tahunan pada triwulan II 2026, menurut Bank Indonesia, 2026. Angka itu lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 5,32 persen pada triwulan I 2026.
Perlambatan terjadi pada pertanian, perikanan dan kehutanan serta administrasi pemerintahan. Sebaliknya, konstruksi dan perdagangan besar serta eceran mengalami akselerasi pada triwulan II 2026.
Bagaimana posisi harga di tingkat petani?
Nilai Tukar Petani NTT pada Agustus 2025 sebesar 101,93, naik 2,88 persen dibandingkan Juli 2025, menurut Badan Pusat Statistik NTT, 2025. NTP menggambarkan perbandingan indeks harga yang diterima dan dibayar petani, bukan ukuran langsung kesejahteraan.
Pada bulan yang sama, NTP tanaman pangan naik 5,31 persen menjadi 102,42, sedangkan NTP perikanan tangkap naik 1,22 persen menjadi 92,84, menurut BPS NTT, 2025. Perbedaan ini menunjukkan perubahan harga dan biaya tidak sama di setiap subsektor.
Apa dampaknya bagi rumah tangga?
Inflasi memengaruhi daya beli melalui perubahan harga barang dan jasa, terutama ketika kenaikan terjadi pada kebutuhan pangan. BPS NTT mencatat persentase penduduk miskin pada Maret 2025 sebesar 18,60 persen, turun 0,42 poin persentase dibandingkan September 2024.
Bank Indonesia memperkirakan ekonomi NTT pada 2026 tumbuh dalam kisaran 4,2–5,2 persen secara tahunan. Inflasi 2026 diprakirakan berada dalam rentang sasaran 2,5±1 persen, dengan kecenderungan meningkat dibandingkan inflasi 2025 sebesar 2,39 persen.
Apa yang dilakukan untuk menahan inflasi?
Bank Indonesia menyebut koordinasi TPIP-TPID dan penguatan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera sebagai bagian dari upaya pengendalian inflasi pangan. Lembaga itu juga menekankan peningkatan produksi dan produktivitas serta penguatan cadangan pangan.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Flores
BI NTT Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi 2026–2027 hingga 5,9 Persen
Bank Indonesia NTT memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026–2027 sebesar 3,9–5,9 persen. Gempa Flores berpotensi menahan laju ekonomi, sementara hiliri…
Terbaru di Ekonomi

Berita utama hari ini

Baca juga





