NTT Hari Ini

Sabtu, 26 September 2026

Moko Alor: arti, fungsi adat, dan asal-usul nekara perunggu

Moko di Alor adalah nekara perunggu pusaka yang dipakai sebagai mas kawin, simbol status sosial, dan benda adat yang diwariskan turun-temurun.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Pemandangan udara permukiman pedesaan dengan jalan beraspal di tengah pepohonan hijau.
Ilustrasi: Pemandangan udara permukiman pedesaan dengan jalan beraspal di tengah pepohonan hijau. · Foto: Franklin Peña Gutierrez / Pexels

Moko di Alor adalah nekara perunggu yang menjadi benda pusaka, mas kawin, dan penanda status sosial dalam adat setempat. Istilah ini dipakai masyarakat Alor dan Pantar untuk menyebut genderang perunggu ritual yang diwariskan turun-temurun, bukan sekadar benda koleksi atau alat musik biasa.

Apa itu moko dalam tradisi Alor?

Dalam literatur ilmiah, moko dijelaskan sebagai istilah umum yang dipakai masyarakat di Pulau Alor untuk nekara perunggu ritual dan perdagangan. Kajian lain menyebut moko sebagai benda budaya prasejarah yang tetap hidup dalam kehidupan sosial-budaya masyarakat Alor.

Moko juga dikenal sebagai benda pusaka keluarga. Di sejumlah tulisan akademik, ia dipakai dalam upacara adat, termasuk perkawinan, kematian, pendirian rumah, dan pesta panen.

Mengapa moko penting dalam perkawinan adat?

Di Alor, moko berfungsi sebagai belis atau mas kawin. Sebuah artikel ilmiah menyebut moko sebagai simbol belis dan status sosial, sementara artikel lain menjelaskan bahwa moko diberikan pihak laki-laki kepada pihak perempuan dalam perkawinan adat.

Beberapa sumber populer dan ilmiah sama-sama menegaskan bahwa jumlah dan jenis moko dapat menunjukkan posisi sosial keluarga dalam komunitas Alor.

Dari mana asal moko?

Sejumlah sumber menautkan moko dengan tradisi nekara perunggu Asia Tenggara dan menyebut pengaruh Dongson, Vietnam utara, sebagai salah satu asal yang paling sering diajukan.

Namun, kajian terbaru juga mencatat bahwa asal pembuatan moko tidak sepenuhnya pasti, meski masyarakat lokal menganggapnya sebagai pusaka yang penting bagi identitas mereka.

Masih dipakai untuk apa saja?

Selain sebagai belis, moko juga disebut berfungsi sebagai alat tukar, simbol status, dan alat musik dalam sejumlah ritus adat. Sebuah kajian menyebut moko hadir dalam praktik sosial-keagamaan masyarakat Alor sebagai benda yang mengikat harmoni sosial.

  • moko disebut sebagai nekara perunggu oleh masyarakat Alor.
  • moko dipakai sebagai mas kawin dan penanda status sosial.
  • moko hadir dalam praktik adat yang diwariskan antargenerasi.

Kenapa orang Alor masih membicarakan moko?

Moko penting karena ia menyatukan sejarah, identitas, dan aturan adat di Alor. Bagi pembaca di Kepulauan NTT, moko menjelaskan mengapa benda perunggu tua ini tetap punya tempat dalam perkawinan, warisan keluarga, dan cerita asal-usul masyarakat setempat.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Kepulauan

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.