NTT Hari Ini

Jumat, 25 September 2026

Pakaian adat Rote: ciri, busana pria dan wanita, serta fungsinya

Pakaian adat Rote paling mudah dikenali lewat Ti’i Langga pada busana pria, lalu kain tenun, Habas, dan aksesori wanita seperti Bula Molik. Ia dipakai dalam upacara adat, pernikahan, dan acara resmi.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 3 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Tampilan jarak dekat benang dan kain rajut atau tenun pada bilah kayu.
Ilustrasi: Tampilan jarak dekat benang dan kain rajut atau tenun pada bilah kayu. · Foto: Magda Ehlers / Pexels

Pakaian adat Rote adalah busana tradisional masyarakat Rote di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, yang paling mudah dikenali lewat topi Ti’i Langga. Pada busana pria, cirinya berupa kemeja putih lengan panjang, sarung tenun gelap, selendang di bahu, dan aksesori leher, sedangkan busana wanita memakai kain tenun dengan perhiasan kepala dan pinggang.

Apa ciri utama pakaian adat Rote?

Ciri yang paling menonjol adalah Ti’i Langga, penutup kepala pria dari anyaman daun lontar kering yang berbentuk lebar. Pemerintah Kabupaten Rote Ndao menulis bahwa Ti’i Langga dipadukan dengan selimut di bahu, sarung di pinggang, dan Habas di leher.

Indonesia.travel juga menyebut pakaian pria Rote umumnya memakai kemeja putih polos lengan panjang, sarung tenun ikat gelap, selendang kain tenun di bahu, dan Habas di leher.

Bagaimana busana pria Rote disusun?

Busana pria Rote tersusun dari atasan kemeja putih, bawahan sarung tenun, dan selendang yang diselempangkan. Pada beberapa penjelasan, sarung itu disebut sebagai bagian utama busana pria, sementara Ti’i Langga menjadi penanda visual yang paling khas.

Sejumlah sumber juga menyebut ada golok atau senjata tradisional yang diselipkan di pinggang pada busana pria, tetapi unsur yang konsisten muncul di sumber resmi adalah kemeja putih, tenun, selendang, dan Ti’i Langga.

Bagaimana busana wanita Rote dibedakan?

Busana wanita Rote memakai kain tenun bermotif khas dan dilengkapi aksesori seperti Bula Molik, Pendi, dan Habas. Pemerintah Kabupaten Rote Ndao menjelaskan Bula Molik dipakai di kepala, Pendi sebagai ikat pinggang wanita dari perak atau emas, dan Habas dikalungkan di leher.

Indonesia.travel menambahkan bahwa perempuan Rote memakai atasan dan bawahan kain tenun ikat bermotif khas, dengan aksesori kepala dari emas atau perak.

Kapan pakaian adat Rote dipakai?

Sumber-sumber yang ditelusuri menyebut pakaian adat Rote digunakan dalam upacara adat, pernikahan, dan acara resmi. Indonesia.travel mencatat fungsi itu secara langsung, dan keterangan serupa juga muncul dalam laman budaya daerah Rote Ndao.

Karena itu, pakaian adat Rote bukan hanya busana seremonial, tetapi juga penanda identitas sosial masyarakat Rote Ndao dalam acara yang menonjolkan adat dan kehormatan.

Mengapa pakaian adat Rote sering dicari?

Pencarian tentang pakaian adat Rote biasanya mengarah pada dua hal: bentuk busananya dan makna Ti’i Langga sebagai ciri paling khas. Sumber resmi daerah dan laman pariwisata nasional sama-sama menempatkan topi itu sebagai penanda yang paling mudah dikenali dari busana Rote.

Di banyak penjelasan, istilah yang dipakai juga beragam, mulai dari “pakaian adat Rote” sampai “tenun ikat Rote”, tetapi unsur yang berulang tetap sama: kemeja putih, tenun gelap, Ti’i Langga, dan aksesori wanita seperti Bula Molik dan Pendi.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Kepulauan

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.