NTT Hari Ini

Senin, 28 September 2026

Nama pakaian adat Nusa Tenggara Timur: ragam sebutan per suku

Pakaian adat NTT tidak punya satu nama tunggal. Tiap suku memakai busana berbeda, namun kain tenun ikat menjadi ciri yang paling konsisten di Rote, Sumba, Timor, dan Lamaholot.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 3 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Detail jarak dekat motif kain tenun ikat berwarna merah kecokelatan dan kuning.
Ilustrasi: Detail jarak dekat motif kain tenun ikat berwarna merah kecokelatan dan kuning. · Foto: Tanpa nama / rawpixel (Openverse), CC0

Nama pakaian adat Nusa Tenggara Timur tidak tunggal, karena tiap suku memakai busana yang berbeda. Namun, benang merahnya sama: kain tenun ikat, dengan contoh yang sering disebut antara lain ti’i langga di Rote, hinggi di Sumba, amarasi di Timor, serta busana Lamaholot yang mengenal kwatek, kewodu, dan howing.

Kenapa namanya bisa berbeda-beda?

NTT terdiri dari banyak kelompok budaya, sehingga nama pakaian adat mengikuti suku dan daerah asalnya. Karena itu, penyebutan “pakaian adat NTT” biasanya merujuk pada rumpun busana tradisional, bukan satu model tunggal.

Dalam rujukan pemerintah provinsi, beberapa yang ditampilkan ialah pakaian adat Rote, Manggarai, dan Sumba, yang masing-masing punya ciri sendiri.

Nama pakaian adat NTT yang paling sering disebut apa saja?

Untuk Rote, busana pria dikenal dengan ciri ti’i langga, kemeja putih lengan panjang, sarung tenun ikat gelap, dan selendang kain tenun; busana wanitanya memakai aksesori kepala, ikat pinggang, dan kain tenun ikat bermotif khas.

Untuk Sumba, sumber Kementerian Pendidikan yang dikutip media menyebut dua lembar kain utama, yakni hinggi kombu dan hinggi kowaru, sebagai penutup badan yang menonjol dalam busana adat setempat.

Untuk Lamaholot di Flores Timur dan sekitarnya, e-book Kemdikbud menyebut pakaian sehari-hari perempuan disebut kwatek, pakaian pria kewodu, dan pakaian orang tua howing.

Di Timor, penyebutan yang sering muncul adalah amarasi, dan salah satu rujukan umum menempatkannya sebagai nama pakaian adat suku Dawan.

Apa ciri umum pakaian adat NTT?

Ciri yang paling konsisten ialah penggunaan kain tenun, baik sebagai sarung, selendang, maupun penutup badan lain. Kemdikbud menyebut produk tenunan di NTT terdiri atas sarung, selimut, dan selendang, dan pemakaiannya dapat dibagi untuk harian, bertamu, serta upacara dan pesta.

Rujukan lain juga menunjukkan bahwa pada busana pria sering muncul hiasan kepala, jas tutup atau kemeja, selendang kain, dan perhiasan seperti pending atau kalung; pada busana wanita muncul hiasan kepala, subang, gelang, dan kain tenun yang menutup tubuh.

Mana yang sering dipakai saat acara adat?

Dalam praktik adat, busana biasanya dibedakan menurut fungsi. Tenun ikat dipakai tidak hanya untuk upacara, tetapi juga untuk bertamu dan kegiatan harian tertentu, menurut dokumen Kemdikbud tentang tenun ikat NTT.

Artinya, saat orang mencari “nama pakaian adat NTT”, jawaban yang paling tepat bukan satu nama, melainkan beberapa nama sesuai suku: ti’i langga untuk Rote, hinggi untuk Sumba, amarasi untuk Timor, dan kwatek atau kewodu untuk Lamaholot.

Singkatnya

  • Pakaian adat NTT tidak satu nama, melainkan beragam sesuai suku dan wilayah asal.
  • Benang merahnya adalah kain tenun ikat, yang tampil sebagai sarung, selendang, atau penutup badan.
  • Nama yang paling sering muncul antara lain ti’i langga, hinggi, amarasi, kwatek, kewodu, dan howing.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Sumba

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.