NTT Hari Ini

Minggu, 1 November 2026

NTT Dorong Camino de Flores Menjadi Ikon Wisata Religi Indonesia

Pemerintah NTT dan BPOLBF mendorong Camino de Flores menjadi ikon wisata religi Indonesia setelah etape tengah sepanjang sekitar 70 kilometer berakhir di Ende pada 26 Oktober 2026.

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Kaki bersepatu mendaki menginjak batang kayu tumbang di antara semak hijau.
Ilustrasi: Kaki bersepatu mendaki menginjak batang kayu tumbang di antara semak hijau. · Foto: Sidde / Pexels

Ende — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur bersama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores mendorong Camino de Flores sebagai ikon wisata religi Indonesia pada 29 Oktober 2026. Pemerintah menyebut Kementerian Pariwisata telah menetapkannya sebagai program percontohan nasional.

Mengapa ini penting: Pengembangan Camino de Flores menghubungkan rute ziarah sepanjang sekitar 70 kilometer melalui Ngada, Nagekeo, dan Ende serta menjadi proyek percontohan untuk pengembangan wisata religi Flores.

Camino de Flores merupakan rute ziarah jalan kaki yang menghubungkan destinasi keagamaan, desa wisata, warisan budaya, dan lanskap alam di Pulau Flores. Menurut RRI, pengembangan rute ini diarahkan untuk memperluas manfaat pariwisata ke luar Labuan Bajo dan memperkuat interaksi wisatawan dengan masyarakat setempat.

Rute percontohan etape tengah berlangsung pada 23-27 Oktober 2026, dari Bajawa menuju Ende melalui Kabupaten Ngada, Nagekeo, dan Ende. Sekitar 70 peserta dijadwalkan menempuh jarak sekitar 70 kilometer.

Perjalanan berakhir pada 26 Oktober 2026 setelah peserta menuju kawasan puncak Danau Kelimutu dan melanjutkan perjalanan sekitar 13 kilometer ke Desa Wisata Waturaka, Ende. Rangkaian kegiatan kemudian mencakup kunjungan ke Serambi Soekarno di Biara Santo Yosef serta Misa Penutupan Camino de Flores di Gereja Katedral Kristus Raja Ende.

Misa penutupan dipimpin Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden. Kegiatan dilanjutkan dengan resepsi dan jamuan makan malam di Rumah Keuskupan Ende.

Pelaksana Tugas Direktur Utama BPOLBF Andhy MT Marpaung mengatakan Camino de Flores menunjukkan bahwa perjalanan wisata dapat menjadi ruang untuk berinteraksi dengan masyarakat dan mempelajari warisan budaya. Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menilai kegiatan tersebut berpotensi menjadi salah satu tawaran wisata religi khas daerah.

Pengembangan rute

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana meluncurkan Camino de Flores pada 13 Oktober 2026. Pemerintah menyiapkan etape tengah sebagai proyek percontohan untuk menguji kesiapan rute, layanan, keselamatan, dan pengelolaan sebelum pengembangan lebih lanjut.

Rute ini dirancang untuk menghubungkan gereja, kampung adat, lembaga pendidikan keagamaan, dan objek alam. Pemerintah juga menyiapkan penilaian risiko serta rencana tanggap darurat dalam pelaksanaan proyek percontohan.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

    Bencana

    Banjir Rendam Sawah Warga di Tou Timur Ende

    Hujan deras pada Jumat malam meluapkan Kali Lowo Nggonda dan merendam sawah warga di Tou Timur, Ende. Padi terdampak sebagian besar mendekati masa pan…

  2. Terbaru di Pariwisata

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.