NTT Hari Ini

Senin, 21 September 2026

Sabu Raijua Bidik Rumput Laut Berkelanjutan, Garis Pantai 134 Km

Budidaya rumput laut menjadi penopang ekonomi masyarakat pesisir Sabu Raijua. Pemerintah dan organisasi konservasi mendorong perluasan lahan, penerapan standar budidaya berkelanjutan, serta pengembangan nilai tambah produk.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 4 menit baca

Sabu Raijua — Budidaya rumput laut menjadi salah satu penopang utama penghidupan masyarakat di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Kajian kebijakan dan presentasi pemerintah daerah mencatat kabupaten kepulauan ini memiliki garis pantai sekitar 134,36 kilometer dan lahan potensial budidaya rumput laut lebih dari 2.300 hektare.

Rumput laut berkembang menjadi komoditas strategis bagi desa-desa pesisir di Sabu dan Raijua. Menurut kajian strategi pengembangan usaha budidaya rumput laut di Sabu Raijua, terdapat puluhan desa pesisir dengan lahan budidaya potensial lebih dari 2.364 hektare, sementara pemanfaatan eksisting masih sebagian dari total tersebut.

Indonesia berada di antara produsen rumput laut terbesar dunia. Kementerian Kelautan dan Perikanan menetapkan rumput laut sebagai salah satu komoditas perikanan budidaya unggulan nasional, dengan kontribusi signifikan terhadap produksi global menurut berbagai kajian kebijakan sektor kelautan dan perikanan.

Tantangan di tingkat pembudidaya

Besarnya potensi tidak menghapus risiko di lapangan. Di Desa Lobohede, Kecamatan Hawu Mehara, kajian kerentanan iklim partisipatif yang dilakukan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) mendokumentasikan rumput laut sebagai penopang utama ekonomi rumah tangga sekaligus sektor yang rentan terhadap perubahan iklim dan bencana.

Pembudidaya menghadapi gangguan berupa penyakit rumput laut, perubahan musim, dan cuaca ekstrem. Siklon Tropis Seroja pada 2021 tercatat merusak area budidaya di sejumlah pesisir NTT, termasuk Sabu Raijua, dan menurunkan produksi pada periode berikutnya.

YKAN melalui program ekonomi biru dan penguatan kerentanan pesisir mendampingi tujuh kelompok tani rumput laut di Sabu Raijua. Menurut laporan perspektif YKAN tentang pengelolaan Taman Nasional Perairan Laut Sawu, pada 2023 sebanyak 112 anggota kelompok tani di kabupaten ini mulai menerapkan praktik budidaya rumput laut berkelanjutan.

Pendampingan dilakukan antara lain melalui pelatihan pemilihan bibit unggul, pemilihan lokasi budidaya yang ramah lingkungan, dan penataan infrastruktur sederhana seperti rak penjemuran yang tidak merusak ekosistem pesisir. Upaya ini diarahkan agar budidaya rumput laut menjadi mata pencaharian yang sekaligus mendukung konservasi kawasan Laut Sawu.

Perluasan lahan dan penguatan standar

Sejumlah dokumen perencanaan daerah dan paparan teknis menyebut Kabupaten Sabu Raijua sebagai salah satu sentra rumput laut di NTT, berdampingan dengan Kupang, Rote Ndao, dan Sumba Timur. Potensi lahan budidaya di Sabu Raijua diperkirakan sekitar 2.000–2.364 hektare, namun baru dimanfaatkan sebagian.

Menurut informasi Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kupang, pemanfaatan lahan budidaya rumput laut di Sabu Raijua masih sekitar belasan persen dari total potensi. Pemerintah pusat dan daerah mendorong pemanfaatan lahan secara bertahap dengan tetap menjaga padang lamun dan terumbu karang.

YKAN bersama Pemerintah Provinsi NTT, pemerintah kabupaten, dan Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kupang mengembangkan model praktik budi daya berkelanjutan melalui kebun bibit, pemilihan lokasi budidaya ramah lingkungan, dan penjemuran pascapanen yang mengikuti standar mutu nasional. Model ini direplikasi di desa-desa dampingan di Sabu Raijua sebagai bagian dari penguatan mata pencaharian pesisir.

Di tingkat provinsi, pemerintah NTT mendorong penguatan standar budidaya rumput laut berkelanjutan dan tata kelola usaha melalui penyusunan pedoman praktik terbaik dan pelatihan bagi pembudidaya. Agenda ini mencakup peningkatan mutu hasil, penguatan kelembagaan kelompok tani, dan keterhubungan dengan pasar yang memperhatikan aspek lingkungan.

Hilirisasi dan nilai tambah

Dalam risalah kebijakan dan presentasi tentang potensi rumput laut Sabu Raijua, pemerintah daerah menyoroti perlunya hilirisasi agar rumput laut tidak berhenti sebagai komoditas mentah. Pengembangan produk turunan, seperti olahan pangan dan bahan baku industri, disebut sebagai upaya meningkatkan nilai tambah bagi pembudidaya dan Pendapatan Asli Daerah.

Berbagai pelatihan yang didukung organisasi masyarakat sipil di NTT memperkenalkan pengolahan rumput laut menjadi produk makanan dan kerajinan sederhana. Namun di Sabu Raijua, skala usaha pengolahan masih terbatas dan rantai pasok didominasi penjualan bahan mentah kepada pedagang pengumpul.

Bagi pembudidaya, peningkatan nilai tambah tidak hanya bergantung pada fasilitas pengolahan. Penguatan kelembagaan kelompok, akses pembiayaan, informasi harga yang transparan, dan keterhubungan dengan pasar regional dan nasional menjadi faktor penentu agar manfaat ekonomi rumput laut dirasakan merata, bukan hanya di tingkat pedagang besar.

Sumber

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.