Sikka Pulih, Nelayan Kembali Melaut Setelah Gempa 15 Agustus 2026
Aktivitas perikanan Sikka mulai pulih setelah gempa 15 Agustus 2026. Nelayan kembali melaut, dan tuna serta cakalang kembali dipasok ke perusahaan penampung untuk pasar lokal dan ekspor.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· 2 menit baca
Maumere — Aktivitas perikanan di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, mulai pulih setelah gempa bumi magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026. Nelayan kembali melaut, sementara ikan tuna dan cakalang kembali masuk ke rantai pasok untuk pasar lokal dan ekspor.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sikka, Malik Bakhtiar, mengatakan sekitar 5.000 rumah tangga perikanan kembali bekerja setelah sempat berhenti melaut usai gempa. Ia menyebut penghentian sementara itu dipicu trauma warga terhadap gempa dan ancaman tsunami, merujuk pengalaman bencana serupa pada 1992.
Gempa pada 15 Agustus 2026 juga membuat sejumlah warga pesisir mengungsi. Laporan BMKG dan BNPB pada hari kejadian menyebut gempa M7,7 di timur laut Mbay, Nagekeo, dirasakan kuat di Sikka dan memicu peringatan dini tsunami yang kemudian diakhiri setelah pemantauan muka air laut.
Pemasokan ikan kembali bergerak
Menurut Malik, berhentinya aktivitas melaut sempat mengganggu pasokan ikan di pasar dan mendorong kenaikan harga. Setelah nelayan kembali turun ke laut, pasokan perlahan pulih, termasuk untuk tuna dan cakalang yang dipasok ke perusahaan penampung.
Ia mengatakan kerusakan utama pascagempa terjadi pada rumah nelayan, bukan pada kapal. Armada penangkapan disebut tetap bisa beroperasi setelah para nelayan kembali dari pengungsian.
Data sementara dinas menunjukkan ada sekitar 5.000 rumah tangga perikanan, sekitar 4.000 unit kapal motor, dan 85 kapal berukuran di atas 10 gross tonnage. Wilayah perikanan Sikka tersebar di sejumlah kecamatan pesisir, termasuk Alok, Alok Barat, Alok Timur, Palue, Lela, Talibura, Paga, dan Bola.
Pemulihan belum sepenuhnya terukur
Dinas Perikanan dan Kelautan Sikka belum menetapkan angka final produksi ikan setelah gempa. Malik menyebut total produksi 2026 baru bisa dihitung secara akurat pada 2027, sehingga besaran penurunan pada Agustus belum dapat dirinci dalam data tahunan.
Meski begitu, kembalinya nelayan ke laut dan masuknya kembali tuna serta cakalang ke jalur pemasaran menunjukkan aktivitas ekonomi pesisir mulai bergerak lagi. Dinas juga mengingatkan nelayan agar tidak melaut saat cuaca memburuk dan menjaga komunikasi saat berada di laut.
Gempa 15 Agustus 2026 sebelumnya menimbulkan korban jiwa di Sikka dan gangguan pada sejumlah fasilitas pesisir. Pada hari-hari setelahnya, pemerintah daerah dan instansi terkait mulai menilai kerusakan dan menyiapkan penanganan lanjutan bagi warga terdampak.
Sumber
Berita berikutnya

Budiman: Perkembangan Manggarai Barat Dorong Pembentukan Kodim 1630
Komandan Kodim 1630/Manggarai Barat Letkol Inf Budiman Manurung menyatakan perkembangan Manggarai Barat dan status Labuan Bajo sebagai destinasi pariw…
Baca juga



