NTT Hari Ini

Senin, 21 September 2026

BUMDes dan Anak Muda Gerakkan Ekowisata Detusoko Barat

Desa Detusoko Barat di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, mengembangkan ekowisata melalui kolaborasi BUMDes, Pokdarwis, dan komunitas anak muda Remaja Mandiri Community.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 4 menit baca

Labuan Bajo — — Desa Detusoko Barat di Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, mengembangkan ekowisata berbasis Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dengan melibatkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan komunitas anak muda Remaja Mandiri Community (RMC).

Desa penyangga Taman Nasional Kelimutu ini menyajikan lanskap persawahan bertingkat, aktivitas pertanian, produk lokal, dan tradisi masyarakat sebagai atraksi utama bagi pengunjung.

Menurut Jejaring Desa Wisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Detusoko Barat berjarak sekitar 33 kilometer dari Kota Ende dan berada di jalur utama Trans Flores.

Ekowisata berbasis kelembagaan desa

Pengembangan wisata di Detusoko Barat dikelola oleh BUMDes Au Wula melalui unit usaha pariwisata dan perdagangan.

Jurnal akademik tentang desa ini menyebut BUMDes Au Wula dibentuk pada 2017 dan berfokus pada penyediaan homestay, agrowisata, serta penawaran paket wisata, sementara Pokdarwis Nira Neni menangani pengembangan atraksi wisata dan sanggar budaya.

Menurut kajian kelembagaan kolaboratif, pemerintah desa, Pokdarwis, RMC, dan pelaku budaya lokal terlibat dalam musyawarah dan pelaksanaan program ekowisata.

Detusoko Barat mengembangkan pariwisata sebagai sektor pendukung dengan tetap menempatkan pertanian sebagai sumber penghidupan utama warga, melalui konsep ekowisata yang berbasis kearifan lokal dan pertanian berkelanjutan.

Peran anak muda dan Kafe Lepa Lio

Remaja Mandiri Community (RMC) Detusoko didirikan oleh Ferdinandus Watu pada 17 Juli 2014 di Desa Detusoko Barat sebagai wadah pemberdayaan kaum muda, pengembangan ekonomi, dan ekowisata.

RMC mengembangkan berbagai kegiatan edukasi informal, pertanian berkelanjutan, kewirausahaan sosial, dan pariwisata, dengan tujuan mendorong anak muda membangun usaha di desa dan menekan arus migrasi ke luar daerah.

Salah satu unit usaha yang menjadi wajah ekowisata desa adalah Kafe Lepa Lio, yang berfungsi sebagai tempat singgah bagi pelintas jalur Trans Flores sekaligus pusat informasi wisata dan produk lokal desa penyangga Kelimutu.

Laporan media lokal dan tulisan tentang kafe ini menyebut Lepa Lio berada di bawah pengelolaan RMC, dengan sebagian pendapatan disalurkan ke kas BUMDes, sehingga usaha kafe terhubung dengan kelembagaan ekonomi desa.

Melalui kafe dan paket ekowisata, anak muda di RMC terlibat dalam penyediaan layanan wisata, promosi produk pertanian, dan pengelolaan aktivitas kunjungan.

Paket wisata dan digitalisasi desa

Jejaring Desa Wisata dan sejumlah laporan media menggambarkan beragam atraksi ekowisata Detusoko Barat, mulai dari susur sawah, wisata kopi Detusoko, pemandian air panas, jembatan Kali Loworia di tengah persawahan, kampung adat suku Rini, trekking uap panas, wisata kuliner dengan menu lokal di Lepa Lio Kafe, hingga pertunjukan tarian adat.

Jurnal dan pemberitaan menyebut Pokdarwis Nira Neni mengembangkan paket-paket wisata berbasis kopi, panen padi, susur sawah, atraksi sanggar budaya, kuliner lokal, serta produk oleh-oleh khas desa.

Untuk pemasaran, Detusoko Barat menggunakan platform decotour.bumdeswisata.id yang menyajikan paket wisata di tiga dusun, yaitu Woloone, Pemonago, dan Nuagiu, serta pilihan Detusoko Agrotour, Lepa Lio Kafe, wisata budaya, Detusoko Trekking, Farmer Field, School Field, dan layanan transportasi.

Produk hasil bumi dan olahan Detusoko dan sejumlah wilayah lain di Flores juga dipasarkan melalui platform pasarflores.id, yang dikembangkan sebagai pasar daring bagi desa-desa penyangga Kelimutu dan kawasan lain di NTT.

Detusoko Barat telah mendukung pembayaran nontunai dengan kode QR melalui kerja sama dengan Bank NTT, sehingga wisatawan dapat bertransaksi menggunakan sistem pembayaran digital di lokasi wisata dan kafe.

Menurut tulisan tentang kepemimpinan desa, digitalisasi BUMDes dan pemanfaatan platform daring masih menghadapi tantangan kapasitas sumber daya manusia, sehingga pemerintah desa dan RMC mendorong pelibatan anak muda dalam pengelolaan media digital dan promosi wisata.

Konteks pengembangan desa wisata

Detusoko Barat tercatat sebagai salah satu desa wisata penyangga Danau Kelimutu dan masuk dalam jajaran 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021.

Beberapa kajian menyebut pengakuan sebagai desa wisata berlangsung sejak sekitar 2018, dengan pengelolaan oleh BUMDes dan Pokdarwis yang mengembangkan usaha homestay, paket wisata agrowisata, dan atraksi budaya.

Pemerintah desa bersama komunitas lokal merancang pengembangan titik wisata baru dan fasilitas penunjang, termasuk rest area, penataan homestay, dan ruang interaksi budaya, untuk memperpanjang lama tinggal wisatawan dan memperluas manfaat ekonomi bagi rumah tangga warga.

Peran BUMDes, Pokdarwis, dan RMC yang saling terkait menjadikan ekowisata Detusoko Barat sebagai model kolaborasi desa yang menggabungkan pertanian, pariwisata, dan kewirausahaan sosial yang digerakkan anak muda.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.