NTT Hari Ini

Senin, 21 September 2026

Sudaryono Prioritaskan Pemulihan Irigasi Pertanian Pascagempa NTT

Sudaryono menegaskan pemulihan jaringan irigasi pertanian di wilayah terdampak gempa M 7,7 Flores menjadi prioritas usulan ke pemerintah pusat.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 4 menit baca

Kupang — Perbaikan jaringan irigasi pertanian ditegaskan menjadi salah satu pekerjaan utama pemulihan di Nusa Tenggara Timur setelah gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada pertengahan Agustus 2026. Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sudaryono menyampaikan hal itu dalam kunjungan kerja di Universitas Nusa Cendana, Kupang, Rabu, 16 September 2026, dengan menekankan perlunya dukungan pemerintah pusat untuk memperbaiki saluran yang rusak.

Menurut laporan detikBali, Sudaryono menyebut perbaikan irigasi di daerah terdampak gempa sebagai pekerjaan besar dan prioritas dalam pemulihan sektor pertanian. Pernyataan serupa dimuat Pos-Kupang, yang menulis bahwa pemulihan jaringan irigasi terdampak gempa di Pulau Flores akan menjadi prioritas usulan ke pemerintah pusat. Sudaryono menyoroti kondisi daerah irigasi yang rusak dan menyatakan pemulihan jaringan tersebut menjadi salah satu perhatian pemerintah.

Dalam kunjungan di Aula Universitas Nusa Cendana, Sudaryono menyatakan pemerintah pusat akan memprioritaskan perbaikan irigasi di NTT. Ia mengatakan telah meminta pemerintah provinsi segera mengajukan usulan perbaikan kepada Kementerian Pertanian agar penanganan dapat dilakukan melalui anggaran pusat. Dalam rekaman video Tribun Network, ia menyebut jaringan irigasi yang terdampak gempa akan menjadi salah satu prioritas pemerintah dan dikaitkan dengan penyelesaian jaringan irigasi yang bersumber dari bendungan yang sudah dibangun sebelumnya.

Gempa Rusak Jaringan Irigasi

Gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada pertengahan Agustus 2026 menyebabkan kerusakan infrastruktur dasar, termasuk jaringan air bersih dan irigasi di sejumlah daerah. Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menyebut kerusakan terjadi pada berbagai layanan dasar dan menegaskan percepatan pemulihan jalan, jembatan, air bersih, fasilitas publik, dan irigasi.

Di Daerah Irigasi Mbay Kiri Lanjutan, misalnya, saluran tersier dilaporkan rusak sepanjang sekitar 250 meter dan patah di tiga titik, berdampak pada kurang lebih 175 hektare lahan pertanian warga. Laporan yang sama menyebut dari 31 daerah irigasi kewenangan pusat yang terdampak, baru 13 yang selesai ditangani, sementara pada irigasi kewenangan daerah baru dua dari 65 lokasi yang tuntas. Data ini menunjukkan skala pekerjaan pemulihan irigasi yang harus diselesaikan setelah gempa.

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur sebelumnya menetapkan status tanggap darurat bencana gempa bumi selama 14 hari, mulai 15 hingga 28 Agustus 2026. Komitmen pemulihan infrastruktur pertanian, termasuk sawah dan jaringan irigasi tersier, juga disampaikan Menteri Pertanian Amran Sulaiman yang menjanjikan perbaikan sawah dan irigasi yang rusak akan ditanggung pemerintah pusat.

Peran Pemerintah Pusat dan Daerah

Dalam pertemuan di Kupang, Sudaryono mengaitkan prioritas pemulihan irigasi NTT dengan mekanisme usulan dari pemerintah daerah. Ia mengatakan pengajuan dari Gubernur NTT kepada Menteri Pertanian diharapkan menjadi dasar tindak lanjut pemerintah pusat untuk membantu pemulihan jaringan irigasi di wilayah terdampak.

Di sisi lain, Ketua HKTI NTT Fernando Jose Osorio Soares meminta dukungan pemerintah pusat untuk mempercepat pemulihan infrastruktur irigasi yang hancur akibat gempa Flores. Menurut Fernando, banyak irigasi pertanian yang rusak saat gempa, dan ia berharap Ketua Umum HKTI dapat menyampaikan hal itu kepada Menteri Pertanian dan Presiden. Fernando menekankan bahwa pemulihan irigasi tidak hanya mengembalikan kondisi sebelum gempa, tetapi juga memperkuat sistem pertanian agar petani dapat kembali berproduksi secara optimal.

Sudaryono, yang juga menjabat Kepala Badan Gizi Nasional dan pernah menjadi Wakil Menteri Pertanian, menyatakan optimistis anggaran negara dapat mendukung pembangunan sektor pertanian dan pemulihan di NTT. Menurut dia, dukungan anggaran pemerintah pusat diperlukan agar pembangunan dan perbaikan jaringan irigasi bisa mengembalikan produktivitas lahan pertanian di wilayah terdampak gempa.

Dampak ke Petani dan Musim Tanam

Laporan dari berbagai organisasi menunjukkan gempa berdampak pada akses air dan kegiatan bertani di Flores. Nahdlatul Ulama melalui nu.or.id mencatat bahwa sebagian lahan pertanian terdampak bahkan terbelah sehingga tidak dapat digunakan untuk berkebun, sementara warga kesulitan mendapatkan air bersih sehingga belum dapat kembali bertani. Kondisi ini memperkuat urgensi pemulihan jaringan air dan irigasi yang disoroti Sudaryono dan HKTI.

Bagi pemerintah daerah, tahapan penting berikutnya adalah menginventarisasi saluran irigasi yang rusak, mengukur dampaknya terhadap lahan, dan menyusun usulan terperinci kepada Kementerian Pertanian. Sudaryono dan Fernando sama-sama menempatkan pemulihan irigasi sebagai agenda prioritas dalam pemulihan pertanian NTT pascagempa, dengan harapan dukungan anggaran pusat dapat mempercepat perbaikan jaringan air sebelum petani memasuki musim tanam berikutnya.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.