NTT Hari Ini

Rabu, 23 September 2026

WALHI NTT Serukan Keadilan Ekologis dari Tiga Pulau

WALHI NTT bersama jejaring masyarakat sipil menggelar kegiatan di Flores, Sumba, dan Timor pada 19–20 September 2026 untuk menyerukan keadilan ekologis.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Foto arsip: Padang sabana berdampingan dengan lautan di Waingapu, NTT.
Foto arsip: Padang sabana berdampingan dengan lautan di Waingapu, NTT. · Foto: Triy Purnama / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Waingapu — Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Nusa Tenggara Timur bersama lembaga anggota, jaringan masyarakat sipil, komunitas, dan warga menggelar rangkaian kegiatan pada 19–20 September 2026. Kegiatan berlangsung di Flores, Sumba, dan Timor untuk menyerukan keadilan ekologis.

Di Sumba Timur, kegiatan meliputi penanaman mangrove di pesisir Pamalala, Kelurahan Kamalaputi, Kota Waingapu, pada 19 September 2026. Rangkaian lain berupa diskusi publik dan pemutaran film bersama di Tugu Keadilan Ekologi, Taman Kota Waingapu.

Di Kota Kupang, WALHI NTT dan jejaring masyarakat sipil menggelar kampanye terbuka pada kegiatan hari bebas kendaraan. Kegiatan ini menjadi bagian dari peringatan Hari Keadilan Ekologis pada 20 September 2026.

Mengapa seruan ini penting bagi pembaca NTT

Seruan tersebut berkaitan langsung dengan ruang hidup warga di pulau-pulau NTT. WALHI NTT meminta pemerintah menghentikan kebijakan dan proyek pembangunan yang mengancam masyarakat serta ekosistem penting. Organisasi itu juga mendorong evaluasi investasi di kawasan rentan ekologis, termasuk hutan, pesisir, pulau-pulau kecil, sumber air, lahan pertanian, dan wilayah masyarakat adat.

WALHI NTT menekankan partisipasi masyarakat yang bermakna dalam kebijakan atau proyek yang berdampak terhadap warga. Mereka juga menyerukan penghormatan terhadap prinsip persetujuan atas dasar informasi awal tanpa paksaan atau PADIATAPA, yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai FPIC.

Dalam tuntutannya, WALHI NTT meminta penghentian kriminalisasi dan intimidasi terhadap warga yang mempertahankan ruang hidup. Mereka juga mendorong perlindungan hukum bagi masyarakat adat, petani, nelayan, perempuan, dan kelompok yang paling terdampak krisis ekologis serta perubahan iklim.

WALHI NTT turut menyerukan transisi energi yang adil, penegakan hukum lingkungan yang lebih kuat, dan keterbukaan dokumen proyek serta investasi. Dokumen yang disebut mencakup perizinan, analisis mengenai dampak lingkungan, peta lokasi, kajian dampak, dan dokumen penguasaan tanah.

Rangkaian kegiatan pada 19–20 September 2026 berlangsung dalam momentum Hari Keadilan Ekologis. WALHI NTT menyatakan keselamatan ekologis perlu ditempatkan sebagai batas utama pembangunan NTT serta meminta penegakan keadilan ekologis dan keadilan gender dalam kebijakan pembangunan.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Sumba

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.