Apa Arti Indeks Risiko Bencana NTT 131,85 pada 2024?
Indeks Risiko Bencana Indonesia 2024 menempatkan NTT pada kelas sedang, tetapi nilainya berbeda antarwilayah. Berikut cara membaca angka itu dan kaitannya dengan ancaman bencana di provinsi kepulauan ini.
Oleh Pandi Muktar
· 2 menit baca
Risiko bencana Nusa Tenggara Timur pada 2024 berada dalam kelas sedang, dengan nilai 131,85. Angka ini bukan ramalan bahwa bencana pasti terjadi, melainkan ukuran gabungan ancaman, kerentanan, dan kapasitas daerah; karena itu tingkat risiko setiap kabupaten dan kota tidak sama.
Apa arti nilai risiko 131,85?
Badan Nasional Penanggulangan Bencana melalui Buku Indeks Risiko Bencana Indonesia 2024 menempatkan NTT dalam kelas risiko sedang dengan nilai 131,85. Indeks tersebut disusun untuk menyajikan tingkat dan tren risiko bencana pada tingkat nasional, provinsi, serta kabupaten dan kota, menurut BNPB, 2024.
BNPB mencatat banjir, gempa bumi, tsunami, dan tanah longsor sebagai bencana yang banyak terjadi di NTT berdasarkan Data dan Informasi Bencana Indonesia 2024. Buku yang sama juga memuat kekeringan, gelombang ekstrem atau abrasi, kebakaran hutan dan lahan, serta cuaca ekstrem sebagai ancaman di provinsi ini.
Apakah semua wilayah NTT memiliki risiko yang sama?
Tidak. Dalam tabel kabupaten dan kota 2024, Timor Tengah Selatan memiliki nilai 166,22 dan Kupang 159,63; keduanya masuk kelas risiko tinggi, menurut BNPB, 2024. Belu juga berada dalam kelas tinggi dengan nilai 156,01, sedangkan Manggarai Timur tercatat 149,89 dan masuk kelas tinggi.
Wilayah lain berada dalam kelas sedang. Kota Kupang memiliki nilai 96,65, Sabu Raijua 102,40, dan Rote Ndao 108,99, menurut tabel BNPB 2024. Perbedaan ini menunjukkan bahwa angka provinsi tidak dapat dipakai untuk menggambarkan kondisi setiap pulau atau kabupaten.
Mengapa NTT menghadapi banyak jenis ancaman?
BNPB menjelaskan bahwa NTT berada di antara zona subduksi lempeng tektonik di selatan dan Flores Back-Arc Thrust di utara. Bentang alamnya juga mencakup perbukitan, lereng yang curam dan bergelombang, serta dataran di wilayah pesisir dan muara sungai, menurut BNPB, 2024.
Keragaman kondisi geologi dan bentang alam itu berkaitan dengan munculnya ancaman gempa, tsunami, longsor, banjir, abrasi, dan cuaca ekstrem. BNPB mencatat curah hujan tahunan NTT pada 2023 sebesar 1250 mm/tahun; angka itu adalah catatan curah hujan, bukan batas aman dari bencana.
Bagaimana membaca angka ini saat menghadapi ancaman?
Nilai IRBI berguna untuk melihat tingkat risiko dan membandingkan perubahan antardaerah atau antarperiode, tetapi bukan peringatan waktu nyata. Untuk informasi cuaca dan musim hujan, BMKG menerbitkan Prakiraan Musim Hujan setiap tahun pada September, menurut BMKG Stasiun Klimatologi NTT, 2025.
Dengan demikian, warga perlu membedakan tiga hal: indeks risiko untuk gambaran umum daerah, informasi BMKG untuk kondisi meteorologis, dan peringatan atau arahan pemerintah saat ancaman tertentu terjadi. Ketiganya menjawab pertanyaan yang berbeda dalam penanganan bencana di Flores, Sumba, Timor, dan kepulauan.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Ekonomi
Satgas Khusus Dibentuk untuk Menertibkan Penyaluran Beras SPHP di NTT
BULOG NTT memperkuat pengawasan internal dan evaluasi distribusi beras SPHP pada Jumat 30 Oktober 2026. Satgas khusus dibentuk untuk menertibkan penya…
Terbaru di Bencana

Berita utama hari ini

Baca juga



