NTT Hari Ini

Sabtu, 31 Oktober 2026

BMKG Perkuat Pemantauan Bencana NTT dengan 39 Sensor Tsunami

BMKG mengoperasikan sekitar 39 peralatan INA-TEWS dan 24 Aloptama di NTT. Hingga 20 Oktober 2026, tercatat 23.285 gempa susulan, dengan 227 di antaranya dirasakan warga.

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Seekor burung bertengger di atas tiang sensor pemantau bertenaga surya di lahan basah dekat perairan.
Ilustrasi: Seekor burung bertengger di atas tiang sensor pemantau bertenaga surya di lahan basah dekat perairan. · Foto: Robert So / Pexels

Ruteng — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut sekitar 39 peralatan Indonesia Tsunami Early Warning System (INA-TEWS) dan 24 peralatan Automatic Weather Observation System (Aloptama) beroperasi di Nusa Tenggara Timur pada 30 Oktober 2026. Peralatan itu mendukung pemantauan gempa bumi, tsunami, dan bencana hidrometeorologi.

Pernyataan tersebut disampaikan Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, secara daring dalam kegiatan Sekolah Lapang Gempa Bumi di Sky Terrace Ruteng, Kabupaten Manggarai, pada 29 Oktober 2026.

BMKG mencatat 23.285 kejadian gempa bumi susulan setelah gempa utama hingga 20 Oktober 2026. Sebanyak 227 kejadian dirasakan oleh masyarakat. Angka itu menjadi dasar penting untuk mempertahankan pemantauan dan penyampaian informasi kebencanaan secara berkelanjutan.

Pemantauan di NTT membantu kesiapsiagaan antarpulau

Jaringan peralatan BMKG mencakup wilayah kepulauan yang menghadapi risiko berbeda. Timor, Flores dan Lembata, Sumba, Sabu, Rote, serta Alor membutuhkan informasi yang cepat karena pusat aktivitas gempa, ancaman tsunami, dan cuaca ekstrem tidak tersebar merata.

Di Flores, kegiatan penyampaian informasi berlangsung di Ruteng, Manggarai. Data tersebut tidak menggantikan laporan khusus mengenai jumlah gempa susulan pascagempa utama.

Peralatan INA-TEWS berfungsi mendukung peringatan dini tsunami, sedangkan peralatan Aloptama mendukung pengamatan cuaca. Keduanya memperkuat dasar informasi bagi pemerintah daerah, petugas kebencanaan, dan masyarakat di kabupaten-kabupaten kepulauan NTT.

Pemantauan hingga 20 Oktober 2026 menunjukkan bahwa aktivitas susulan masih menjadi bagian penting dalam mitigasi. Masyarakat perlu mengikuti informasi resmi BMKG dan arahan pemerintah daerah ketika terjadi gempa atau perubahan cuaca yang berpotensi menimbulkan bencana.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Bencana

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.