NTT Hari Ini

Sabtu, 31 Oktober 2026

Mengapa Petani NTT Perlu Mewaspadai El Niño hingga Awal 2027?

BMKG memprediksi El Niño bertahan hingga awal 2027. Sebagian besar zona musim di NTT diperkirakan baru memasuki musim hujan pada Desember 2026.

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Foto jarak dekat permukaan tanah yang kering dan retak-retak.
Ilustrasi: Foto jarak dekat permukaan tanah yang kering dan retak-retak. · Foto: Samiran Biswas / Pexels

Kupang — Petani di Nusa Tenggara Timur perlu menyesuaikan jadwal tanam dan pilihan varietas karena El Niño diprediksi bertahan hingga awal 2027. BMKG memperkirakan awal musim hujan 2026/2027 di wilayah ini datang bertahap, dengan sebagian besar zona musim baru memasuki musim hujan pada Desember 2026.

Data Stasiun Klimatologi NTT yang dimuat Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT menyebut 1 ZOM atau 2,84 persen diprediksi memasuki musim hujan pada November 2026. Sebanyak 27 ZOM atau 97,16 persen lainnya diperkirakan baru memasuki musim hujan pada Desember 2026.

BMKG juga memperkirakan Indian Ocean Dipole atau IOD masih berpeluang berada pada fase positif setidaknya hingga akhir 2026. Kombinasi kondisi tersebut dapat memperpanjang periode dengan ketersediaan air terbatas di wilayah yang awal musim hujannya lebih lambat.

Penyesuaian tanam menentukan ketersediaan pangan di pulau-pulau NTT

Untuk Timor, Flores dan Lembata, Sumba, Sabu, Rote, serta Alor, informasi musim perlu dibaca berdasarkan kabupaten dan zona musim masing-masing. Prakiraan provinsi tidak otomatis berarti seluruh pulau mengalami hujan pada waktu yang sama.

BMKG merekomendasikan penyesuaian jadwal tanam dan pemilihan varietas yang sesuai dengan kondisi musim hujan. Langkah ini ditujukan untuk mengurangi risiko tanaman kekurangan air ketika hujan belum merata.

Dalam prakiraan lain, BMKG menyebut sebagian besar NTT mengalami puncak musim kemarau pada Juli hingga September 2026. El Niño diprediksi bertahan hingga awal 2027, sedangkan dampaknya terhadap kondisi kering diperkirakan terasa hingga pertengahan Oktober 2026. Sektor pertanian diminta menyesuaikan kalender tanam dan memilih varietas yang lebih tahan kekeringan serta membutuhkan lebih sedikit air.

Perubahan jadwal tanam perlu mengikuti pembaruan prakiraan BMKG dan kondisi air di kabupaten masing-masing. Pemerintah daerah juga diminta memperkuat pengelolaan sumber daya air melalui revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi air bersih.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Bencana

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.