AWK Dorong Bandara Mbay Jadi Simpul Konektivitas Flores
Angelius Wake Kako mendorong Bandara Mbay dipandang sebagai simpul konektivitas Flores di tengah gangguan penerbangan akibat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 2 menit baca
Labuan Bajo — Anggota DPD RI asal Nusa Tenggara Timur, Angelius Wake Kako, mendorong Bandara Mbay dipandang sebagai simpul konektivitas Flores, bukan semata proyek Kabupaten Nagekeo. Dorongan itu ia sampaikan dalam diskusi di Jakarta pada 10 September 2026, di tengah sorotan atas gangguan penerbangan di Flores akibat aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki.
Dalam laporan FlorespOS.net, AWK menyebut penerbangan ke Bandara Frans Seda, Maumere, telah terganggu selama dua tahun akibat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki. Ia menilai kondisi itu menunjukkan bahwa bencana tidak hanya menghambat aktivitas warga, tetapi juga distribusi bantuan dan logistik.
AWK juga menekankan bahwa Bandara Mbay tidak sepatutnya dibaca hanya sebagai kebutuhan lokal. Menurut dia, bandara itu perlu ditempatkan dalam desain konektivitas antardaerah di Flores agar bisa mendukung mobilitas masyarakat, barang, dan layanan publik.
Gagasan tersebut menguat di tengah pengalaman berulang Flores menghadapi penutupan dan gangguan penerbangan saat erupsi. Pada 2026, beberapa bandara di Flores tercatat terdampak abu vulkanik dari erupsi gunung api di kawasan timur pulau itu, sehingga penerbangan komersial sempat ditunda atau dibatalkan.
Posisi Bandara Mbay sebagai alternatif konektivitas, menurut laporan itu, masih berada pada tataran usulan. Laporan yang beredar tidak memuat rincian mengenai status pembangunan, kelayakan operasional, maupun rute penerbangan yang saat ini melayani bandara tersebut.
Dalam kerangka kebencanaan, keberadaan simpul transportasi udara menjadi penting ketika jalur darat terganggu atau satu bandara tidak bisa beroperasi. Namun, fungsi itu tetap bergantung pada kesiapan infrastruktur, navigasi, layanan darurat, serta kepastian operasi penerbangan.
AWK juga melihat Bandara Mbay punya nilai ekonomi di luar fungsi mitigasi. Ia menilai konektivitas udara dapat memperlancar arus orang dan barang di Flores, meski belum ada rincian resmi mengenai proyeksi penumpang, kargo, atau pembagian peran dengan bandara lain di pulau itu.
Diskusi di Jakarta itu memperlihatkan dorongan agar kebutuhan konektivitas Flores dibaca secara regional. Bagi para pemangku kepentingan, langkah berikutnya akan bergantung pada kejelasan pemerintah dan pengelola bandara soal status fasilitas, rencana penguatan, dan kesiapan layanan.
Sumber
Berita berikutnya
Delapan Korban Gempa Masih Dirawat di RSL Ruteng
Delapan pasien korban gempa masih dirawat di Rumah Sakit Lapangan Bandara Frans Sales Lega, Ruteng, per 10 September 2026. Kementerian Kesehatan menye…

