Kunjungan Beo Mano Naik Hampir 50 Persen Pascagempa Flores
Kunjungan wisata ke Beo Mano, Mandosawu, Manggarai Timur, meningkat hampir 50 persen pada Agustus–September 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Manggarai Timur — Kunjungan wisatawan ke Beo Mano, Kelurahan Mandosawu, Manggarai Timur, meningkat hampir 50 persen pada periode Agustus–September 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menurut Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Beo Mano, Denny.
Denny menyampaikan keterangan itu kepada radio publik pada Jumat, 18 September 2026, dan dimuat dalam laporan yang terbit 19 September 2026.
Ia menjelaskan, Agustus merupakan puncak musim liburan sehingga kunjungan tetap stabil bahkan cenderung meningkat meski terjadi gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Menurut Denny, tren kunjungan positif berlanjut hingga September 2026.
Dalam wawancara tersebut, pengelola memaparkan bahwa:
- Periode pengamatan peningkatan kunjungan berlangsung Agustus–September 2026.
- Perbandingan dilakukan terhadap volume kunjungan tahun sebelumnya.
- Kenaikan yang dicatat mencapai hampir 50 persen.
Beo Mano menjadi destinasi alternatif pascagempa
Denny mengatakan, peningkatan kunjungan ke Beo Mano tidak lepas dari penutupan sementara sejumlah objek wisata di Flores setelah gempa 15 Agustus 2026.
Ia menyebut kawasan pendakian Gunung Inerie, Taman Nasional Kelimutu, dan situs Liang Bua termasuk destinasi yang sempat ditutup, sehingga wisatawan mencari alternatif lain yang masih dapat dikunjungi.
Dalam situasi itu, Beo Mano menjadi salah satu pilihan karena menawarkan kampung adat dan lanskap alam dengan nilai budaya.
Denny menuturkan, pengalaman gempa kerap muncul dalam percakapan wisatawan mancanegara selama berada di kawasan tersebut.
Sejumlah wisatawan Eropa yang berkunjung membandingkan konstruksi rumah tradisional di kampung adat seperti Wae Rebo dengan bangunan di negara asal mereka, terutama terkait fondasi dan penggunaan besi, kayu, serta bambu.
Menurut pengelola, rumah tradisional berbahan lokal, termasuk bambu, menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan yang ingin melihat cara masyarakat setempat merespons risiko gempa melalui bentuk dan material bangunan.
Dampak gempa Flores dan peluang bagi UMKM
Gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 pukul 05.58 WIB dan memicu ribuan gempa susulan di wilayah Nusa Tenggara Timur.
Menurut data lembaga meteorologi nasional, hingga 24 Agustus 2026 tercatat lebih dari 6.000 aktivitas gempa bumi susulan, dengan sebagian guncangan dirasakan kuat di Sambi Rampas, Manggarai Timur.
Penanganan darurat bencana berangsur beralih ke tahap pemulihan pada awal September, seiring menurunnya jumlah pengungsi dan mulai dibukanya kembali aktivitas ekonomi warga di Flores.
Dalam konteks itu, tetap bergeraknya kegiatan wisata di Beo Mano dinilai pengelola sebagai peluang bagi perekonomian warga dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar destinasi.
Pokdarwis Beo Mano berharap proses pemulihan pascagempa disertai percepatan pembangunan serta kemudahan akses permodalan bagi pelaku usaha kecil yang menggantungkan pendapatan dari sektor pariwisata.
Beo Mano mengembangkan model wisata berbasis masyarakat melalui pengelolaan ruang adat seperti compang yang dikelilingi rumah tradisional, serta pemanfaatan panorama alam dan kekayaan budaya setempat sebagai daya tarik utama.
Pengelola menilai, keberlanjutan kunjungan pascagempa dapat membantu masyarakat sekitar mempertahankan dan mengembangkan usaha jasa wisata, kerajinan, dan produk pangan lokal.
Konteks pariwisata pascagempa
Laporan radio publik menyebut, penutupan sementara beberapa destinasi di Flores pascagempa mendorong wisatawan mengalihkan pilihan ke lokasi yang dinilai aman untuk dikunjungi, salah satunya Beo Mano.
Agustus 2026 disebut sebagai periode kunjungan yang stabil karena bertepatan dengan musim liburan, sementara pada September 2026 terjadi peningkatan hampir 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya, meski angka dasar kunjungan tidak dirinci.
Dalam wawancara itu, Denny menekankan pentingnya kolaborasi pengelola wisata, pelaku usaha, dan pemerintah daerah untuk menjaga keamanan, kenyamanan, serta keberlanjutan aktivitas pariwisata di kawasan Beo Mano di tengah proses pemulihan pascagempa.
Sumber
Berita berikutnya

FEB Undana Latih 30 UMKM Pariwisata di Labuan Bajo
FEB Undana melatih 30 UMKM pariwisata di Labuan Bajo bersama Universiti Kebangsaan Malaysia dan mitra dari India. Program menekankan ekonomi hijau dan…
Baca juga



