Delapan Korban Gempa Masih Dirawat di RSL Ruteng
Delapan pasien korban gempa masih dirawat di Rumah Sakit Lapangan Bandara Frans Sales Lega, Ruteng, per 10 September 2026. Kementerian Kesehatan menyebut fasilitas itu memiliki 143 tempat tidur rawat inap dan 32 non-rawat inap.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 2 menit baca
Ruteng — Delapan pasien korban gempa masih dirawat di Rumah Sakit Lapangan (RSL) Bandara Frans Sales Lega, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, per Kamis, 10 September 2026. Data itu juga menyebut RSL Ruteng telah menangani 151 pasien korban bencana sejak beroperasi.
RSL Ruteng dibuka untuk menggantikan sebagian layanan RSUD Ruteng yang terdampak gempa. Kementerian Kesehatan menyebut fasilitas sementara itu tetap melayani pasien di tengah kerusakan sarana kesehatan di Manggarai.
Menurut laporan yang dikutip dari Ekorantt, delapan pasien yang masih dirawat itu berada dalam pengawasan medis, termasuk korban patah tulang dan pasien dengan keluhan yang muncul selama masa pengungsian. Rincian kondisi masing-masing pasien tidak dijelaskan dalam laporan tersebut.
Kapasitas layanan
RSL Ruteng menyediakan 143 tempat tidur rawat inap dan 32 tempat tidur non-rawat inap. Kementerian Kesehatan juga menyebut layanan di rumah sakit lapangan itu mencakup penanganan dasar, kegawatdaruratan, dan tindakan operasi.
Dalam laporan resmi Kemenkes, dua rumah sakit lapangan yang beroperasi di Nusa Tenggara Timur berada di Ruteng dan Ngada. Kemenkes menempatkan fasilitas itu sebagai bagian dari respons darurat pascagempa di Flores.
Kemenkes pada 7 September 2026 juga mengirim 160 Tenaga Cadangan Kesehatan tahap dua ke NTT. Mereka ditempatkan di Ngada, Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur untuk memperkuat layanan psikososial, kesehatan mental, serta pelayanan kesehatan dasar.
RRI melaporkan tenaga kesehatan tersebut juga ditugaskan memantau potensi penyakit pascabencana dan mendukung layanan di puskesmas serta rumah sakit lapangan. Penugasan itu merupakan lanjutan dari pengiriman 206 tenaga kesehatan pada tahap sebelumnya, menurut Kemenkes.
Penanganan pascagempa
Layanan di tenda darurat dan rumah sakit lapangan masih menghadapi tekanan akibat kondisi cuaca. Kementerian Kesehatan menyatakan fasilitas sementara itu tetap dioperasikan agar korban gempa bisa memperoleh layanan medis tanpa menunggu pemulihan bangunan utama rumah sakit.
Di Manggarai, pemerintah daerah juga masih menjalankan tanggap darurat kesehatan pascagempa. Kemenkes menyebut pengerahan tenaga tambahan diperlukan untuk menjaga layanan klinis sekaligus pemulihan psikologis warga terdampak.
Dengan dukungan fasilitas lapangan dan tenaga cadangan, layanan kesehatan di Ruteng masih menjadi tumpuan utama bagi korban gempa di wilayah barat Flores.
Sumber
Berita berikutnya

Badan Geologi Turunkan Status Lewotobi Laki-Laki ke Level II Waspada
Badan Geologi menurunkan status Gunung Lewotobi Laki-Laki dari Level III Siaga menjadi Level II Waspada pada 16 September 2026 setelah aktivitas vulka…
Baca juga



