BKKBN Prioritaskan Air Bersih Cegah Stunting Pascagempa NTT
Kemendukbangga/BKKBN menyebut air bersih, sanitasi, dan pemenuhan gizi sebagai prioritas penanganan keluarga berisiko stunting di Nusa Tenggara Timur pascagempa 15 Agustus 2026, dengan kolaborasi lintas sektor termasuk bersama Yayasan…
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Labuan Bajo — Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menyatakan akan memprioritaskan penyediaan air bersih, fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK), serta dukungan gizi untuk kelompok rentan di Nusa Tenggara Timur setelah gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.
Dalam keterangan di Jakarta pada 17 September 2026, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji menjelaskan bahwa pemerintah berkolaborasi lintas sektor untuk membenahi sanitasi sebagai bagian dari upaya penanganan keluarga berisiko stunting di wilayah terdampak gempa NTT.
Menurut Wihaji, bantuan yang disiapkan mencakup tempat tinggal, air bersih, dan fasilitas MCK, selain dukungan pemenuhan gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, balita, anak-anak, perempuan, dan korban gempa yang masih berada di pengungsian.
Stunting dan prioritas air bersih
Wihaji menegaskan bahwa penanganan keluarga berisiko stunting harus diawali dengan mengenali penyebab di setiap keluarga.
Ia menyebut intervensi tidak bisa disamaratakan, sehingga kebutuhan air bersih, edukasi, dan asupan makanan akan dipilih sesuai penyebab risiko stunting yang ditemukan.
Khusus NTT, Wihaji menyampaikan bahwa selain asupan gizi dan upaya pencegahan perkawinan anak, kebutuhan air bersih menjadi salah satu prioritas utama dalam penanganan pascagempa.
Dalam penjelasan terpisah, Kemendukbangga/BKKBN menyebut Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) sebagai salah satu instrumen untuk menjawab tantangan stunting nasional, dengan latar belakang prevalensi stunting Indonesia yang masih 19,8 persen berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024.
Program Genting dan inisiatif lain diarahkan untuk menyasar keluarga berisiko stunting, terutama kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Kolaborasi dengan berbagai pihak
Wihaji menyatakan Kemendukbangga/BKKBN menjalankan pendekatan pentaheliks dengan melibatkan sejumlah pemangku kepentingan dalam penanganan stunting, termasuk lembaga filantropi dan sektor swasta.
Dalam pernyataannya, ia menyebut Yayasan Kitabisa sebagai salah satu mitra yang akan mendukung prioritas bantuan di NTT, terutama terkait kebutuhan air bersih dan dukungan gizi bagi kelompok rentan.
Pemerintah juga bekerja sama dengan perguruan tinggi dan berbagai mitra orang tua asuh untuk memperluas jangkauan intervensi keluarga berisiko stunting di berbagai daerah.
Konteks bencana dan pengungsian
Gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 terjadi di wilayah Flores, NTT, pada 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB, dengan pusat gempa di laut dan kedalaman sekitar 15 kilometer.
BNPB dan BMKG mencatat ribuan gempa susulan setelah peristiwa tersebut, sementara data BNPB hingga akhir Agustus 2026 melaporkan lebih dari seratus korban meninggal dan puluhan ribu warga mengungsi.
Dalam kondisi tersebut, kebutuhan air bersih, sanitasi, dan tempat tinggal di lokasi pengungsian menjadi bagian dari perlindungan kesehatan keluarga yang disoroti Kemendukbangga/BKKBN.
Pemerintah mengaitkan perbaikan sanitasi di pengungsian dengan upaya jangka panjang penurunan stunting, mengingat perubahan pola hidup dan akses layanan kesehatan yang dialami keluarga terdampak bencana.
Skala persoalan stunting
Kemendukbangga/BKKBN mencatat bahwa secara nasional terdapat jutaan keluarga berisiko stunting yang menjadi sasaran program Genting dan intervensi terkait.
Dalam rilis resmi, Wihaji menyebut capaian Genting telah melampaui target satu juta keluarga berisiko stunting pada 2025, dengan sekitar 1,5 juta keluarga berisiko yang telah mendapatkan intervensi sampai akhir 2025.
Data prevalensi stunting NTT yang digunakan Wihaji dalam penjelasan kepada media masih merujuk angka 37 persen, sementara pemerintah menargetkan prevalensi stunting nasional turun dari 19,8 persen pada 2024 menjadi 14,2 persen pada 2029.
Kemendukbangga/BKKBN menyatakan akan terus memperkuat kerja sama lintas sektor untuk memastikan keluarga berisiko stunting, termasuk di wilayah terdampak gempa seperti NTT, memperoleh akses air bersih, sanitasi layak, dan gizi yang memadai.
Sumber
Berita berikutnya

Badan Geologi Turunkan Status Lewotobi Laki-Laki ke Level II Waspada
Badan Geologi menurunkan status Gunung Lewotobi Laki-Laki dari Level III Siaga menjadi Level II Waspada pada 16 September 2026 setelah aktivitas vulka…
Baca juga



