BMKG: 15.156 Gempa Susulan Guncang Flores Hingga 13 September
BMKG mencatat 15.156 gempa susulan di Flores dan sekitarnya hingga 13 September 2026, dengan 38 kejadian bermagnitudo di atas 5.
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Labuan Bajo — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat lebih dari 15 ribu gempa susulan di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, dalam sebulan setelah gempa utama bermagnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026.
Dalam keterangan BMKG yang dikutip Radio Republik Indonesia (RRI), hingga Minggu, 13 September 2026 pukul 05.00 WIB tercatat 15.156 aktivitas gempa susulan di Flores dan sekitarnya. Rentang magnitudo gempa susulan itu dari 0,9 hingga 6,2, dengan 38 kejadian berkekuatan lebih dari magnitudo 5.
Data ini menunjukkan aktivitas kegempaan masih berlangsung meski hampir sebulan berlalu sejak gempa utama.
Update BMKG dan Penjelasan Frekuensi Gempa
RRI melaporkan, berdasarkan pemutakhiran data BMKG pada 13 September 2026, gempa susulan terbesar tercatat bermagnitudo 6,2, sementara yang terkecil bermagnitudo 0,9.
Media nasional Akurat.co, yang juga mengutip pembaruan BMKG hingga 7 September 2026 pukul 05.00 WIB, menyebut total gempa susulan saat itu mencapai 13.156 kejadian.
Pada periode yang sama, BMKG mencatat 36 gempa susulan dengan magnitudo di atas 5 dan 177 gempa yang dirasakan masyarakat.
Dengan membandingkan kedua pembaruan tersebut, jumlah gempa susulan bertambah 2.000-an kejadian dalam enam hari, sementara gempa berkekuatan lebih dari magnitudo 5 bertambah menjadi 38 kejadian.
Guncangan yang Dirasakan Warga
Dalam laporan Akurat.co yang merujuk data BMKG, dari 13.156 gempa susulan hingga 7 September 2026, sebanyak 177 guncangan dilaporkan dirasakan warga di Flores dan wilayah sekitarnya.
Stasiun Geofisika Komodo BMKG, melalui wawancara yang dimuat Tribun Kupang, menyebut bahwa hanya sebagian kecil gempa susulan yang cukup kuat untuk dirasakan masyarakat.
Dalam siaran pers terpisah pada 15 September 2026, BMKG pusat menjelaskan bahwa aktivitas gempa susulan memasuki fase peluruhan secara signifikan 30 hari setelah gempa utama.
BMKG menegaskan bahwa pola penurunan frekuensi ini merupakan bagian dari dinamika pascagempa besar, namun masyarakat tetap diminta waspada terhadap potensi gempa susulan yang lebih kuat.
Gempa Utama dan Dampak di Flores
Gempa utama bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026 dan memicu tsunami yang melanda sejumlah pesisir.
Menurut siaran pers BMKG, tsunami itu merusak 23 rumah di beberapa lokasi pesisir, termasuk dua rumah di Desa Selama.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto, dalam keterangan yang diikuti sejumlah media, menyampaikan bahwa rangkaian gempa dan tsunami tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.
BNPB dan pemerintah daerah masih melakukan pendataan kerusakan dan penanganan pengungsi di berbagai kabupaten di Flores.
Imbauan BMKG kepada Warga NTT
BMKG meminta masyarakat Flores dan Nusa Tenggara Timur mengikuti informasi resmi dari BMKG dan BNPB terkait aktivitas gempa susulan.
Masyarakat disarankan tidak terpancing kabar yang belum terverifikasi dan memeriksa informasi melalui kanal resmi lembaga terkait.
BMKG juga mendorong pemerintah daerah memanfaatkan hasil survei lapangan sebagai basis mitigasi dan rekonstruksi bangunan di wilayah rawan gempa dan tsunami.
Sumber
Berita berikutnya
BPBD Belu Salurkan Bantuan ke Satu Keluarga Terdampak Angin di Umanen
BPBD Kabupaten Belu menyalurkan bantuan darurat kepada satu keluarga di Wenu, Kelurahan Umanen, Atambua Barat, setelah rumah mereka tertimpa pohon kap…
Baca juga



