BMKG dan BPBD NTT Perluas Edukasi dan Simulasi Gempa di Sekolah
BMKG Stasiun Geofisika Kupang dan BPBD NTT menggelar edukasi kebencanaan serta simulasi gempa di sekolah-sekolah NTT pada 2022-2023. Program itu menjangkau empat wilayah dan sejumlah sekolah di Kota Kupang.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Labuan Bajo — BMKG Stasiun Geofisika Kupang dan BPBD Nusa Tenggara Timur melaksanakan edukasi kebencanaan dan simulasi gempa di sekolah-sekolah di NTT pada 2022-2023. Kegiatan itu mencakup empat wilayah yang disebut BMKG dan sejumlah sekolah di Kota Kupang yang mengikuti latihan BPBD.
Pada 10 November 2022, BMKG Stasiun Geofisika Kupang menyampaikan program BMKG Goes to School menjangkau Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Manggarai Barat, dan Sikka. Program itu berisi penjelasan tentang proses gempa bumi dan tsunami, potensi bencana di tiap wilayah, jalur evakuasi, serta simulasi penyelamatan diri di kelas.
BMKG juga memberi contoh waktu tiba tsunami di beberapa wilayah. Dalam laporan itu, Maumere disebut memiliki estimasi waktu tiba sekitar tiga menit dengan ketinggian gelombang tiga meter, sedangkan Labuan Bajo sekitar tujuh menit.
Latihan BPBD NTT di sekolah Kota Kupang
Pada 27 Mei 2023, BPBD NTT melaksanakan simulasi tanggap gempa di sekolah-sekolah di Kota Kupang. Sekolah yang disebut dalam laporan itu adalah SMA Negeri 2 Kota Kupang, SMK Negeri 2 Kota Kupang, SMA Negeri 9 Kota Kupang, SMAK Giovanni, SMA Kristen Citra Bangsa, SMK Negeri 5 Kota Kupang, dan SMK Muhammadiyah Kupang.
BPBD NTT menyatakan kegiatan itu diarahkan untuk membangun satuan pendidikan yang aman bencana. Kepala Pelaksana BPBD NTT Ambrosius Kodo berharap sekolah dapat menggelar simulasi secara mandiri dan berkelanjutan.
Kedua program tersebut saling melengkapi. Edukasi BMKG menekankan pemahaman risiko gempa dan tsunami, sedangkan simulasi BPBD melatih respons langsung saat keadaan darurat.
BPBD NTT mengaitkan kebutuhan kesiapsiagaan dengan posisi NTT di sekitar dua sumber gempa potensial, yakni sesar naik busur belakang di utara Flores dan segmen megathrust Sumba. Dalam kegiatan di sekolah, pelajar diminta mempraktikkan langkah penyelamatan yang sudah dijelaskan sebelumnya.
Informasi yang beredar pada saat itu belum memuat rincian jumlah peserta, durasi latihan, atau hasil evaluasi kemampuan siswa dan guru. Namun, dua rangkaian kegiatan itu menunjukkan bahwa mitigasi bencana di sekolah NTT tidak berhenti pada sosialisasi, melainkan diarahkan ke latihan praktis.
Rangkaian edukasi dan simulasi
Program BMKG Goes to School pada 2022 berfokus pada pengenalan gempa, tsunami, dan evakuasi mandiri. Setahun kemudian, BPBD NTT memperkuat aspek latihan di lapangan melalui simulasi di beberapa sekolah di Kota Kupang.
Bagi sekolah di wilayah rawan gempa, materi dan latihan seperti ini penting untuk membentuk kebiasaan evakuasi. Tujuannya sederhana: siswa dan guru tahu apa yang harus dilakukan ketika gempa terjadi dan jalur mana yang harus dipakai untuk menyelamatkan diri.
Jika dilihat dari dua kegiatan itu, pendekatan kesiapsiagaan bencana di NTT bergerak dari pemberian informasi menuju praktik penyelamatan. Keduanya menempatkan sekolah sebagai ruang utama untuk membangun budaya aman bencana sejak dini.
Data kegiatan yang disebut sumber: empat wilayah sasaran BMKG adalah Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Manggarai Barat, dan Sikka; simulasi BPBD NTT dilaporkan berlangsung di tujuh sekolah di Kota Kupang; contoh estimasi waktu tiba tsunami yang disebut BMKG adalah Maumere tiga menit dan Labuan Bajo tujuh menit.
Sumber
Berita berikutnya

Badan Geologi Turunkan Status Lewotobi Laki-Laki ke Level II Waspada
Badan Geologi menurunkan status Gunung Lewotobi Laki-Laki dari Level III Siaga menjadi Level II Waspada pada 16 September 2026 setelah aktivitas vulka…
Baca juga


