Inflasi Tahunan NTT 2,59 Persen, Harga Pangan Turun Picu Deflasi
BPS mencatat inflasi tahunan Nusa Tenggara Timur pada Agustus 2026 sebesar 2,59 persen, naik dari 2,43 persen pada Juli. Secara bulanan, NTT mengalami deflasi 0,40 persen karena penurunan harga pangan dan transportasi.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Kupang — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur mencatat inflasi tahunan sebesar 2,59 persen pada Agustus 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan Juli 2026 yang sebesar 2,43 persen.
Kepala BPS NTT Matamira Kale menyatakan secara tahun kalender, inflasi kumulatif Januari–Agustus 2026 di provinsi itu mencapai 1,65 persen. Pernyataan tersebut disampaikan kepada wartawan di Kupang pada Selasa, 1 September 2026, dan dikutip dalam pemberitaan RRI Kupang.
Secara bulanan, NTT justru mengalami deflasi 0,40 persen pada Agustus 2026. BPS menjelaskan, deflasi ini terutama disebabkan penurunan indeks harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Emas dan komoditas lain pendorong inflasi tahunan
Dalam pemaparan BPS yang dikutip media, emas perhiasan disebut sebagai salah satu komoditas utama pendorong inflasi tahunan di NTT pada Agustus 2026. Selain emas, komoditas lain yang berkontribusi terhadap inflasi tahunan antara lain pelumas atau oli mesin, angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, serta sejumlah jenis ikan.
BPS menegaskan bahwa inflasi tahunan Agustus merupakan cerminan kenaikan indeks harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran rumah tangga. Kenaikan harga jasa transportasi dan beberapa komoditas energi rumah tangga ikut memperkuat tekanan inflasi tahunan.
Namun, sejumlah komoditas pangan dan biaya pendidikan menahan laju inflasi. Penurunan harga bawang merah, tomat, daging ayam ras, dan telur ayam ras, serta penyesuaian biaya pendidikan di beberapa jenjang, mengurangi tekanan kenaikan harga secara tahunan.
Deflasi bulanan ditopang penurunan harga pangan
BPS mencatat deflasi 0,40 persen pada Agustus 2026 sebagai hasil penurunan indeks harga pada tiga dari sebelas kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami penurunan indeks harga sebesar 1,13 persen dan menjadi penyumbang terbesar deflasi dengan andil minus 0,43 persen.
Kelompok transportasi juga mengalami deflasi 0,46 persen dengan andil minus 0,06 persen. Penurunan tarif angkutan udara menjadi salah satu faktor yang menekan indeks harga kelompok ini.
Menurut penjelasan BPS yang dikutip RRI Kupang, turunnya harga sejumlah komoditas pangan seperti daging ayam ras, bawang merah, tomat, dan cabai rawit berkaitan dengan ketersediaan pasokan di tingkat pedagang. Stok yang cukup dan produksi yang meningkat di berbagai daerah membuat harga komoditas ini menurun pada Agustus 2026.
Daging ayam ras tercatat sebagai penyumbang deflasi terbesar, disusul bawang merah, angkutan udara, tomat, dan cabai rawit. Penurunan harga komoditas-komoditas tersebut menutupi kenaikan harga pada komoditas lain.
Di sisi lain, deflasi tertahan oleh kenaikan harga ikan tembang, ikan kembung, ikan tongkol, telepon seluler, dan oli mesin. BPS mengaitkan kenaikan harga beberapa jenis ikan dengan kondisi cuaca dan angin yang memengaruhi aktivitas penangkapan.
Gambaran umum inflasi NTT Agustus 2026
Berdasarkan publikasi BPS dan pemberitaan media, gambaran utama inflasi NTT pada Agustus 2026 adalah sebagai berikut:
- Inflasi tahunan (year on year): 2,59 persen.
- Inflasi tahun kalender Januari–Agustus 2026: 1,65 persen.
- Perubahan bulanan (month to month): deflasi 0,40 persen.
Data tersebut menunjukkan tekanan harga di NTT pada Agustus 2026 relatif terkendali. Tekanan inflasi tahunan terutama datang dari komoditas nonpangan seperti emas perhiasan, sementara penurunan harga pangan dan transportasi mendorong deflasi secara bulanan.
Sumber
Berita berikutnya
APBN NTT hingga Juli 2026: Pendapatan Tumbuh 12,18 Persen
Kinerja APBN di Provinsi Nusa Tenggara Timur hingga 31 Juli 2026 menunjukkan pendapatan negara Rp1.938,18 miliar dengan pertumbuhan 12,18 persen secar…

