Labuan Bajo Hasilkan 4.836 Ton Sampah Pangan per Tahun
Kajian WRI Indonesia dan Garda Pangan mencatat Labuan Bajo menghasilkan sekitar 4.836 ton sisa pangan setiap tahun dengan kontribusi terbesar dari sektor nonrumah tangga.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· 4 menit baca
Labuan Bajo — Labuan Bajo menghasilkan sekitar 4.836 ton sisa pangan dan sampah makanan setiap tahun. Angka ini berasal dari kajian WRI Indonesia bersama Garda Pangan dalam Program Urban Futures yang diseminasi pada 2026 dan dikutip sejumlah laporan, termasuk tulisan Said Abdullah di Ekorantt.com dan riset yang terbit di jurnal Frontiers in Sustainability.
Menurut kajian tersebut, lebih dari separuh timbulan sampah pangan Labuan Bajo atau sekitar 51 persen bersumber dari sektor nonrumah tangga, seperti hotel, restoran, kafe, pasar, dan kapal wisata. Porsi ini sedikit lebih besar dibanding limbah pangan dari rumah tangga.
Temuan itu memperlihatkan ironi di daerah wisata yang sekaligus menghadapi tantangan produksi dan akses pangan. Di satu sisi, pelaku usaha menyajikan makanan untuk wisatawan dan warga kota. Di sisi lain, sebagian pangan yang telah melewati rantai produksi dan distribusi berakhir sebagai sampah, padahal petani dan sebagian rumah tangga masih berjuang memenuhi kebutuhan pangan dan gizi.
Salah satu cerita tentang beban petani disampaikan melalui sosok Ketty, petani muda di Desa Wae Lolos, Manggarai Barat, yang ditulis Said Abdullah. Ketty menanam sawi, cabai, kangkung, dan sayuran lain untuk kebutuhan keluarga dan memasok sebagian pangan ke Labuan Bajo. Ia menghadapi musim tanam yang sulit diprediksi, biaya produksi yang naik, dan harga panen yang tidak selalu menutup ongkos, tetapi tetap bertahan di pertanian karena menjadi sumber penghidupan.
Sampah pangan dan ketimpangan akses
Limbah pangan tidak hanya berarti bahan makanan yang hilang dari piring. Di baliknya terdapat tenaga petani, nelayan, pedagang, lahan, air, dan energi yang digunakan untuk membawa makanan dari sumber produksi ke konsumen.
Riset baseline sampah makanan di Labuan Bajo mencatat bahwa sekitar 58,9 persen sisa pangan telah dimanfaatkan kembali sebagai pakan ternak, terutama babi. Sebagian lain dibuang ke tempat pembuangan akhir dan laut. Kajian itu juga menunjukkan bahwa lebih dari separuh bagian sisa pangan masih berupa bagian yang dapat dimakan, sehingga secara teoritis dapat diselamatkan untuk konsumsi manusia bila memenuhi standar keamanan pangan.
Di tingkat kabupaten, data layanan kesehatan dan pemerintah daerah menunjukkan persoalan gizi anak masih menjadi pekerjaan besar. Laporan media lokal yang mengutip Dinas Kesehatan Manggarai Barat menyebut kasus stunting pada balita pada 2024 berkisar 9–12 persen sepanjang tahun, dengan angka sekitar 11,6 persen atau 2.475 balita pada November 2024.
Angka tersebut menggambarkan bahwa keberadaan pangan secara fisik di wilayah wisata belum otomatis menjamin seluruh anak memperoleh makanan yang cukup dan bergizi. Persoalan menyangkut cara pangan diproduksi, didistribusikan, dikonsumsi, dan siapa yang mampu mengaksesnya.
Data utama:
- Produksi sisa pangan Labuan Bajo: sekitar 4.836 ton per tahun (2024).
- Sumbangan sektor nonrumah tangga terhadap sampah pangan Labuan Bajo: sekitar 51 persen.
- Perkiraan prevalensi stunting balita Manggarai Barat tahun 2024: sekitar 9–12 persen, dengan 11,6 persen pada November 2024.
Besarnya pangan yang terbuang tidak berarti makanan dari restoran atau hotel dapat langsung dibagikan kepada masyarakat. Keamanan pangan, mutu, waktu penyimpanan, dan mekanisme penyaluran harus dijaga sebelum pangan yang masih layak konsumsi digunakan kembali.
Pengurangan sampah dari meja makan
Peneliti WRI Indonesia menekankan bahwa pengurangan sampah pangan dapat dimulai dari perubahan di tingkat konsumen dan pelaku usaha. Kebiasaan mengambil makanan sesuai kebutuhan dan menghabiskan makanan yang sudah di piring membantu menekan timbulan sampah sekaligus mengingatkan bahwa makanan lahir dari proses panjang dengan biaya sosial dan ekologis.
Tanggung jawab besar berada pada pengelola hotel, restoran, kafe, pasar, kapal wisata, dan penyelenggara kegiatan di Labuan Bajo. Mereka dapat memasukkan pencegahan dan pengurangan limbah pangan ke dalam tata kelola layanan melalui perencanaan porsi, pencatatan sisa makanan, pengelolaan bahan pangan yang tidak habis terjual, dan pemilahan sejak dari dapur.
Pemerintah daerah dapat memperkuat upaya tersebut lewat kebijakan pangan dan lingkungan yang mendorong pengurangan sampah dari sumber, bukan hanya pengelolaan di tempat pembuangan akhir. Dalam konteks Manggarai Barat, pengurangan sampah pangan perlu berjalan bersama perlindungan terhadap petani, perbaikan distribusi pangan, dan pemenuhan hak atas pangan bagi warga yang masih berisiko mengalami kekurangan gizi.
Sumber
- Ekorantt.com - Ketika Petani Susah Menanam, Mengapa Kita Mudah Membuang?
- Frontiers in Sustainability - Food waste in Labuan Bajo: a baseline study of food ...
- WRI Indonesia - Diseminasi riset baseline sampah makanan Labuan Bajo (LinkedIn Post)
- WRI Indonesia - Peternakan Babi di Labuan Bajo: Sumber Pangan dan Solusi Alternatif Sampah Makanan
- Pos-Kupang.com - Ribuan Balita di Manggarai Barat NTT Masih Alami Stunting
Berita berikutnya
KUA Adonara Gelar BRUS di SMP Panca Marga Cegah Nikah Dini
KUA Kecamatan Adonara menggelar Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) di SMP Negeri Panca Marga pada 6 Maret 2026. Program Kementerian Agama ini membah…

