NTT Hari Ini

Senin, 21 September 2026

Lembata Uji Peringatan Dini Kekeringan Berbasis Dampak

Kabupaten Lembata mulai menguji sistem peringatan dini kekeringan berbasis dampak melalui Impact Based Forecasting. Simulasi meja rencana kontingensi digelar di Lewoleba pada 4 September 2026 dengan melibatkan lintas lembaga.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 4 menit baca

Lewoleba — Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, mulai menerapkan sistem peringatan dini kekeringan berbasis dampak melalui pendekatan Impact Based Forecasting (IBF). Penerapan itu diuji dalam Simulasi Meja Rencana Kontingensi Kekeringan Tahun 2026 di Lewoleba, Jumat, 4 September 2026.

Menurut laporan Radio Republik Indonesia (RRI), IBF dirancang untuk menghubungkan informasi prakiraan dengan kemungkinan dampak yang akan dialami masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, pemerintah daerah diharapkan dapat menentukan tindakan sebelum kekeringan berkembang menjadi kondisi darurat.

Selama ini, informasi peringatan dini umumnya berfokus pada kemungkinan terjadinya suatu fenomena. Dalam penerapan IBF, informasi itu diarahkan untuk menjawab dampak yang mungkin muncul dan langkah yang perlu disiapkan lebih awal.

Dari prakiraan ke tindakan

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Provinsi NTT Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Rahmatullah Adji, menjelaskan bahwa IBF merupakan bagian dari perubahan layanan informasi cuaca dan iklim agar lebih berguna bagi pengambilan keputusan. Menurut dia, informasi iklim perlu diterjemahkan menjadi keputusan mitigasi di lapangan sehingga prakiraan tidak berhenti sebagai informasi mengenai potensi kejadian, tetapi menjadi dasar menyiapkan tindakan yang sesuai.

Dalam konteks kekeringan, pendekatan tersebut membantu pemerintah mengantisipasi kebutuhan masyarakat sebelum dampak dirasakan secara luas. RRI menulis bahwa dengan IBF, tindakan seperti perlindungan kelompok rentan dan penyiapan kebutuhan dapat dilakukan lebih awal berdasarkan prediksi dampak.

RRI memberitakan bahwa Simulasi Meja Rencana Kontingensi Kekeringan Tahun 2026 di Lewoleba menjadi awal uji coba proyek IBF di Lembata, yang disebut sebagai penerapan pertama proyek IBF di Indonesia pada tingkat kabupaten. Sistem ini menempatkan peringatan dini sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan, bukan sekadar penyampaian informasi.

Di tingkat nasional, BMKG menyatakan tengah mematangkan transformasi layanan peringatan dini melalui pendekatan IBF untuk mendukung aksi merespons peringatan dini dan penguatan budaya tangguh bencana. BMKG menggarisbawahi bahwa peringatan dini berbasis dampak diharapkan menjadi acuan strategi adaptasi yang sesuai kondisi iklim yang diprediksi.

Koordinasi lintas lembaga

Simulasi di Lewoleba melibatkan berbagai unsur, antara lain Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), BMKG, World Food Programme (WFP), TNI, Polri, perangkat daerah, camat, kepala desa, dan lembaga swadaya masyarakat. Koordinasi lintas sektor tersebut diarahkan untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman kekeringan.

Perwakilan WFP Indonesia, Wahyu Kuncoro, menyatakan bahwa IBF memungkinkan pemerintah memperkirakan dampak sebelum bencana terjadi sehingga informasi dapat digunakan untuk memilih intervensi lebih cepat dan memberi perlindungan kepada kelompok paling rentan. Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi NTT, Safrudin Herman, mengapresiasi Lembata sebagai daerah pertama dalam implementasi proyek IBF di Indonesia dan menilai pendekatan itu dapat memperkuat kerja sama pemerintah dengan lembaga teknis.

Menurut RRI, pemerintah Kabupaten Lembata menargetkan sistem tersebut mempercepat tindakan sehingga dampak kekeringan terhadap masyarakat dapat ditekan. Pendekatan ini sejalan dengan peringatan BMKG mengenai potensi kekeringan meteorologis di sejumlah kabupaten di NTT, termasuk Lembata, yang berstatus siaga dan awas pada periode Agustus hingga awal September 2026.

Apa arti IBF bagi warga

Secara praktis, IBF berupaya menjawab tiga pertanyaan utama: ancaman apa yang diperkirakan terjadi, dampak apa yang mungkin muncul, dan tindakan apa yang harus dilakukan lebih awal. Dalam isu kekeringan, informasi tersebut berkaitan dengan perlindungan masyarakat serta penyiapan kebutuhan sebelum keadaan memburuk.

Perubahan pendekatan ini penting karena keputusan pemerintah tidak hanya bergantung pada ada atau tidaknya hujan. Informasi prakiraan perlu dikaitkan dengan konsekuensi yang mungkin dihadapi warga agar perangkat daerah dan unsur terkait dapat menyiapkan respons yang lebih terarah. BMKG menyebut transformasi IBF sebagai bagian dari upaya menjadikan peringatan dini bukan hanya sumber data, tetapi landasan aksi mitigasi di berbagai sektor.

RRI melaporkan bahwa simulasi di Lewoleba merupakan awal uji coba proyek IBF di Lembata dan menjadi rujukan pengembangan sistem peringatan dini berbasis dampak untuk kekeringan dan bencana hidrometeorologis lain.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.