Pakaian Adat Flores: Lawo Lambu, Patola, dan Songke
Pakaian adat Flores bukan satu busana tunggal. Lawo Lambu di Ende, patola di Lio, dan songke di Manggarai menunjukkan keragaman bentuk, motif, serta konteks pemakaian di pulau ini.
Oleh Asyinta Sastra
· 2 menit baca
Pakaian adat Flores bukan satu setelan tunggal. Ragamnya mengikuti komunitas dan wilayah, dengan kain tenun ikat sebagai unsur penting. Di Ende dan Lio dikenal Lawo Lambu serta tenun ikat patola, sedangkan Manggarai mengenal kain songke. Busana ini dipakai dalam konteks adat dan menjadi penanda identitas kelompok.
Apakah pakaian adat Flores hanya satu jenis?
Tidak. Flores dihuni beragam komunitas, sehingga nama, bentuk, motif, dan cara memakai busana berbeda menurut daerahnya. Senibudayaku mencatat contoh kelompok di Flores antara lain Ende, Sikka, Manggarai, dan Maumere, dengan tenun ikat sebagai benang merah busana adat (Senibudayaku, 2025).
Karena itu, istilah “pakaian adat Flores” lebih tepat dipahami sebagai payung untuk sejumlah tradisi busana, bukan nama satu pakaian yang berlaku di seluruh pulau.
Apa pakaian adat dari Ende dan Lio?
Di Ende, pakaian perempuan dikenal sebagai Lawo Lambu. Lawo adalah sarung tenun ikat, sedangkan Lambu merupakan atasan berbentuk sederhana dengan lubang untuk kepala dan tangan, menurut Popmama (2026).
Masyarakat Lio memiliki tenun ikat patola. Motif yang dicatat Popmama mencakup dahan, dedaunan, ranting, biawak, dan manusia dalam bentuk geometris berjalur, dengan warna merah atau biru di atas dasar gelap (Popmama, 2026).
Bagaimana dengan pakaian adat Manggarai?
Kain songke merupakan salah satu unsur pakaian adat Manggarai. Keluyuran menyebut kain ini didominasi warna hitam dan dipakai perempuan Manggarai dengan cara dililitkan pada tubuh, sementara motifnya dikaitkan dengan makna tertentu (Keluyuran, 2021).
Contoh ini menunjukkan bahwa pembahasan busana Flores perlu menyebut asal komunitasnya. Songke Manggarai tidak dapat diperlakukan sebagai pengganti otomatis untuk busana Ende, Lio, Sikka, atau wilayah Flores lainnya.
Kapan pakaian adat itu digunakan?
Pakaian adat umumnya dikenakan dalam upacara adat, termasuk pernikahan yang menerapkan tata cara setempat. Senibudayaku juga mencatat kain tenun digunakan dalam upacara adat, pernikahan, dan sebagai mas kawin atau belis (Senibudayaku, 2025).
Dengan demikian, pemakaiannya berkaitan dengan konteks sosial dan adat, bukan sekadar pilihan pakaian harian. Makna motif, warna, dan kelengkapan busana dapat berbeda antar-komunitas di Flores.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Flores
Shopee Farma dan BNPB Salurkan Bantuan Kesehatan ke Flores
Shopee Farma dan BNPB menyalurkan obat serta alat kesehatan ke Ende, Manggarai, dan Ruteng pada 3 Oktober 2026 untuk mendukung pemulihan warga terdamp…
Paling ramai di Flores

Berita utama hari ini

Baca juga





