Investasi Hospitality Premium di Sumba Barat Daya Mulai Diuji
Pemerintah daerah, investor, dan operator penerbangan mulai membuka akses baru bagi pariwisata Sumba Barat Daya.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Labuan Bajo — Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya dan PT Costa Hotels Sumba menandatangani nota kesepahaman pada 22 April 2026 untuk pengembangan pariwisata di Desa Kenduwela, Kecamatan Kodi Utara. Pada tahap awal, perusahaan menyatakan komitmen investasi Rp22 miliar untuk membangun hotel berkapasitas 36 kamar.
Penandatanganan itu dilaporkan RRI dan InBisnisNews. Keduanya menyebut Bupati Sumba Barat Daya Ratu Ngadu Bonnu Wulla menekankan bahwa setiap investasi harus mematuhi regulasi dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat setempat.
Rute udara Labuan Bajo–Tambolaka juga mulai beroperasi pada 23 Juli 2026. Menurut Kementerian Perhubungan dan pemberitaan Detik, Wings Air melayani rute itu tiga kali sepekan, sementara jalur sebaliknya Tambolaka–Labuan Bajo mulai dilayani pada 24 Juli 2026.
Data kunjungan tamu hotel yang dikutip InBisnisNews dari pemerintah daerah menunjukkan 12.230 tamu domestik dan 4.589 tamu asing menginap di hotel di Sumba Barat Daya sepanjang 2024. Total 16.819 tamu itu menggambarkan adanya pasar, tetapi belum cukup untuk menilai kedalaman permintaan, tingkat okupansi, atau lama tinggal.
Indeks Pembangunan Statistik Sumba Barat Daya tercatat 1,91 dalam evaluasi 2026 yang dikutip InBisnisNews. Namun, sumber yang diperiksa tidak menjelaskan definisi, skala, dan komponen indeks tersebut, sehingga angka itu hanya bisa dibaca sebagai penanda adanya evaluasi statistik sektoral, bukan ukuran yang bisa langsung dibandingkan dengan indikator ekonomi lain.
Di sisi produk wisata, NIHI Sumba disebut menerima Three MICHELIN Keys 2025 dan skor 98,5 dari 100 pada La Liste Awards 2026. Pencapaian itu menunjukkan ada produk hospitality premium yang diakui pasar global, tetapi belum otomatis membuktikan bahwa seluruh pasar akomodasi di Sumba Barat Daya sudah matang.
Dalam wawancara yang dikutip Financial Times pada 19 Juni 2026, CEO sekaligus co-founder NIHI Sumba James McBride mengatakan resor itu memerlukan lebih dari satu dekade untuk tumbuh dari proyek kecil menjadi destinasi yang dikenal luas. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pasar premium di Sumba terbentuk bertahap, bukan seketika.
Proyek hotel 36 kamar, pembukaan rute udara, dan reputasi NIHI Sumba sama-sama memberi sinyal bahwa Sumba Barat Daya mulai dilirik investor. Tetapi keberlanjutan investasi tetap bergantung pada pasokan infrastruktur dasar, kepastian regulasi, dan kemampuan daerah menjaga arus wisatawan sepanjang tahun.
Wakil Ketua DPRD Sumba Barat Daya Yusuf Bora pada 11 Juli 2026 menyoroti kebutuhan pembenahan infrastruktur destinasi wisata. Menurut dia, daya tarik alam perlu ditopang infrastruktur yang memadai agar daya saing pariwisata meningkat.
Dalam audiensi pada 21 Juli 2026, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar juga menekankan potensi tenun, kerajinan, kuliner, seni pertunjukan, dan destinasi wisata sebagai sumber nilai tambah. Bagi Sumba Barat Daya, peluang itu dapat tumbuh beriringan dengan hotel, transportasi, dan layanan wisata lain jika data pasar dan kesiapan infrastruktur ikut menguat.
Sumber
Berita berikutnya

Pemkab Sumba Timur Revitalisasi Sekolah dan Siapkan Sekolah Terintegrasi
Dinas Pendidikan Sumba Timur menyatakan puluhan sekolah di wilayah itu tengah dibenahi melalui program revitalisasi sarana dan prasarana.
Baca juga



