Paroki Reo Salurkan Sayur Segar ke Puluhan Posko Penyintas Gempa
Paroki Santa Maria Ratu Rosario Reo di Kecamatan Reo, Kabupaten Manggarai, menyalurkan sayuran segar ke puluhan posko penyintas gempa selama sekitar dua pekan hingga 9 September 2026.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 4 menit baca
Ruteng — Paroki Santa Maria Ratu Rosario Reo, Keuskupan Ruteng, menyalurkan bantuan sayuran segar ke sejumlah posko penyintas gempa bumi di wilayah Reo, Kabupaten Manggarai, selama sekitar dua pekan hingga Rabu, 9 September 2026, untuk melengkapi konsumsi bahan pangan instan di pengungsian.
Menurut laporan FloresPos, distribusi dilakukan ke posko terpusat maupun posko mandiri, termasuk posko mandiri yang berada di lingkungan paroki. Bantuan dipimpin langsung Pastor Paroki Santa Maria Ratu Rosario Reo, RD Mansuetus Hariman, dengan menggunakan kendaraan roda empat milik paroki untuk menjangkau posko-posko di wilayah pelayanan Paroki Reo.
FloresPos mencatat, jenis sayuran yang dibagikan antara lain labu besi, daun labu besi, sawi putih, bayam, kangkung, serta beberapa jenis sayuran segar lainnya. Laporan tersebut menyebut cakupan distribusi mencapai puluhan posko penyintas gempa, meski tidak merinci jumlah persis posko ataupun total volume sayur yang disalurkan.
Melengkapi bantuan pangan di posko
RD Mansuetus Hariman menjelaskan, keputusan menyalurkan sayuran segar diambil setelah pihak paroki mempertimbangkan kebutuhan kesehatan para penyintas yang tinggal di posko. Menurut dia, warga membutuhkan konsumsi yang lebih beragam dan tidak hanya mengandalkan mi instan atau sarimi yang selama ini dominan dalam bantuan para donatur.
“Bantuan sayur segar sangat penting agar penyintas tidak hanya mengonsumsi sarimi saat makan,” ujar RD Mansuetus Hariman, sebagaimana dikutip FloresPos. Ia menambahkan, ketersediaan sayuran segar di dapur posko diperlukan untuk membantu menjaga kesehatan para penyintas yang masih menetap di tenda-tenda pengungsian.
Salah satu penerima yang disebut dalam laporan adalah posko mandiri di KBG Benteng Gading Wilayah I, yang menerima pasokan sayuran segar disertai mi instan. KBG merupakan singkatan dari Komunitas Basis Gerejawi, unit komunitas umat di tingkat lingkungan yang dalam situasi tanggap darurat berperan mengorganisasi posko mandiri dan distribusi bantuan di sekitar permukiman.
Model bantuan Paroki Reo ini memperlihatkan kontribusi komunitas keagamaan dalam melengkapi bantuan pangan selama masa tanggap pascagempa di Flores, berdampingan dengan distribusi logistik dari pemerintah, lembaga kemanusiaan, dan dunia usaha. Sejumlah lembaga, antara lain jaringan Caritas Indonesia dan paroki-paroki di Keuskupan Ruteng, sebelumnya tercatat menyalurkan beras, kebutuhan pokok, serta layanan kesehatan ke lokasi pengungsian di Reo dan wilayah terdampak lainnya.
Peran relawan dan jaringan gereja
FloresPos menulis, para penyintas menyampaikan apresiasi kepada Pastor Paroki Reo, pastor vikaris, Dewan Pastoral Paroki, Dewan Keuangan Paroki, Orang Muda Katolik, dan relawan paroki yang aktif mengunjungi posko-posko dan mengantar berbagai bentuk bantuan kemanusiaan, termasuk sayuran segar. Pernyataan itu disampaikan perwakilan penyintas pada Rabu, 9 September 2026, meski identitas perwakilan tidak dicantumkan.
Di luar inisiatif Paroki Reo, jaringan lembaga gereja dan organisasi keagamaan lain juga bergerak di Reo dan wilayah terdampak gempa Flores. Jaringan Caritas Indonesia bersama Keuskupan Ruteng membuka posko pelayanan kemanusiaan dan menyalurkan logistik dasar, termasuk beras dan kebutuhan pokok, ke berbagai kecamatan di Manggarai dan kabupaten lain. Di Reo dan sekitarnya, lembaga seperti JPIC OFM Manggarai serta komunitas Fransiskan dan Muhammadiyah juga melayani penyintas melalui layanan kesehatan, bantuan logistik, dan dukungan psikososial.
Pertamina melalui program Pertamina Peduli mendirikan posko di Lapangan Barangkolong, Kecamatan Reo, dan menyalurkan paket sembako, logistik dapur umum, serta pendampingan bagi anak-anak di lokasi pengungsian. Sementara itu, laporan media lain mencatat pemerintah pusat dan daerah bersama BNPB mempercepat penyaluran tenda, air bersih, makanan, dan layanan kesehatan ke posko-posko di Reo dan wilayah terdampak.
Konteks gempa di Reo dan sekitarnya
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan, wilayah Flores diguncang gempa bumi tektonik pada Selasa, 8 September 2026, sekitar pukul 11.40 WIB, dengan magnitudo M5,1 pada kedalaman 10 kilometer. Episenter gempa berada di laut, sekitar 57 kilometer timur laut Ruteng, dan guncangan dirasakan dengan intensitas hingga skala IV MMI di Lamba Leda, Reok, dan Reok Barat, tanpa potensi tsunami.
Guncangan tersebut memperburuk kondisi warga yang sebelumnya sudah terdampak rangkaian gempa yang melanda Flores sejak pertengahan Agustus 2026, merusak ribuan rumah dan memaksa warga mengungsi ke posko terpusat maupun posko mandiri. Dalam situasi ini, distribusi pangan tahan lama seperti beras dan mi instan menjadi prioritas, sementara inisiatif seperti penyaluran sayuran segar oleh Paroki Reo muncul sebagai upaya melengkapi kebutuhan gizi dan kesehatan penyintas di pengungsian.
Sumber
Berita berikutnya

Badan Geologi Turunkan Status Lewotobi Laki-Laki ke Level II Waspada
Badan Geologi menurunkan status Gunung Lewotobi Laki-Laki dari Level III Siaga menjadi Level II Waspada pada 16 September 2026 setelah aktivitas vulka…
Baca juga


