NTT Hari Ini

Senin, 21 September 2026

Tiga Minggu Pascagempa, Nanga Banda Masih Krisis Air Bersih

Tiga minggu setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026, warga Nanga Banda di Kecamatan Reok masih tinggal di gubuk bambu dan tenda.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 4 menit baca

Labuan Bajo — Tiga minggu setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026, warga Nanga Banda, Kelurahan Reo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, masih hidup di antara puing rumah dan menghadapi krisis air bersih. Menurut laporan Floresa, sejak aliran air PDAM berhenti setelah gempa, warga membeli air dengan harga sekitar Rp50.000 untuk satu fiber kecil.

Rumah-rumah yang rusak masih berdiri dalam kondisi miring atau roboh. Sebagian puing belum dibersihkan, sementara warga membangun gubuk berdinding bilik bambu dan menggunakan tenda beratap terpal di sekitar rumah mereka.

Kondisi itu terlihat ketika tim Respon Cepat Gempa Flores mendatangi Nanga Banda pada Jumat, 4 September 2026, sekitar pukul 15.24 Wita. Tim tersebut menyalurkan bantuan berupa terpal, popok bayi, susu untuk ibu hamil, dan lampu Sehen kepada warga.

Air Dibeli, Kebersihannya Diragukan

Irene Yasinta Imur, warga Nanga Banda, mengatakan aliran PDAM berhenti setelah gempa sehingga warga terpaksa membeli air untuk kebutuhan sehari-hari. Ia menyatakan, air yang dibeli itu diragukan kebersihannya dan tidak layak dimasak.

Menurut Irene, harga air mencapai sekitar Rp50.000 per fiber kecil. Kondisi ini menambah beban keluarga yang rumahnya rusak dan penghasilannya berpotensi terganggu akibat bencana.

Floresa melaporkan, rumah Irene berada sekitar 300 meter dari titik penyaluran bantuan. Bagian depan rumahnya yang terdiri atas kayu dan papan rusak total, sedangkan dinding depan ambruk.

Di sekitar rumah Irene, terlihat bangunan dengan tingkat kerusakan beragam. Sebagian teras hancur, beberapa badan rumah miring, dan sebagian lainnya roboh seluruhnya.

Rumah Roboh dan Trauma Warga

Warga Nanga Banda lain, Magdalena Lamung, kehilangan rumahnya setelah roboh akibat guncangan gempa. Ia menceritakan bahwa dirinya berteriak kepada anaknya agar segera keluar rumah ketika gempa terjadi, sebelum bangunan miring dan runtuh.

Magdalena juga mengingat sejumlah kejadian sebelum gempa, seperti ayam yang berkokok lebih keras serta cerita nelayan mengenai ikan dan belut yang muncul ke permukaan. Menurut kesaksiannya, saat itu tidak ada yang menganggap kejadian-kejadian tersebut sebagai pertanda bencana.

Pengalaman warga seperti Irene dan Magdalena memperlihatkan sisi bencana yang tidak selalu tergambar dalam angka kerusakan. Di balik data rumah roboh dan warga mengungsi, terdapat keputusan warga untuk menyelamatkan keluarga dalam hitungan detik serta kehilangan tempat tinggal yang selama bertahun-tahun dianggap aman.

Kerusakan Meluas di Manggarai dan NTT

Gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026, dengan pusat gempa di wilayah Nagekeo di lepas pantai Pulau Flores. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa terjadi sekitar pukul 05.58 Wita di kedalaman dangkal dan memicu kerusakan luas.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam beberapa pembaruan data mencatat korban meninggal dunia antara 100 hingga 136 orang serta pengungsi lebih dari 176 ribu jiwa di tujuh kabupaten terdampak, termasuk Manggarai. Data BNPB per 27 Agustus yang dikutip salah satu media nasional menyebutkan 111 orang meninggal dan 176.621 warga mengungsi, dengan 77.912 rumah rusak di tujuh kabupaten.

Untuk Kabupaten Manggarai, BNPB mencatat ribuan rumah rusak. Salah satu laporan pada 24 Agustus menyebutkan 17.108 rumah rusak di kabupaten tersebut, dengan 38 korban meninggal, 506 korban luka, dan 47.840 pengungsi.

Pemulihan Belum Berakhir di Nanga Banda

Dalam masa tanggap darurat gempa Flores, bantuan awal umumnya berfokus pada evakuasi, makanan, tenda, logistik, dan pembukaan akses. Setelah beberapa minggu, kebutuhan warga bergeser ke penyediaan air bersih, pembersihan puing, hunian sementara, dan dukungan untuk kembali bekerja.

Di Nanga Banda, pembangunan gubuk bambu dan tenda terpal menunjukkan upaya warga memenuhi kebutuhan mendesak secara mandiri. Pada saat yang sama, kondisi ini menandakan bahwa sebagian warga belum memperoleh hunian sementara yang lebih layak atau belum dapat kembali ke rumah mereka.

Krisis air bersih di Nanga Banda memperlihatkan kerentanan yang mudah terlewat. Kerusakan jaringan air tidak tampak seperti rumah roboh, tetapi berdampak langsung pada kesehatan keluarga, terutama rumah tangga dengan bayi dan ibu hamil.

Laporan Floresa yang terbit pada 9 September 2026 menggambarkan bahwa tiga minggu setelah gempa, warga Nanga Banda masih bergantung pada air beli dan tinggal di gubuk serta tenda di sekitar rumah yang rusak. Situasi itu menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana di tingkat kampung belum sejalan dengan berakhirnya masa tanggap darurat di tingkat provinsi.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.