Pemprov NTT Data Warga Papua Pegunungan yang Minta Dipulangkan
Pemerintah Provinsi NTT mendata warga asal NTT di Papua Pegunungan yang meminta difasilitasi pulang setelah penembakan tiga ASN Dinas Pertanian Jayawijaya. Sejumlah permintaan datang dari PNS yang merasa tidak aman di wilayah tugas mereka.
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Kupang — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sedang mendata warga asal NTT yang bekerja dan tinggal di Papua Pegunungan setelah muncul permintaan untuk difasilitasi pulang karena merasa tidak aman pasca penembakan tiga aparatur sipil negara (ASN) Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya di Kampung Muliama pada 9 September 2026.
Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma menyatakan permintaan pemindahan paling banyak datang dari pegawai negeri sipil (PNS) yang bertugas di wilayah Papua Pegunungan. Menurut dia, pemerintah provinsi melakukan pendataan terhadap warga yang meminta pindah atau pulang guna mengetahui kondisi mereka dan kebutuhan yang muncul setelah insiden kekerasan bersenjata di Jayawijaya. Johni menyebut sebagian warga meminta agar kepulangan mereka difasilitasi karena merasa tidak aman dan tidak nyaman berada di lokasi tugas saat ini. Pernyataan itu disampaikan di Kupang pada Jumat, 18 September 2026.
Johni menilai keinginan warga untuk mencari tempat yang lebih aman merupakan hal yang wajar ketika keselamatan mereka merasa terancam.
Ia menegaskan pemerintah akan memantau perkembangan situasi keamanan di Papua Pegunungan sebelum mengambil langkah lebih lanjut terkait permintaan pemindahan. Johni menyebut koordinasi dengan pemerintah provinsi dan kabupaten di Papua tetap dilakukan untuk memastikan keselamatan warga NTT di sana.
Situasi Keamanan dan Koordinasi
Menurut penjelasan Wakil Gubernur NTT, kondisi keamanan di Papua secara umum dinilai masih kondusif, namun gangguan terjadi di wilayah tertentu yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Pemerintah Provinsi NTT menyatakan terus memantau keadaan dan melakukan komunikasi dengan pihak-pihak terkait di Papua Pegunungan guna memastikan perlindungan bagi warga asal NTT yang bekerja sebagai ASN maupun tenaga lainnya di daerah tersebut.
Johni sebelumnya juga menyampaikan bahwa pemerintah berkomitmen melakukan yang terbaik bagi keluarga warga NTT yang masih berada di Papua dan terdampak situasi keamanan di sana.
Penembakan ASN Dinas Pertanian Jayawijaya
Permintaan sejumlah warga NTT untuk difasilitasi pulang muncul setelah penembakan terhadap tiga ASN Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, di Kampung Muliama, Distrik Muliama, pada Rabu, 9 September 2026 sekitar pukul 15.53 WIT.
Ketiga ASN tersebut adalah Wili Mbuik, Alfonsius Albinus Mehan, dan Aprida Rapi, yang saat kejadian sedang dalam perjalanan dinas meninjau pelaksanaan kegiatan cetak sawah.
Dua korban berasal dari NTT, yaitu Wili Mbuik dari Kabupaten Rote Ndao dan Alfonsius Albinus Mehan dari Kabupaten Sikka. Satu korban lainnya, Aprida Rapi, berasal dari Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
Insiden penembakan tersebut memicu kecaman dari berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat dan daerah. Kementerian Dalam Negeri menyatakan tiga pegawai Pemkab Jayawijaya gugur ditembak kelompok kriminal bersenjata (KKB) saat perjalanan menuju lokasi peninjauan program cetak sawah.
Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz menyebut penyelidikan sementara mengarah pada keterlibatan KKB kelompok Nduga dalam penembakan itu.
Sejumlah media dan aparat keamanan menegaskan tiga ASN Dinas Pertanian Jayawijaya yang menjadi korban adalah warga sipil yang sedang menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat, sehingga berhak atas perlindungan dan keadilan.
Sikap Pemerintah Daerah NTT
Gubernur NTT Melki Laka Lena meminta aparat keamanan segera menangkap pelaku penembakan dan membawa mereka ke proses hukum.
Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma juga mengecam keras penembakan yang merenggut nyawa ASN asal NTT. Ia menilai tindakan tersebut sebagai perbuatan biadab dan tidak manusiawi, serta mendesak aparat keamanan memburu pelaku dan memproses mereka secara adil.
Kecaman serupa disampaikan Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago, yang menuntut negara bertanggung jawab melindungi diaspora NTT dan menindak pelaku penembakan tiga pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya.
Seiring proses penegakan hukum, Pemerintah Provinsi NTT melanjutkan pendataan warga asal NTT di Papua Pegunungan yang menyatakan keinginan pindah atau pulang karena merasa tidak aman, dan menyiapkan langkah koordinasi dengan pemerintah daerah di Papua untuk menjaga keselamatan mereka.
Sumber
Berita berikutnya
Gerindra NTT Usul Perjalanan Dinas DPRD Maksimal Tiga Kali Setahun
Fraksi Partai Gerindra DPRD NTT mengusulkan moratorium dan pembatasan perjalanan dinas luar daerah bagi pimpinan dan anggota DPRD maksimal tiga kali d…
Baca juga


