NTT Hari Ini

Senin, 21 September 2026

Relokasi Penyintas Lewotobi: 500 Huntap Disiapkan di Noboleto

Pemerintah menyiapkan pembangunan hunian tetap bagi warga terdampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki di Flores Timur. Noboleto menjadi salah satu lokasi utama relokasi, dengan target awal sekitar 500 rumah dan dukungan lintas kementerian.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 4 menit baca

Kupang — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan sejumlah kementerian menyiapkan pembangunan hunian tetap bagi warga terdampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, dengan lokasi utama di kawasan Noboleto dan beberapa titik relokasi lainnya.

Dalam rapat koordinasi penanganan pascabencana di Kantor Gubernur NTT, Kupang, pada 22 Mei 2025, Kepala BNPB Suharyanto menyatakan pemerintah akan membangun sekitar 500 rumah bagi warga terdampak erupsi Lewotobi Laki-Laki sebagai bagian dari program relokasi ke hunian tetap yang aman dan layak.

Suharyanto menjelaskan, rumah permanen itu akan dibangun di lahan relokasi yang telah disiapkan pemerintah daerah dan disepakati bersama warga, di luar zona bahaya gunung api. Menurut dia, hunian tetap diprioritaskan agar warga tidak kembali bermukim di kawasan yang berisiko terdampak erupsi.

Lokasi relokasi dan peran lembaga

Pemerintah pusat dan pemerintah Kabupaten Flores Timur menetapkan Noboleto sebagai salah satu lokasi utama hunian tetap bagi penyintas erupsi Lewotobi Laki-Laki. Wakil Bupati Flores Timur Ignasius Boli Uran menyebut lahan di Noboleto telah memiliki surat keputusan penetapan lokasi (SK penlok) sehingga pembangunan hunian tetap segera dikerjakan.

Selain Noboleto, pemerintah juga menyiapkan titik relokasi lain bagi penyintas, antara lain kawasan Botongkarang/Noboleto, Wukoh Lewoloroh di perbatasan Flores Timur–Sikka, dan Kojarobat di Desa Hewa, Flores Timur. Menurut Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, pembangunan hunian sementara dan hunian tetap dilakukan secara bersamaan untuk mempercepat pemulihan warga terdampak.

BNPB menyebut pembangunan hunian tetap akan dilaksanakan oleh Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) sebagai bagian dari tahap rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menangani akses jalan ke lokasi relokasi, sementara Kementerian ATR/BPN memastikan aspek legalitas lahan. PT PLN dan instansi teknis lain mendukung penyediaan listrik dan infrastruktur dasar.

Target dan tahapan pembangunan

Dalam penjelasan BNPB pada Agustus 2025, Suharyanto menegaskan bahwa 500 rumah hunian tetap di Noboleto akan dibangun oleh Kementerian PKP setelah pengerjaan akses jalan ke lokasi tersebut. Ia menyebut pengerjaan hunian tetap di Noboleto sedianya dimulai pada Desember 2025 atau paling lambat Januari 2026, dengan harapan sebagian rumah dapat selesai dan ditempati pada April 2026.

Sementara itu, data BNPB yang disampaikan pada Februari 2026 menyebut pembangunan hunian tetap untuk warga terdampak erupsi Lewotobi Laki-Laki sudah mulai berjalan di empat titik relokasi. Dua lokasi telah memasuki tahap pembangunan, sedangkan dua lokasi lain masih dalam tahap persiapan teknis dan pematangan lahan.

Pembangunan hunian tetap juga berlangsung di kawasan Kuhe, Flores Timur. Laporan lembaga penyiaran publik menyebut hunian tetap tahap pertama di Kuhe, sebanyak 244 unit, ditargetkan rampung pada Juli 2027 dengan dukungan anggaran dari Kementerian PKP.

Pengungsi dan hunian sementara

Menurut BNPB, relokasi permanen didahului penataan hunian sementara bagi warga penyintas. Dalam keterangan Suharyanto pada Mei 2025, dua unit hunian sementara sudah selesai dibangun dan telah dihuni, dan pemerintah mulai memasuki pembangunan tahap ketiga. Data lain menyebut lebih dari 4.000 jiwa pengungsi erupsi Lewotobi direlokasi, dengan rencana total pembangunan sampai 1.000 rumah, di mana 500 unit telah tersedia dan siap huni.

BNPB menekankan bahwa hunian sementara bukan tempat tinggal jangka panjang. Menurut Suharyanto, pemerintah menyiapkan lokasi relokasi ke hunian tetap di Desa Noboleto dan menawarkan skema relokasi mandiri bagi warga, selama lokasi baru berada di kawasan aman dari dampak erupsi.

Pendekatan relokasi dan penerima manfaat

Dalam penjelasan kepada warga di salah satu lokasi hunian sementara pada Agustus 2025, Suharyanto menyatakan relokasi ke hunian tetap dilakukan secara bertahap dan mengutamakan keselamatan warga di radius bahaya. Ia menegaskan penerima bantuan hunian tetap tidak semata-mata berpatok pada status kepala keluarga; korban yang tinggal di zona berbahaya berhak memperoleh rumah, dengan catatan tidak ada praktik manipulasi demi mendapatkan bantuan.

Pemerintah pusat dan daerah menyebut relokasi penyintas Lewotobi sebagai proses jangka panjang yang memerlukan koordinasi lintas kementerian dan partisipasi warga. Penataan ulang permukiman dan pembangunan hunian tetap diharapkan menjadi contoh penanganan bencana gunung api dengan pendekatan rehabilitasi dan rekonstruksi terpadu.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.